<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>:.menabalkan syahwat djiwa, memberahikan kata.:</title>
	<atom:link href="http://rumahkata.net/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahkata.net</link>
	<description></description>
	<pubDate>Thu, 26 May 2011 10:00:39 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Yang Menyapa Tuhan Begitu Akrab</title>
		<link>http://rumahkata.net/?p=712</link>
		<comments>http://rumahkata.net/?p=712#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 May 2011 09:56:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aulia A Muhammad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[kamardunia]]></category>

		<category><![CDATA[ahmad wahib]]></category>

		<category><![CDATA[bentrok]]></category>

		<category><![CDATA[cerdas]]></category>

		<category><![CDATA[diari]]></category>

		<category><![CDATA[djohan effendi]]></category>

		<category><![CDATA[gairah]]></category>

		<category><![CDATA[gereja]]></category>

		<category><![CDATA[intelektual]]></category>

		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<category><![CDATA[liberal]]></category>

		<category><![CDATA[mati]]></category>

		<category><![CDATA[muda]]></category>

		<category><![CDATA[muhammadiyah]]></category>

		<category><![CDATA[nu]]></category>

		<category><![CDATA[nurcholis madjid]]></category>

		<category><![CDATA[pemberontakan]]></category>

		<category><![CDATA[romo]]></category>

		<category><![CDATA[sepi]]></category>

		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<category><![CDATA[wahib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahputih.net/?p=712</guid>
		<description><![CDATA[Malam telah sampai di ujungnya. Di samping ranjang yang reot, lelaki muda, tirus dan kurus, duduk menghadapi bukunya. Beberapa kali matanya memejam, napasnya tampak mengejan, seperti ingin melahirkan. Pena di tangannya digerakkan ke buku tulis itu, tapi ditarikkannya lagi. Setelah membuang napas, tubuhnya membungkuk, menuliskan sesuatu.
15 Juli 1969, Aku belum tahu apakah Islam itu sebenarnya.
Tubuhnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahputih.net/wp-content/uploads/2011/05/ahmad-wahib2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-713" title="ahmad-wahib2" src="http://rumahputih.net/wp-content/uploads/2011/05/ahmad-wahib2.jpg" alt="" width="262" height="407" /></a>Malam telah sampai di ujungnya. Di samping ranjang yang reot, lelaki muda, tirus dan kurus, duduk menghadapi bukunya. Beberapa kali matanya memejam, napasnya tampak mengejan, seperti ingin melahirkan. Pena di tangannya digerakkan ke buku tulis itu, tapi ditarikkannya lagi. Setelah membuang napas, tubuhnya membungkuk, menuliskan sesuatu.</p>
<p><em>15 Juli 1969, Aku belum tahu apakah Islam itu sebenarnya.</em></p>
<p>Tubuhnya menegak. Jemari tangan kirinya bergerak meluruskan rambut ikalnya  yang menjatuhi dahi. Ia menulis lagi.</p>
<p><em>Aku baru tahu Islam menurut HAMKA, Islam menurut Natsir, Islam menurut Abduh, Islam menurut ulama-ulama kuno, menurut Johan, Islam menurut Subki, Islam menurut yang lain. Dan terus-terang aku tidak puas. Yang kucari belum ketemu, belum terdapat, yaitu Islam menurut Allah, pembuatnya.</em></p>
<p><em>Bagaimana? Langsung studi dari Quran dan Sunnah? Akan kucoba. Tapi orang lain pun akan beranggapan yang kudapat adalah Islam menurut aku sendiri. Tapi biar, yang penting adalah keyakinan dalam akal sehatku bahwa yang kupahami itu adalah islam yang menurut Allah.</em></p>
<p><em>Aku harus yakin itu.</em></p>
<p>Lelaki itu tersenyum, bangkit, bergerak, menjatuhkan dirinya di ranjang.</p>
<p>Di luar, embun telah jatuh.</p>
<p>Di Yogya, hampir semua intelektual muda mengenalnya. Pergaulannya luas, dan dengan satu ciri khas, pertanyaan yang menyentuh wilayah tak terpikirkan, mendobrak tabu. &#8220;Ia acap membuat dahi orang lain mengerut. Lebih lagi, apa yang dia persoalkan bagi orang lain adalah sesuatu yang tabu dan telah final,&#8221; kenang Mukti Ali dalam pengantar buku <em>Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib</em>.</p>
<p>Kelebat lelaki itu, Ahmad Wahib, adalah gerak intelektual. Ia penggagas &#8220;Lingkaran Diskusi Limited Group&#8221;, forum Jumatan di rumah Mukti Ali, kompleks IAIN Sunan Kalijaga, Demangan. Anggota inti forum ini adalah intelektual yang bersinar: Dawam rahardjo, Djohan Effendi, Syuba&#8217;ah Asa, Syaifullah Mahyuddin, Djauhari Muslim, Kuntowidjoyo, Syamsuddin Abdullah, Simuh, Rendra, Deliar Noer, sampai Nono Anwar Makarim. Empat yang pertama adalah anggota inti grup itu.</p>
<p>Wahib juga aktivis HMI. Di kelompok mahasiswa islam ini, ia pun menonjol. Kemenonjolan ini, dalam aktivitas dan pemikiran, membuat &#8220;kariernya&#8221; melesat, memasuki &#8220;lingkaran elite&#8221; HMI Yogya, dan Jawa Tengah. Djohan Effendi mengenangnya sebagai sosok yang berani berpendirian dan bersikap beda, malah kadang berlawanan dengan sikap umat dan golongan Islam pada umumnya.</p>
<p>&#8220;Bagi Wahib, komitmen muslim, pertama-tama dan terutama adalah pada nilai-nilai Islam dan bukan pada organisasi Islam atau pun tokoh Islam tertentu,&#8221; kenang Djohan.</p>
<p>Atau dalam kata-kata Wahib, tertanggal 9 Oktober 1969:</p>
<p><em>Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan budha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang memandang dan menilaiku sebagai suatu kemutlakan </em> (absolute entity) <em>tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana aku termasuk serta dari aliran mana saya berangkat.</em></p>
<p><em>Memahami manusia sebagai manusia</em>.</p>
<p><strong>Mengakrabi Tuhan</strong></p>
<p>Ahmad Wahib dilahirkan 9 Nopember 1942 di Sampang, Madura. Lingkungan bergaulnya di masa kanak adalah iklim beragama yang ketat. Ayahnya, Sulaiman, tergolong pemuka agama. Ia sendiri meski tak total, pernah mengecap bangku pesantren.</p>
<p>Namun, keterbukaan ayahnya membuat Wahib bebas memasuki pendidikan umum. Selepas SMA Pamekasan bagian Ilmu Pasti, 1961, ia berangkat ke Yogyakarta. Ia mengambil Fakultas Ilmu Pasti dan Alam (FIPA) UGM. Sayang, meski mengecap sampai tingkat terakhir, ia tak menamatkannya.</p>
<p>Di Yogya, Wahib tinggal di Asrama Mahasiswa Realino, asrama Katolik. Dan dalam pergaulan bersama para Romo dan teman seasrama, ia merasa sangat bahagia. Sampai, &#8220;Aku tak yakin, apakah Tuhan tega memasukkan romoku itu ke neraka,&#8221; tanya dalam buku harian itu.</p>
<p>Di luar HMI, lingkungan pergaulan Wahib sangat luas. Dia akrab dengan AR Baswedan, pendiri partai Arab, Ki Muhammad Tauchid, tokok Taman Siswa, Karkono, mantan anggota PNI, dan dari kalangan muda, Ashadi Siregar, Tahi Simbolon, dan Aini Chalid.</p>
<p>Namun, Baswedan dan Wajiz Anwar yang paling ia akrabi. Di mata Baswedan, ia sosok muda yang mengagumkan. Ia banyak yang tak sepaham dengan pikiran Wahib, tapi ia yakin, pemuda itu sangat jujur dengan pikiran-pikirannya.</p>
<p><em>Tuhan, bisakah aku menerima hukum-Mu tanpa meragukannya lebih dahulu? Karena itu Tuhan, maklumilah lebih dulu bila aku masih ragu akan kebenaran hukum-hukum-Mu. Jika Engkau tak suka hal itu, berilah aku pengertian-pengertian sehingga keraguan itu hilang&#8230;.</em></p>
<p><em>Tuhan, murkakah Engkau bila aku berbicara dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak sendiri yang telah Engkau berikan kpadaku dengan kemampuan bebasnya sekali?&#8230;.</em></p>
<p><em>Tuhan, aku ingin bertanya pada Engkau dalam suasana bebas. Aku percaya, Engkau tidak hanya benci pada ucapan-ucapan yang munafik, tapi juga benci pada pikiran-pikiran yang munafik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak berani memikirkan  yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendir</em>i (9 Juni 1969).</p>
<p>Orang kedua, Wajiz Anwar, adalah dosen filsafat di IAIN Sunan Kalijaga, alumnus Gontor, yang minggat ke Mesir, tapi membelot ke Jerman untuk mendalami filsafat. Sama seperti Wahid, ia juga orang yang sangat getol melempar persoalan yang sangat menggoda pikiran dan mengguncangkan sendi.</p>
<p>Dan karena merasa tak sejalan lagi dengan &#8220;kekakuan&#8221; di HMI, Wahib pun &#8211;bersama Djohan Effendi&#8211; menyatakan ke luar, dengan mengeluarkan &#8220;Memorandum Pembaharuan dan Kekaderan&#8221;. Ia ingin mencari dunia yang lebih memberi arti pada keberbedaan.</p>
<p>Berada di luar HMI, pikiran liar Wahib kian menguar. Ia mengkritisi &#8220;sekularisasi&#8221; yang dipopulerkan Nurcholis Madjid, mengkritik Mukti Ali, dan kian tajam dalam perenungan-perenungan. Namun, dunia kerja memintanya ke Jakarta. Menjadi reporter <em>Tempo</em>, kuliah di STF Driyarkara, dan aktif berdiskusi di rumah Dawam Rahardjo.</p>
<p>Namun, Tuhan yang acap diajak Wahid berdiskusi, ternyata tak kuat menahan rindu. 31 Maret 1973, tengah malam, ketika ke luar dari kantor <em>Tempo</em>, sebuah sepeda motor menerjangnya. Ia terlempar, dan dalam keadaan tak sadar, kaum gelandanganlah yang membopong tubuh lunglainya ke RS Gatot Subroto. Sayang, lukanya sangat parah, dan dalam perjalanan pemindahan ke RSUP, ia menghembuskan napas terakhir.</p>
<p>&#8220;Subuh 1 April 1973, Amidhan, dengan suara terputus menahan tangis mengabarkan kepergiannuya kepada saya. Di sebelahnya, seingat saya, Nurcholis Madjid diam tak mampu bersuara,&#8221; kenang Djohan.</p>
<p>Semua sahabat menyesali kepergian Wahid yang terlalu cepat. Tapi Wahid sendiri, mungkin telah lama merindukannya:</p>
<p><em>Tuhan, aku menghadap padamu bukan hanya di saat-saat aku cinta padamu, tapi juga di saat-saat aku tak cinta dan tidak mengerti tentang dirimu, di saat-saat aku seolah-olah mau memberontak terhadap kekuasaanmu. Dengan demikian Rabbi, aku berharap cintaku padamu akan pulih kembali..</em>.</p>
<p>Begitulah tulis Wahib, dalam 17 buku catatan harian, yang tersusun rapi di kamar sempit, di gang sempit, Kebon Kacang I/12. Catatan harian yang kemudian diterbitkan LP3ES, yang sempat dilarang beredar karena dikhawatirkan telah &#8220;menyempal dari akidah Islam&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkata.net/?feed=rss2&amp;p=712</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Anang dan Kemenangan Ingatan</title>
		<link>http://rumahkata.net/?p=708</link>
		<comments>http://rumahkata.net/?p=708#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 May 2011 09:25:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aulia A Muhammad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[mengeja hari]]></category>

		<category><![CDATA[serambikisah]]></category>

		<category><![CDATA[Anang]]></category>

		<category><![CDATA[artis]]></category>

		<category><![CDATA[ashanti]]></category>

		<category><![CDATA[asmara]]></category>

		<category><![CDATA[aurel]]></category>

		<category><![CDATA[benci]]></category>

		<category><![CDATA[cemburu]]></category>

		<category><![CDATA[cerai tumbu]]></category>

		<category><![CDATA[dendam]]></category>

		<category><![CDATA[krisdayanti]]></category>

		<category><![CDATA[lagu]]></category>

		<category><![CDATA[pepatah]]></category>

		<category><![CDATA[populer]]></category>

		<category><![CDATA[publik]]></category>

		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<category><![CDATA[syahrini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahputih.net/?p=708</guid>
		<description><![CDATA[Anang, barangkali, sudah disuratkan untuk selalu jadi pemenang. Dan Syahrini terlambat menyadari hal itu, ketika telah terlanjur menabuh genderang &#8221;perang&#8221;. Maka, ibarat permainan catur, bidak tak pernah bisa melangkah mundur, Syahrini, terutama manajer dan adiknya Aisyahrani, terus menembakkan amunisi, hanya sebagai tanda, mereka belum menyerah.
Kata menyerah sebenarnya tak terlalu tepat untuk kondisi semacam ini. Perang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahputih.net/wp-content/uploads/2011/05/anang-ashanty.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-709" title="anang-ashanty" src="http://rumahputih.net/wp-content/uploads/2011/05/anang-ashanty.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Anang, barangkali, sudah disuratkan untuk selalu jadi pemenang. Dan Syahrini terlambat menyadari hal itu, ketika telah terlanjur menabuh genderang &#8221;perang&#8221;. Maka, ibarat permainan catur, bidak tak pernah bisa melangkah mundur, Syahrini, terutama manajer dan adiknya Aisyahrani, terus menembakkan amunisi, hanya sebagai tanda, mereka belum menyerah.</p>
<p>Kata menyerah sebenarnya tak terlalu tepat untuk kondisi semacam ini. Perang antarmereka sebenarnya bukan di medan yang mereka kuasai. Anang dan Syahrini, berperang di arena yang dikuasai orang ramai: pemirsa. Di antara pemirsa itu ada penggemar keduanya, yang fanatik, dan yang apatis. Tapi yang paling utama dan menentukan arah perang itu adalah pemirsa yang punya ingatan, tahu kesejarahan duet Anang-Syahrini.</p>
<p>Dan karena itulah, Syahrini tak akan pernah bisa menang.</p>
<p>Dalam ingatan banyak orang, Anang bukanlah sosok yang kini dituduhkan pihak Syahrini. Mantan suami Krisdayanti itu sudah terlalu dalam masuk ke memori banyak orang sebagai lelaki yang humble, tenang, dan matang. Anang tak pernah terlihat emosional, dan selalu menjaga bicara, meski dengan diksi yang terlalu biasa. Ia pria yang sederhana, dan melihat masalah dengan cara yang sederhana, mempersempit konflik, mengusahakan kesepahaman, dan menjadikan diri sebagai tameng untuk orang yang dia sayang.</p>
<p>&#8221;Jika Yanti melakukan kesalahan, saya minta maaf. Sebagai suami, sayalah yang pertama-tama bersalah&#8230;&#8221; itulah ucapannya, ketika KD tersangkut gosip selingkuh dengan Tohpati.</p>
<p>Ketika KD tersangkut narkoba, seperti pengakuan sang diva itu, Anang juga yang &#8221;mengobatinya&#8221; di sebuah pesantren di Jawa Timur, diam-diam, tanpa amarah, tanpa menyalahkan. Anang selalu menjadikan dirinya sebagai imam, pemimpin, dan KD adalah makmumnya. Jika makmum menyimpang, bagi Anang, sang imam yang pertama kali mendapat teguran.</p>
<p>Dan ketika KD berkhianat lagi, lagi, Anang memilih cara yang paling elegan, melepaskan ikatan perimaman tersebut, bercerai. Nyaris tanpa kemarahan ke media, bahkan tanpa aduan, apalagi ungkitan tentang jasa dan kesakitannya &#8221;mengurus&#8221; dan &#8221;mendivakan&#8221; KD.</p>
<p>&#8221;Saya dan Anang itu klop, ibarat tumbu ketemu tutup,&#8221; bangga KD, dulu.</p>
<p>Sebagai &#8221;tutup&#8221;, Anang memang &#8221;bertugas&#8221; menyimpan, merahasiakan. Dan jika pun tak mampu menahan, dia dapat bersuara, berkata, dengan isyarat, dengan makna yang bertingkat. Tidak frontal, emosional, apalagi menyerang-garang. Itulah sebabnya, ketika sang tumbu mencampakkan tutup, Anang hanya bersuara, merintih, rasa sakit yang dia bungkus dengan indah, &#8221;Sepatuh Jiwaku Pergi&#8221; dan &#8221;Jangan Memilih Aku&#8221; atau &#8221;Tanpa Bintang&#8221;.</p>
<p>Sikap Anang itu telah membuat penonton berada di pihaknya. Anang seakan menjadi anomali dalam dunia industri, yang populer dengan menyebar sensasi, kadang gosip racauan-racauan kontroversial. Meski kemudian Anang masuk pada jualan &#8221;kemesraan&#8221;, tetap saja gaya &#8221;malu-malu&#8221; yang menjengkelkan penggemarnya itu, menjadi tali komunikasi paling kuat menjelaskan &#8221;kesederhanaannya&#8221;. Justru di titik itu, Syahrini mengendali sebagai sosok yang glamour, acap memberi &#8221;tekanan&#8221; pada kemesraan mereka, dan memberikan diksi-diksi penguatan sosok Anang dalam hidupnya.</p>
<p>&#8221;Saat ini Mas Anang memang orang yang paling berjasa dalam karier bermusik saya. Tanpa Mas Anang, Syahrini tidak mungkin akan seperti sekarang ini,&#8221; akunya, jujur, tulus, spontan.</p>
<p>Lalu Anang-Syahrini yang begitu fenomenal, sampai membuat fans berharap mereka berpacaran dan kemudian kawin, pecah kongsi. Syahrini memilih berkarier sendiri, karena Anang berduet dengan Aurel, dan kemudian Ashanty, yang lalu menempel sebagai kekasih. Dan, sikap Syahrini mulai berubah, setidaknya itulah yang tayang di berbagai infotainmen. Komentarnya mulai pedas, dengan diksi yang penuh sindiran, dan sunggingan senyum, yang dapat dibaca sebagai sikap ketakpuasan, bahkan cibiran. Puncaknya, dengan yakin dia mengatakan posisi yang dia raih selama ini bukan campur tangan orang lain, tapi atas pemberian Tuhan atas kerja kerasnya.</p>
<p>Syahrini mulai menghapus kehadiran Anang. Dia mulai membawa nama Tuhan, bukan untuk mengagungkan Sang Pencipta, tapi sebagai bemper atas argumentasinya untuk &#8221;mengusir&#8221; peran Anang. Dan kemudian, terutama lewat adiknya, &#8221;cacat&#8221; Anang dia ungkap, dan tak lupa membombastiskan keluguan dirinya. &#8221;Dengan Anang itu proyek ikhlas&#8230;&#8221; katanya, menyebut ketiadaan bukti hitam-putih kerja sama.</p>
<p>Anang, seperti biasa, selalu mendiamkan hal-hal seperti itu. Dia bicara, seperlunya, santai, ringan, bahkan tertawa-tawa. Lucunya, dia justru merasa bangga pernah bekerja sama dengan Syahrini, seperti dia dulu juga amat bangga pernah hidup sebagai suami bersama KD. Bayangkan! Anang, dengan lugas mengakui, Syahrini telah membantunya meraih popularitas, dan itu sebuah kerja yang luar biasa.</p>
<p>Anang memang lahir untuk jadi pemenang. Bukan karena dia punya banyak strategi, melainkan dia menguasai hati dan ingatan banyak orang. Memori khalayak yang tak pernah dia rusak itulah modal terbesar Anang untuk dengan diam dan senyum, sudah dapat menangkal berbagai tuduhan. Apalagi, Anang terlihat begitu percaya diri, tak risau, atas tuduhan itu. &#8221;Semua kontrak ada, bukti ada&#8230;&#8221;</p>
<p>Syahrini barangkali tahu Anang tak akan banyak bicara dan membela diri. Sebagai pasangan duet yang bersama nyaris setahun, dia tahu &#8221;kelemahan&#8221; Anang itu, yang tak suka pamer diri di luar karya. Maka, Syahrini ingin &#8221;menguasai&#8221; media, menginfiltrasi citra Anang dengan cara yang sama, mencipta lagu sebagai manifestasi kesakitan hatinya, &#8221;Kau yang Memilih Aku&#8221;. Namun, dia lupa ada Hadi Sunyoto, manager Anang, yang berani bersuara, dan juga ikut menabuh genderang.Hadi, sosok yang Syahrini abaikan ini, sebenarnya adalah personifikasi dari penonton, pengemar, yang punya ingatan, yang mengerti sejarah Syahrini, tahu betul siapa Anang.</p>
<p>Dan di depan penonton dan penggemar yang punya ingatan, Syahrini sulit untuk memenangi perang. Arena yang dia masuki adalah milik orang banyak, memori yang telah sekian lama dibangun Anang, bahkan sebelum Syahrini jadi penyanyi. Tak heran jika dia jadi tergagap-gagap, terus bersuara, hanya untuk meyakinkan media bahwa mereka berani, ada, meski kemenangan dan &#8221;kebenaran&#8221; kian jauh dari genggaman. Bidak memang tak mungkin melangkah mundur, meski mungkin hancur&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkata.net/?feed=rss2&amp;p=708</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Melawan Normalitas Kebangsawanan</title>
		<link>http://rumahkata.net/?p=706</link>
		<comments>http://rumahkata.net/?p=706#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 May 2011 07:23:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aulia A Muhammad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[kamardunia]]></category>

		<category><![CDATA[bangsawan]]></category>

		<category><![CDATA[britania raya]]></category>

		<category><![CDATA[elegi]]></category>

		<category><![CDATA[imaji]]></category>

		<category><![CDATA[jadul]]></category>

		<category><![CDATA[jane austen]]></category>

		<category><![CDATA[khayal]]></category>

		<category><![CDATA[kolonial]]></category>

		<category><![CDATA[mbohlah]]></category>

		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahputih.net/?p=706</guid>
		<description><![CDATA[Dari abad kedelapan belas, dunia mencatat kisah gemilang dari tanah Britania lewat  mata Daniel Defoe melalui novel Robinson Cruse, Samuel Richardson, dan Henry Fielding. Karya mereka indah, menakjubkan, penuh dengan petualangan dan imaji yang menggeletarkan.
Namun, ada kritik yang cukup tajam atas &#8220;imajinasi&#8221; mereka, yakni selalu mendasarkan cerita pada harapan &#8220;orang kebanyakan&#8221;, mimpi dan petualangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahputih.net/wp-content/uploads/2011/05/jane-austen.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-704" title="jane-austen" src="http://rumahputih.net/wp-content/uploads/2011/05/jane-austen-300x176.jpg" alt="" width="300" height="176" /></a>Dari abad kedelapan belas, dunia mencatat kisah gemilang dari tanah Britania lewat  mata Daniel Defoe melalui novel <em>Robinson Cruse</em>, Samuel Richardson, dan Henry Fielding. Karya mereka indah, menakjubkan, penuh dengan petualangan dan imaji yang menggeletarkan.</p>
<p>Namun, ada kritik yang cukup tajam atas &#8220;imajinasi&#8221; mereka, yakni selalu mendasarkan cerita pada harapan &#8220;orang kebanyakan&#8221;, mimpi dan petualangan penjajah ke daerah lain, realitas yang telah dijinakkan. Mereka, para pengarang abad itu, terselamatkan dari kritik yang tajam itu hanya karena seorang Jane Austen, yang berdiri di luar pagar arus utama saat itu, mencoba memaparkan sebuah cerita yang dekat-dekat saja dengan pengalamannya, bukan mimpi atau semangat penaklukan, bukan heroisme, bahkan lebih semacam igau kepedihan, namun menyentuh, dan dekat, teramat dekat dengan kenyataan.</p>
<p>Pada sosok Jane Austen-lah para kritikus menemukan semangat modern, naluri untuk mengkritisi semangat zaman, bukan semacam penganggukan atau pemberhalaan pada budaya yang melingkupinya. Melalui enam novelnya, <em>Sense and Sensibility, Pride and Prejudice, Mansfield Park, Emma, Northanger Abbey</em> dan <em>Persuasion</em>, ia mencoba meletakkan diri sebagai kaca pembesar yang menampilkan renik-renik ekses konflik masyarakat kelas menengah saat itu, lengkap dengan kisah lucu dan tragis.</p>
<p>Selalu mengambil <em>setting</em> kehidupan masyarakat bangsawan, novel komedi-tragedi yang ia tulis didominasi kisah pencarian jatidiri seorang gadis muda, yang untuk zaman itu pun, sudah tak lazim, mendudukkan posisi seorang wanita dalam sebuah konflik masyarakat, tertekan dan melawan, menggugat dan terkalahkan, dalam gerak masyarakat yang amat mengokohi tradisi dan kehormatan status.</p>
<p><strong>Juru Cerita Tragedi Wanita</strong></p>
<p>Jane Austen (1775-1817) menulis di usia yang sangat muda, 12 tahun, ketika mendapat dorongan dari ayahnya yang seorang agamawan dan guru yang berpikiran progresif, untuk mendalami kesusasteraan. Maka, dunia kanaknya pun dipenuhi pengembaraan dalam imajinasi liar, pejal dan luas dari pengarang dunia, tenggelam dalam puisi, naskah drama, novelet dan prosa, dan mencoba mengungkapkan ketidakpuasan atas pembacaan itu dalam bentuk cerita.</p>
<p>Di usia 18 tahun, sekitar 1793, manuskrip dari serpihan cerita-ceritanya dikumpulkan menjadi tiga bundel, dan menunjukkan satu kesan yang sangat jelas, Jane muda amat terpesona pada parodi yang begitu dominan menguasai cerita-cerita romatik kala itu. Namun, parodi ini tak terlalu lama memesonanya.</p>
<p>Setahun kemudian, ia mulai tertarik dengan tragedi, terutama yang menyangkut ketertekanan wanita. Ia lalu menulis keputusasaan seorang wanita dalam kukungan tradisi. Karena masih sulit mencari bentuk ungkap, Jane masih menulis novelet itu dalam bentuk surat kepada sahabatnya Lady Susan. Cara ini ia anggap sebuah teknik yang lebih menggampangkannya mengungkapkan pikiran dan gagasan tanpa takut terjadi reduksi yang parah. Sayang, baru setengah abad setelah kematiannya novelet-surat ini diterbitkan.</p>
<p>Namun, kemudian Jane mengambil garis tegas, mulai gemar menampilkan perempuan yang pada masa itu danggap sangat maskulin dan menentang arus, sebagai tokoh yang mengambil peran penyampai gagasannya.</p>
<p>Sikap kontroversial itu juga ditunjukkan Jane dalam kehidupan pribadinya. Di usia 23 tahun, ia mengikuti kehendak orang tuanya untuk menikah dengan Harris Bigg-Whither, bangsawan kaya dari Hampshire. Namun, sehari sebelum &#8220;ijab-kabul&#8221;, Jane membatalkan pernikahan itu, sebuah tindakan yang amat berani. Sikap ini ia tempuh karena &#8220;tak bisa mengkhianati perasaan cintanya pada kekasih pertama&#8221;. Sebelumnya, Jane memang pernah berpacaran, namun tak langgeng karena kekasihnya itu mati muda. Jane merasa harus tetap mempertahankan kesucian cinta mereka, dengan tak akan menikah untuk seumur hidupnya. Pilihan yang juga teramat berani saat itu. Banyak yang melihat, riwayat cinta yang pedih  &#8211;juga agung&#8211; ini yang menjadi dasar watak tokoh perempuan dalam setiap novelnya.</p>
<p>Novel pertamanya, <em>Sense and Sensibility</em> yang ia tulis sebagai surat antara dua tokoh wanita Elinor dan Marrianne &#8211;yang menjadi nama lain novel ini&#8211; terbit pada tahun 1795. Namun pasar belum bereaksi. Dua tahun kemudian, ia juga menyelesaikan versi pertama dari novel populernya, <em>Pride and Prejudice</em>, yang saat itu lebih dikenal dengan judul <em>First Impression</em>. Namun, tak ada juga penerbit yang tertarik. Sang ayah yang sangat mendukung profesi anaknya, menyurati penerbit-penerbit di London, dan tak ada jawaban. Gagal! Tapi Jane tak berhanti menulis.</p>
<p>Jane tak putus asa. Lima tahun kemudian, cahaya itu datang. Seorang agen penerbitan Richard Crosby membeli novelnya, <em>Susan</em> &#8211;kini dikenal sebagai <em>Northanger Abbey</em>&#8211; seharga sepuluh Pound, namun tetap saja karya itu tak juga diterbitkan.</p>
<p>Baru sewindu kemudian karyanya muncul di pasar, tepatnya di tahun 1811, dan ia menyiasati dengan tak mencantumkan nama aslinya sebagai penulis. Setelah mendapatkan ulasan yang positif, ia berani memakai nama asli, dan memang meraih popularitas yang hebat, membanjiri pasar, menjalani cetak ulang, bahkan menjadi incaran penerbit hingga sampai ke luar Inggris. Bahkan Pangeran Regent &#8211;kelak menjadi Raja George IV&#8211; dikenal sebagai penggemar berat Austen.</p>
<p>Saat sedang di puncak popularitas, ia mulai sakit-sakitan. Para dokter mendiagnosa ada yang salah dengan empedunya. Kelak, ternyata pengarang ini terkena penyakit Adisson, yang saat itu belum dikenali. Namun, meski sakit, ia tetap menulis novel terakhinya, <em>Sandition</em>, sampai rumah sakit tak dapat lagi ia tinggalkan. Sebulan di rawat intensif, dokter bedah yang selalu memantaunya tak dapat melawan maut yang telah sabar menjemput, dan ia rubuh. Jane dimakamkan di Katedral Winchester. Novelnya yang setengah jadi itu tetap diterbitkan, dan dijadikan simbol sebuah semangat penciptaan, sebuah kecintaan pada kerja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkata.net/?feed=rss2&amp;p=706</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>merindu mei</title>
		<link>http://rumahkata.net/?p=699</link>
		<comments>http://rumahkata.net/?p=699#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 May 2011 06:31:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aulia A Muhammad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[bilikasmara]]></category>

		<category><![CDATA[amorfati]]></category>

		<category><![CDATA[dera]]></category>

		<category><![CDATA[igau]]></category>

		<category><![CDATA[kacau]]></category>

		<category><![CDATA[kangen]]></category>

		<category><![CDATA[kehilangan]]></category>

		<category><![CDATA[luka]]></category>

		<category><![CDATA[mei]]></category>

		<category><![CDATA[mentari]]></category>

		<category><![CDATA[nasib]]></category>

		<category><![CDATA[pedih]]></category>

		<category><![CDATA[pisau]]></category>

		<category><![CDATA[rindu]]></category>

		<category><![CDATA[sepi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahputih.net/?p=699</guid>
		<description><![CDATA[di musim penghujan ini mei, randu hutan pun memekarkan kapasnya, dengan wangi yang kurasakan pernah kucium di kulit bahumu. kamu ingat, mengapa aku memanggilmu mei?
karena kita bertemu di bulan mei, di kala mentari masih malu melihat bahu kita yang telanjang. lalu kita tahu, mei itu jadi penghabisan kita bertemu.
lalu kau menghilang, seperti senja. dan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><a href="http://rumahputih.net/wp-content/uploads/2011/05/mei.jpg"><img class="size-full wp-image-700 alignleft" title="mei" src="http://rumahputih.net/wp-content/uploads/2011/05/mei.jpg" alt="" width="260" height="180" /></a>di musim penghujan ini mei, randu hutan pun memekarkan kapasnya, dengan wangi yang kurasakan pernah kucium di kulit bahumu. kamu ingat, mengapa aku memanggilmu mei?</span></p>
<p>karena kita bertemu di bulan mei, di kala mentari masih malu melihat bahu kita yang telanjang. lalu kita tahu, mei itu jadi penghabisan kita bertemu.</p>
<p>lalu kau menghilang, seperti senja. dan di bulan mei tahun berikutnya, kau datang lagi. dengan bau yang sama.</p>
<p>&#8221;mei itu abadi bagi kita&#8230;&#8221; bisikmu, di sela ayunan tubuh kita.</p>
<p>tapi, apakah yang abadi, mei? cuma bulan, cuma jumpa, cuma ingin. bukan milik.</p>
<p>ya, engkau milik yang lain. bukan aku. kau milik dia yang menguasai januari sampai desembermu, tanpa mei. karena di mei, kau &#8221;milikku&#8221;.</p>
<p>&#8221;tidakkah engkau dapat puas hanya dengan begitu?&#8221; pintamu.</p>
<p>puas mei? bagaimana aku bisa puas dengan sebelas bulan yang kubayangkan seperti jarum menyusup di kulitku. kau tanpa kabar, tanpa alamat. padahal, setiap saat, dapat kucium tubuhmu, dengan bau yang membuatku cemburu. kepalaku mei, tak pernah alpa mengiangkan namamu. imajinasiku selalu kembara antara berharap bertemu dan ingin sudah. aku terpenjara dalam rasa yang ambigu, merindu tapi takut jumpa.</p>
<p>di kamarku mei, kamu tahu, tak ada kalender dengan 12 bulan itu. hanya ada satu bulan, bulan kamu. karena telah lama kukhayalkan, jika setiap bulan adalah mei, tentu kita tak haus begini. tapi, di luar kamar, tetap saja bulan berputar tak seperti mauku. kau hanya hadir di pagi mei, mengetuk kamarku, dan melesat seperti mentari yang acap mencium bahu telanjangku, seperti di gigir pantai awal kita bertemu.</p>
<p>&#8221;telah kurangkum setahun ini di dalam diriku, ambillah&#8230;&#8221; bisikmu.</p>
<p><em>mei, engkau hanya kumiliki dalam malam. separo impian, selebihnya igauan.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkata.net/?feed=rss2&amp;p=699</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Udin Tengu dan Gajah KPI</title>
		<link>http://rumahkata.net/?p=669</link>
		<comments>http://rumahkata.net/?p=669#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Apr 2011 09:04:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aulia A Muhammad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[dapurbudaya]]></category>

		<category><![CDATA[membaca teve]]></category>

		<category><![CDATA[adorno]]></category>

		<category><![CDATA[barthes]]></category>

		<category><![CDATA[cosby]]></category>

		<category><![CDATA[gajah]]></category>

		<category><![CDATA[humor]]></category>

		<category><![CDATA[kpi]]></category>

		<category><![CDATA[lagu]]></category>

		<category><![CDATA[mahatma gandhi]]></category>

		<category><![CDATA[MUI]]></category>

		<category><![CDATA[pop]]></category>

		<category><![CDATA[siti nurhaliza]]></category>

		<category><![CDATA[udin sedunie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahputih.net/?p=669</guid>
		<description><![CDATA[Dalam humor, kita tahu, Bill Cosby dan Mahatma Gandhi dapat &#8221;bertemu&#8221;. &#8221;You can turn painful situations around through laughter. If you can find humor in anything, even poverty, you can survive it,&#8221; kata Cosby. &#8221;Apabila tidak memiliki selera humor, pasti telah lama saya bunuh diri,&#8221; timpal Gandhi.
Tapi, disebabkan humor juga, banyak orang yang berpisah jalan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahputih.net/wp-content/uploads/2011/04/udin-sedunia.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-670" title="udin-sedunia" src="http://rumahputih.net/wp-content/uploads/2011/04/udin-sedunia-300x207.jpg" alt="" width="300" height="207" /></a>Dalam humor, kita tahu, Bill Cosby dan Mahatma Gandhi dapat &#8221;bertemu&#8221;. &#8221;<em>You can turn painful situations around through laughter. If you can find humor in anything, even poverty, you can survive it</em>,&#8221; kata Cosby. &#8221;Apabila tidak memiliki selera humor, pasti telah lama saya bunuh diri,&#8221; timpal Gandhi.</p>
<p>Tapi, disebabkan humor juga, banyak orang yang berpisah jalan, dan merentang pertikaian. Sualuddin dan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Nusa Tenggara Barat (KPI) misalnya, bersilang kata soal mana yang lucu dan apa yang menghina.</p>
<p>Sualuddin, penyanyi lagu &#8221;Udin Sedunie&#8221; yang populer lewat <em>You Tub</em>e, dan kemudian &#8221;dijual&#8221; <em>SCTV </em> itu, memang merekam lagunya dengan maksud melucu, bercanda, bahkan dengan gaya yang konyol dan <em>lebay</em>. Sebuah sikap atau cara, yang seperti kata Cosby, menghumori segala hal, termasuk namanya, untuk mengubah dirinya. Namun, KPI yang didukung Majelis Ulama Indonesia Nusa Tenggara Barat dan pemuka agama setempat punya cara nalar yang berbeda. Tiga nama Udin di dalam lagu &#8221;Udin Sedunie&#8221; itu, mereka nilai tak sopan dan berkonotasi negatif, bahkan melanggar Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang penyiaran terutama pasal 36. Lagu itu dianggap tak sesuai dengan isi siaran yang dilarang memperolokkan, merendahkan, melecehkan, dan/atau mengabaikan nilai-nilai agama serta martabat manusia Indonesia.</p>
<p>&#8221;Radio dan televisi di NTB maupun di Jakarta dilarang menyiarkan yang ada tiga kata itu,&#8221; tegas Wakil Ketua KPI NTB, Sukri Aruman.</p>
<p>Seperti dicatat <em>Tempo</em>, tiga nama yang mereka larang dinyanyikan adalah Syarafudin (udin yang stres), Sapiudin (Udin yang suka menggembala sapi), dan Tahirudin (Udin yang senang berada di WC). &#8221;Ada unsur melecehkan orang yang bernama Udin,&#8221; yakin Sukri.</p>
<p>Tuduhan yang serius, memang. Dan Sukri memiliki landasan, Undang-Undang. Tapi, sebagai produk orang-orang pintar &#8211;mengutip kata Ketua DPR Marzuki Ali&#8211; UU Penyiaran itu terlalu berlebihan dilawankan dengan karya Udin yang, maaf, seperti kata Marzuki lagi, rakyat biasa yang tak mengerti pikiran orang pintar. Ibarat pribahasa, melawankan gajah dengan tengu.</p>
<p>Tapi tak apalah, sementara ini, kita anggap saja tiga nama itu memang melecehkan. Udin, sebagai identitas, memang punya makna, arti, maksud, dan setiap nama adalah doa. Masalahnya, dan ini yang barangkali tak disadari Sukri KPI dan MUI, identitas itu bukan sebuah wilayah yang <em>ajeg</em>, diam, dan selesai. Identitas, seperti kata Jonathan Rutherford dalam <em>Identity: Community, Culture, Difference</em>, adalah mata rantai masa lalu dengan hubungan sosial, kultural, dan ekonomi di dalam ruang dan waktu suatu masyarakat. Identitas itu dimiliki bersama, disepakati, sebagai pembeda. Dan karena terbentuk dalam hubungan sosial, identitas itu dipelihara sekaligus amat mungkin dimodifikasi. Dan karena itu, menurut Stuart Hall, sebagaimana dikutip Rutherford  dalam buku yang sama, &#8221;Identitas itu tidak pernah sempurna, selalu dalam proses&#8230;&#8221;</p>
<p>Ketaksempurnaan itu, ketika bergerak dalam proses itu, identitas selalu cair dan mengambang, tak terpihaki (<em>undecidable</em>). &#8221;&#8230;setiap orang lalu kehilangan orisinalitas identitas,&#8221; kata Baudrillard dalam <em>Americ</em>a, dan terdiferensiasi. Identitas menjadi sesuatu yang profan, ringan, dan dapat dipertukarmaknakan.</p>
<p>Barangkali, dalam kaitan itulah lagu &#8221;Udin Sedunie&#8221; layak ditempatkan.</p>
<p>Udin sebagai nama terambangkan dalam proses sebagaimana &#8221;mekanisme pasar&#8221;, bukan menciptakan eksklusivitas pemaknaan melainkan sarana kesenangan, permainan, dan kenikmatan, yang dalam bahasa Barthes, <em>jouissance</em>. Nama Udin dengan segala variannya itu hadir dalam ketakbermaknaan (<em>meaningles</em>s) dan sekadar mencari efek esktasi ujaran, untuk tertawa, dalam gembira, penuh canda.</p>
<p>&#8221;Lagu itu sekadar untuk menghibur. Keluarga saya sendiri banyak yang bernama Udin. Adik saya bernama Awaludin, dan kakak ipar saya Akhirudin,&#8221; terang Sualudin. &#8221;Bahkan yang bernama Tahirudin juga minta agar namanya dimasukkan.&#8221; Nah!</p>
<p>Humor dengan demikian, bukan sesuatu yang menakutkan dan atau melecehkan. Mark Twain bilang, &#8221;<em>Humor is mankind&#8217;s greatest blessin</em>g.&#8221; Sebagai rahmat, humor pasti memberi manfaat, bukan laknat. Dan itu juga yang tak disadari KPI, pun MUI. Sebagai rahmat, seharusnya, lagu &#8221;Udin Sedunie&#8221; dapat diberi tubuh, atau ruh, untuk digerakkan dalam kemanfaatan yang lebih luas. Identitas Udin dengan berbagai varian itu seharusnya dapat menginspirasi penciptaan teritori baru untuk maksud yang lebih luas. Daripada berkubang dengan &#8221;makna pelecehan&#8221;, MUI dan KPI dapat membuat &#8221;makna syiar&#8221;, dengan memanfaatkan medium yang sudah populer itu. Apalagi, sepeti kata Adorno dalam &#8221;On Popular Music&#8221;, sekali sebuah lagu populer, maka lagu itu akan dieksploitasi hingga mengalami kelelahan komersial. Dan hal itu dapat terjadi karena sebuah lagu pop selalu bersifat mekanis, yang detail tertentu bisa diganti dari satu bagian ke bagian lain tanpa efek apa pun dan tak mengubah keseluruhan.</p>
<p>Udin misalnya, memainkan &#8221;teori&#8221; Adorno itu, dengan mempingpong makna baru, dalam tiap lagunya. Dia pernah memasukkan Nasiudin untuk Udin yang suka makan nasi, dan, ini sembari tergelak, menyebut Jaheudin sebagai Udin yang suka minuman pedas, di acara &#8221;Inbox&#8221; <em>SCTV</em>. Bahkan Andhika serta Gading Martin, <em>host</em> acara musik itu, menimpali dengan menyubutkan nama-nama Udin yang membuat penonton terpingkal-pingkal. MUI misalnya, bisa meminta Udin memasukkan nama Khatamudin, sebagai Udin yang suka mengkhatamkan Quran, atau Sunatudin, Udin yang suka mengerjakan sunah nabi. Apalagi, lagu itu pun telah memberi contoh dengan Alimudin, si Udin yang suka pergi ke masjid.</p>
<p>Dalam kasus inilah kita melihat humor telah dijadikan KPI dan MUI sebagai alat untuk meneguhkan kekuasaan, seakan tertawa sama nilainya dengan syariat yang harus dijaga kesuciannya. Humor tidak ditempatkan sebagai rahmat, yang membuat orang seperti Sualuddin memperoleh nasib yang jauh lebih baik. Padahal KPI semestinya dapat berlaku rileks saja, tertawa mendengar pacar si Udin yang telah lahir, si Siti, &#8221;Siti yang suka bernyanyi namanya Siti Nurhaliza. Siti yang senang berdoa namanya Siti Aminah, Siti yang <em>ngenyang</em> setiap belanja namanya Siti Munawarah.&#8221;  Atau <em>guyonan</em> yang lebih kacau lagi, &#8221;Siti yang suka tinju namanya Sitison, Siti yang takut kucing namanya Sitikus, dan Siti yang suka jalan-jalan, namanya Siti Walk, serta Siti yang kurang ajar suka nipu-nipu dan bentak-bentak, namanya Sitibank.&#8221;</p>
<p>&#8221;Humor merupakan sesuatu yang tumbuh subur di antara aspirasi manusia dan keterbatasannya,&#8221; bisik  pianis dan komedian Denmark Victor Borge,  &#8221;Ada lebih banyak logika pada humor dibanding hal-hal lainnya.&#8221; Apalagi, kita tentu tak ingin, seperti kata jurnalis Amerika Erma Bombeck, &#8221;<em>When humor goes, there goes civilization</em>, ketika humor lenyap, hilang jugalah peradaban.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkata.net/?feed=rss2&amp;p=669</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Malinda Dee &#038; Metafora Dada</title>
		<link>http://rumahkata.net/?p=677</link>
		<comments>http://rumahkata.net/?p=677#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 09:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aulia A Muhammad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[dapurbudaya]]></category>

		<category><![CDATA[membaca teve]]></category>

		<category><![CDATA[andhika gumilang]]></category>

		<category><![CDATA[cantik]]></category>

		<category><![CDATA[city bank]]></category>

		<category><![CDATA[dada plastik]]></category>

		<category><![CDATA[infotainmen]]></category>

		<category><![CDATA[inong malinda]]></category>

		<category><![CDATA[malinda dee]]></category>

		<category><![CDATA[operasi]]></category>

		<category><![CDATA[palsu]]></category>

		<category><![CDATA[penjara]]></category>

		<category><![CDATA[seksi]]></category>

		<category><![CDATA[tante]]></category>

		<category><![CDATA[tempo]]></category>

		<category><![CDATA[tipu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahputih.net/?p=677</guid>
		<description><![CDATA[Malinda Dee bukan selebriti, dan apa pun tingkahnya, seharusnya infotainmen bisa mengabaikannya. Tapi ternyata tidak. Infotainmen tetap menggelar kasus MD, dan pasti bukan semata karena kecerdasan kriminalitasnya. Memang, ada kehadiran Andhika Gumilang, bintang film dan iklan, yang bisa dijadikan newspeg. Namun, ternyata, porsi Andhika sebagai suami muda, kalah menarik &#8221;disiletkan&#8221; daripada tubuh Malinda Dee.
Dan terjadilah komentar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahputih.net/wp-content/uploads/2011/04/melinda-dee-tante.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-678" title="melinda-dee-tante" src="http://rumahputih.net/wp-content/uploads/2011/04/melinda-dee-tante-300x210.jpg" alt="" width="300" height="210" /></a>Malinda Dee bukan selebriti, dan apa pun tingkahnya, seharusnya infotainmen bisa mengabaikannya. Tapi ternyata tidak. Infotainmen tetap menggelar kasus MD, dan pasti bukan semata karena kecerdasan kriminalitasnya. Memang, ada kehadiran Andhika Gumilang, bintang film dan iklan, yang bisa dijadikan <em>newspeg</em>. Namun, ternyata, porsi Andhika sebagai suami muda, kalah menarik &#8221;disiletkan&#8221; daripada tubuh Malinda Dee.</p>
<p>Dan terjadilah komentar yang mewakili kepenasaran banyak pihak. Streotip Fenny Rose pun meruak, untuk bertanya, apa yang terjadi dengan wanita yang ketika remaja berjampul-poni itu, sehingga bisa &#8221;dari bebek menjadi angsa&#8221;. Jawabannya sederhana, uang. &#8221;Kebebasan finansial&#8221; telah membuat Inong Malinda, nama aslinya, yang tidak populer ketika remaja, dapat mewujudkan semua fantasi termutakhirnya tentang tubuh yang sempurna.  Dan seperti kata<em>Tempo</em>, uang, tubuh, dan gaya hidup kelas atas itulah yang membuat dia dapat diterima kalangan sosialita Jakarta.</p>
<p>Andhika Gumilang pun tentu dia dapatkan sebagai ekses dari tiga hal itu.</p>
<p>Maka, di televisi, yang tayang kemudian adalah MD &#8211;nama ini pasti dulu dimimikrikan dengan KD&#8211; bukan sekadar sebagai pesakitan, tapi pesohor yang <em>bohay</em>. <em>Metro TV</em> misalnya, menayangkan aksinya di atas panggung, ketika memeragakan busana. Dan, mata kamera, jujur saja, tak menyasar pada kebaya, tapi pada &#8221;ciri khasnya&#8221;, yang barangkali akan membuat Julia Perez tak lagi bisa jumawa, dada.</p>
<p>Ya, selain kelangsingan yang memesona, tubuh putih MD memang mengundang keterperangahan pada wilayah dada. Saking seriusnya persoalan dada itu, polisi bahkan tak bisa menyediakan pakaian khusus tersangka padanya. &#8221;Aduh, enggak ada yang pas,&#8221; kata Kabareskrim Komjen Pol Ito Sumardi, dengan gerak tangan menunjuk dada, dengan mimik serius saat ditemui wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (5/4).</p>
<p>Persoalan tubuh dan uang itu jugalah, di mata media, yang membuat Malinda lebih populer dari penipu cantik Selly Yustiawati. Tubuh MD sebagai aset &#8221;ditempatkan&#8221; dalam konteks atau status yang lebih tinggi dari Selly. Malinda, sederhananya, &#8221;memainkan&#8221; tubuh untuk kelas sosial yang jauh berbeda. Dan visualisasi juga narasi di televisi menunjukkan &#8221;kepongahan&#8221; tubuh itu.</p>
<p><strong>Tubuh Sosial</strong></p>
<p>Tubuh adalah metafor, dan sebagai metafor, tubuh menyatakan lebih daripada apa yang tampak. Tubuh bukan hanya dapat dilihat sebagai sesuatu yang alamiah atau badanniah, tapi juga sesuatu yang magis. Bahkan menurut Michael Foucault, pemikir paling serius tentang tubuh, persepsi seseorang tentang tubuh adalah efek dari struktur sosial di sekitar kita. Tubuh hanya bisa dilihat sebagai sesuatu yang non-alamiah, memuat citra, tanda, dan prilaku, dan hanya dapat dipahami dalam konsekuensi perubahan sosial. Atau bahasa mudahnya, tubuh seseorang memuat dan menunjukkan tanda dan perilaku, juga situasi sosialnya. Dan dalam kaitan inilah, visualisasi tubuh MD dalam kasus di atas dapat kita baca.</p>
<p>Kamera atau foto yang melahap tubuh Malinda dan menunjukkannya kepada penonton sesungguhnya mengajak kita untuk melakukan tiga hal: berpikir (<em>think</em>), merasa (<em>feel</em>), dan berfantasi (<em>fantasy</em>). Jika tiga hal itu dilakukan, penonton akan mendapatkan sebuah &#8221;jawaban&#8221; dari semua kasus di atas, yang secara verbal tidak mungkin dinyatakan oleh infotainmen tersebut. Bahkan, untuk &#8221;membantu&#8221; penonton, aksi panggung berkebaya Malinda dapat terus diputar ulang dan juga dalam gerak <em>slow motion</em>, sehingga gambaran ketubuhan itu kian jelas.</p>
<p>Foto dan video tubuh &#8221;alamiah&#8221; Malinda meminta kita berpikir seperti Andhika, suami mudanya. Wajah MD yang masih sangat kencang, dengan tulang pipi yang menonjol, tubuh  langsing, dan kaki yang bagus di usia 47, membuat pikiran penonton membandingkan langsung wanita seumurannya. Kamera teve dan berbagai foto yang secara lugas menonjolkan tubuh segar MD itu meminta penonton merasa ada sebuah &#8221;kepantasan&#8221; badaniah bagi Andhika untuk bersedia menjadi suami mudanya.</p>
<p>Getaran tubuh &#8221;alamiah&#8221; dalam kamera itu juga meminta penonton seolah merasakan dan berfantasi sebagaimana rasa dan fantasi Andhika yang tercukupkan, sebagai pria muda. Di sinilah tubuh itu merespresentasikan dirinya sebagai mesin hasrat, yang meminta untuk dipuaskan. Tubuh sebagai mesin hasrat inilah yang dalam rangka pemenuhan kebutuhannya dapat melanggar norma dan tabu. Sebagai mesin hasrat, tubuh-tubuh itu bukan hanya meminta dipuasi,  melainkan juga meminta dipahami bagaimana cara kepuasan itu didapatkan.</p>
<p>Tubuh sebagai metafor juga menampilkan tanda sosial yang lebih jelas.  Tubuh MD menjelaskan lebih banyak daripada yang tampak. Seruan seorang pembaca saat tahu sosok MD, &#8221;Besarnya&#8230; kaya lagi, gelap mata deh Andhika, hahaha&#8230;&#8221; atau, &#8221;Wow&#8230; pantas Andhika jadi iklan Bebaskan Ekspresimu, hehehe..&#8221; adalah ungkapan yang paling tepat meski sederhana. Tubuh MD memuat tanda sosial yang sangat jelas. Di usia 47, tubuhnya bak remaja. Pipi kencang, dan badan nyaris tanpa lemak. Tubuh MD membuat penonton langsung berpikir tentang operasi plastik, diet yang ketat, olahraga dengan istruktur hebat, dan lingkup pergaulan yang luar biasa. Tubuh MD bukan hanya dimuati oleh semua ikon kecantikan yang ditawarkan industri melainkan juga menjelaskan betapa adaptifnya dia dengan semua itu. Dan lebih dari itu, tubuh MD menjelaskan status sosial-ekonomi dirinya. Hanya orang sangat kaya sajalah yang dapat merawat dirinya bak remaja di usia senja. Dengan tubuh sosialnya, MD bak permata di usia tua, yang banyak memancing para kolektor untuk memiliki atau menyentuhnya. &#8221;Tanda tangan nasabah juga kerap di atas punggung Malinda,&#8221; catat <em>Tempo</em>.</p>
<p>Tubuh sosial itulah yang membuat cinta Andhika bergayut manja. Membuat ratusan nasabah mau menyerahkan miliar duitnya untuk &#8221;dikelola&#8221; MD, bertekuk lutut dalam rayuan, kata <em>Tempo</em>, dan menyerahkan blanko kosong. Kecantikan dan tubuh sensual MD, memang punya semacam &#8221;kekuasaan&#8221; yang membuat hidup dapat berjalan lebih mudah. Atau mengikuti Paul Virilio dalam <em>The Aesthetics of Disappearance</em>, &#8221; &#8230;kekuasaan yang menawarkan kesenangan, kegembiraan, dan kemudahan-kemudahan; kekuasaan yang memungkinkan setiap individu untuk menentukan posisinya di dalam wacana-wacana yang ditawarkan industri.&#8221; Kecantikan membuat seseorang merasa dirinya memiliki identitas, kartu akses, yang dapat membuatnya melenggang&#8230;</p>
<p>Jadi, kamera yang menampilkan &#8221;kesempurnaan&#8221; tubuh Malinda setidaknya memberi kita ruang untuk membaca, merasa, dan berfantasi, seperti Andhika dan nasabah-nasabah itu. Dan dengan cara itu, setidaknya, sedikit tafsir yang berbeda kita dapatkan. Mungkin jadi lebih gampang bagi kita untuk menerima mengapa Andhika dapat menjadi suami muda, dan Malinda mampu merayu-tipu miliaran duit nasabahnya &#8211;yang sebagaian besar tak mau membuka identitas. Di depan kebohaian Malinda,  kita jadi dapat mengira betapa hebat daya isap goda, betapa tidak sempurnanya manusia&#8230;.</p>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkata.net/?feed=rss2&amp;p=677</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Syahrini, Tuhan, dan Kacang</title>
		<link>http://rumahkata.net/?p=680</link>
		<comments>http://rumahkata.net/?p=680#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Mar 2011 09:33:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aulia A Muhammad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[dapurbudaya]]></category>

		<category><![CDATA[membaca teve]]></category>

		<category><![CDATA[Anang]]></category>

		<category><![CDATA[artis]]></category>

		<category><![CDATA[ashanty]]></category>

		<category><![CDATA[asmara]]></category>

		<category><![CDATA[aurel]]></category>

		<category><![CDATA[cantik]]></category>

		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<category><![CDATA[dendam]]></category>

		<category><![CDATA[kacang]]></category>

		<category><![CDATA[KD]]></category>

		<category><![CDATA[krisdayanti]]></category>

		<category><![CDATA[kulit]]></category>

		<category><![CDATA[lupa]]></category>

		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>

		<category><![CDATA[syahrini]]></category>

		<category><![CDATA[tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahputih.net/?p=680</guid>
		<description><![CDATA[Yang mulia dari dirimu bukanlah di mana posisimu saat ini melainkan bagaimana caramu meraih posisi itu.
Syahrini, barangkali, tengah menegaskan hal itu ketika berkata, &#8221;Kesuksesan aku bukan karena bantuan manusia. Ini pemberian Tuhan.&#8221; Dia seperti memberi makna bahwa sebagai &#8221;pemberian Tuhan&#8221;, anugerah, tentu sukses itu dia dapat dengan jalan yang benar dan halal. Ada proses yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahputih.net/wp-content/uploads/2011/04/syahrini.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-681" title="syahrini" src="http://rumahputih.net/wp-content/uploads/2011/04/syahrini.jpg" alt="" width="266" height="363" /></a>Yang mulia dari dirimu bukanlah di mana posisimu saat ini melainkan bagaimana caramu meraih posisi itu.</p>
<p>Syahrini, barangkali, tengah menegaskan hal itu ketika berkata, &#8221;Kesuksesan aku bukan karena bantuan manusia. Ini pemberian Tuhan.&#8221; Dia seperti memberi makna bahwa sebagai &#8221;pemberian Tuhan&#8221;, anugerah, tentu sukses itu dia dapat dengan jalan yang benar dan halal. Ada proses yang tidak melanggar dari rambu yang dipatok agama. Tak heran juga, seusai kematian ayahnya, Syahrini pun selalu berkata dengan mata yang menerawang, &#8221;Papa selalu mengingatkan aku agar ingat salat, dan menutup aurat.&#8221;</p>
<p>Tapi tentu kita juga tahu, Tuhan bekerja bukan dengan cara yang bisa selalu diurutkan dalam logika. Dia memberi, terkadang, lebih sebagai misteri, bukan &#8221;upah&#8221; atas kepatuhan kita. Dan karena itu, &#8221;pemberian Tuhan&#8221; tidak selalu berbanding lurus dengan &#8221;kesetiaan di jalan-Nya&#8221;. Kausalitas, sebab-akibat, pilih kasih, pamrih, adalah pikiran manusia. Dia bekerja dengan cara-Nya sendiri.</p>
<p>Karena itu, bisa jadi ucapan Syahrini, &#8221;Kesuksesan aku bukan karena bantuan manusia. Ini pemberian Tuhan&#8221; bukan semata memuliakan Yang di Atas, melainkan dan terutama, untuk mengeliminasi kata sebelumnya, &#8221;bantuan manusia&#8221;. Dan kita tahu, kalimat &#8221;bersayap&#8221; itu mengarah kepada Anang. Apalagi, dia memberi jelas dengan kalimat sebelumnya, &#8221;Seorang perempuan juga bisa punya semangat juang tanpa suport dari orang lain.&#8221;</p>
<p>Tanpa suport orang lain? Syahrini jelas &#8221;lebay&#8221;. Tapi kita dapatlah memaafkan hal itu. Dia tengah berada di posisi puncak, kerap disorot media, dan itu dengan semacam ingatan, &#8221;Kesuksesanmu karena Anang&#8221;.</p>
<p>Dulu, sebelum &#8221;bercerai&#8221; dari Anang, tak ada bantahan darinya. Sembari bergayut manja, atau melempar senyum, kadang lirikan &#8221;gimana gitu&#8221;, dia akan berkata, &#8221;Mas Anang mengubah hidup saya&#8230;&#8221; atau kalimat pujian dan pengakuan sejenisnya. Tapi kini, ketika &#8221;talak&#8221; telah terjadi, Syahrini bergegas menghapus jejak Anang dalam dirinya. Penghapusan itu bahkan tidak cukup dengan dua kalimat negasi di atas, tapi juga dalam bentuk lagu, &#8221;Kau yang Memilih Aku&#8221;.</p>
<p>Lagu yang &#8221;menyerang&#8221; tentu, meski dengan nada-nada sendu. Dengar liriknya, &#8221;<em>Kau yang telah memilih aku/ kau juga yang sakiti aku/ Kau putar cerita/  sehingga aku yang salah// Kau selalu mempermainkan wanita/ Kau ciptakan lagu cinta/ hingga semua tahu/ kau makhluk sempurna//</em>&#8220;.</p>
<p>&#8220;Ini kisah nyata, di mana aku lakonnya. Aku yang merasakan <em>feel</em> lagu ini. Aku memang mau curhat lewat lirik yang indah. Lirik yang frontal sebenarnya. Pengalaman hidup secara personal,&#8221; kata Syahrini, usai menjadi bintang tamu acara &#8221;Dahsyat&#8221; di studio <em>RCTI</em>, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (21/3).</p>
<p>&#8221;Menghapus&#8221; masa lalu, atau rekam jejak seseorang di dalam karier, bukan hal tabu dalam dunia industri. Penghambaan dan kekaguman pada diri sendiri terkadang menjadi titik didih yang tak terkendali. Proses, yang menisbatkan keterlibatan orang lain, kadang disembunyikan, atau tak diakui. Jika pun terucap, lebih sering terasa sebagai basa-basi. &#8221;Aku bisa karena perjuanganku sendiri&#8221; dijadikan mantra justru ketika tengah berada di puncak.</p>
<p>Syahrini, dengan &#8221;Seorang perempuan juga bisa punya semangat juang tanpa suport dari orang lain&#8221; berada dalam euforia itu. Dia dalam situasi tertekan, ketika publik ragu, akankah tanpa Anang popularitas yang sama dapat dia genggam? Karena, bertahun sebelumnya, Syahrini bukanlah siapa-siapa. Dia adalah sosok yang dipilih Anang untuk &#8221;memerisai&#8221; diri dari luka Krisdayanti. Dia dipilih Anang untuk menambal separuh jiwanya yang telah pergi. Syahrini &#8221;hadir&#8221; di saat yang tepat ketika Anang juga ingin menghapus jejak Krisdayanti yang &#8221;tak mampu setia&#8221;. Dan kini, Syahrini membalik posisi itu, dia hapus bekas Anang di dalam dirinya karena &#8221;Kau selalu mempermainkan wanita&#8221;.</p>
<p>Ya, berbalas pantun, saling sindir, biasa dalam industri musik kita. Ada lagu &#8221;Jandamu&#8221; berbalas &#8221;Dudamu&#8221;.  Seperti juga &#8221;Pengkhianat Cinta&#8221; Maia Estianti yang berbalas &#8221;Kau Tusuk Aku dari Belakang&#8221; Dhani.  Jadi, jika Anang membuat &#8221;Jangan Memilih Aku&#8221;, bukan hal aneh muncul &#8221;Kau yang Memilih Aku&#8221;. Masalahnya, jika Maia, seburuk apa pun hubungannya dengan Dhani, tak pernah menghapus jejak &#8216;&#8217;sang guru&#8221;, Syahrini justru berbeda. Dia &#8221;nekad&#8221; menghilangkan jejak Anang, meski, tanpa sadar justru mengakui hal itu secara lebih benderang.</p>
<p>Frasa &#8221;bukan karena bantuan manusia&#8221; dan &#8221;tanpa support orang lain&#8221;, justru dia bantah dengan &#8221;Kau yang telah memilih aku&#8221;.  Sebagai yang &#8221;dipilih&#8221;, Syahrini bukanlah subjek, melainkan objek. Dan kita tahu, objek selalu melekati subjek baru bisa berfungsi. Dengan kata lain, jika objek sukses, maka kesuksesan itu tentulah sekadar <em>nimbrung, nunut</em>, terikut oleh kerja subjek. Dan objek tak akan mungkin bisa mengklaim &#8221;kerja&#8221; atas nama dirinya sendiri.</p>
<p>&#8221;Kau yang memilih aku&#8221; menjelaskan tentang diri yang tak memiliki hak untuk mengelak, hanya menjalani, menerima. Dan jika Syahrini mengakui bahwa dirinya hanyalah sosok yang dipilih maka secara tegas dia pun &#8221;mengatakan&#8221; kesuksesan itu bukanlah kerjanya, meski dapat menjadi bagian dari haknya.</p>
<p>Sayang, dalam euforia untuk menunjukkan diri dapat berarti tanpa orang lain dan akar kesilaman, Syahrini lupa kontradiksi itu. Dia membawa nama Tuhan untuk &#8221;mengemplang kuasa&#8221; Anang, karena hanya itu cara terindah yang bisa dia lakukan. Tapi, dalam euforia, terkadang hal kecil dapat memupus &#8216;&#8217;skenario&#8221; indah itu. &#8221;Kau yang memilih aku..&#8221; adalah pernyataan bahwa aku tak akan berarti tanpa dirimu. Aku tak pernah meminta, tapi kau pilih, kau beri&#8230; sebuah situasi yang pedih, kesadaran non-eksis.</p>
<p>Tapi, yang mulia dari dirimu bukanlah di mana posisimu saat ini melainkan bagaimana caramu meraih posisi itu. Syahrini mencoba menghapus &#8221;cara&#8221; dia mendapatkan posisi sekarang. Dan itu benar, karena sebelumnya, sebagai sosok yang &#8221;dipilih&#8221;, dia tak tahu cara dan metode itu. Kini ketika dia harus bergerak sendiri, tanpa Anang, wajarlah jika dia hanya dapat pasrah kepada Tuhan.</p>
<p>Kacang bisa mengabaikan kulit tapi kulit tak dapat melupakan kacang. Tapi untuk Syahrini dan Anang, kita jadi rumit menilai mana kulit dan mana si kacang&#8230; <img src='http://rumahkata.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkata.net/?feed=rss2&amp;p=680</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Manohara dan Ingatan Pasar</title>
		<link>http://rumahkata.net/?p=686</link>
		<comments>http://rumahkata.net/?p=686#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Feb 2011 10:07:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aulia A Muhammad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[dapurbudaya]]></category>

		<category><![CDATA[membaca teve]]></category>

		<category><![CDATA[asmara]]></category>

		<category><![CDATA[bintang]]></category>

		<category><![CDATA[iklan]]></category>

		<category><![CDATA[ingatan]]></category>

		<category><![CDATA[kelantan]]></category>

		<category><![CDATA[luka]]></category>

		<category><![CDATA[manohara]]></category>

		<category><![CDATA[pangeran]]></category>

		<category><![CDATA[perkosa]]></category>

		<category><![CDATA[porno]]></category>

		<category><![CDATA[sensual]]></category>

		<category><![CDATA[shu qi]]></category>

		<category><![CDATA[silet]]></category>

		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahputih.net/?p=686</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang dapat kita ingat dari Manohara adalah persoalan tubuh. Ia, dengan airmata deras, menunjukkan pada kita luka lebam, dan bekas sayatan, di bagian dada. Ia, dengan bantuan ibunya, Daisy, membuka mata kita tentang dua soal yang tak gampang diurai: cinta &#8211;yang gaib, batiniah, dan tubuh &#8211;yang nyata, teraba. Dalam tragedi Manohara, kita menemukan kausalitas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahputih.net/wp-content/uploads/2011/04/manohara-odelia-pinot.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-687" title="manohara-odelia-pinot" src="http://rumahputih.net/wp-content/uploads/2011/04/manohara-odelia-pinot.jpg" alt="" width="375" height="556" /></a>Apa yang dapat kita ingat dari Manohara adalah persoalan tubuh. Ia, dengan airmata deras, menunjukkan pada kita luka lebam, dan bekas sayatan, di bagian dada. Ia, dengan bantuan ibunya, Daisy, membuka mata kita tentang dua soal yang tak gampang diurai: cinta &#8211;yang gaib, batiniah, dan tubuh &#8211;yang nyata, teraba. Dalam tragedi Manohara, kita menemukan kausalitas antara cinta yang cidera dan tubuh yang terdera.</p>
<p>Ia mengajak kita ingatan kita tamasya pada dua periode yang berbeda: tubuh Manohara sebelum ke Malaysia, dan sesudah menikah dengan Fakhry, si pangeran kaya. Dengan bantuan infotainmen, kita menemukan kontras tegas, tubuh pertama demikian sintal, sensual, dan, &#8221;model yang diperkiraan akan menjadi ikon produk kecantikan,&#8221; kata narator &#8221;Insert&#8221; <em>Trans TV</em>. Tapi tubuh kedua, yang tampil dengan tangis itu, sudah melebar, gemuk, dengan lengan bawah yang tergayuti lemak. Beberapa video dirinya di Malaysia yang tertawa dalam berbagai acara negara, dan dengan tubuh yang &#8216;&#8217;sentosa&#8221; itu, ternyata tak berbanding lurus dengan kebahagiaan. Kegemukan adalah kemalangan. &#8221;Dia dipaksa makan oleh Fachri, biar cepat gemuk!&#8221; tegas Daisy.</p>
<p>Dan ketika di tubuh gemuk itu berdiam lebam dan bekas sayatan, Mano mendapatkan senjata.</p>
<p>Mano menggugat, Daisy menghujat. Mereka mendapat iba.</p>
<p>Dan kemudian kita tahu, publik jadi berada di belakang Manohara. Asmara dan luka yang semula hanya melibatkan sepasang manusia, berubah menjadi &#8221;percakapan&#8221; bangsa, dan politik identitas pun menemukan ruangnya. Mano pun menang, dan ia melenggang. Kisahnya kemudian jadi &#8216;&#8217;sejarah&#8221;, meski tak semua orang mau mengingatnya.</p>
<p>Tapi bagi Mano, sejarah kepedihan itu tak pernah dapat dia abaikan.</p>
<p>&#8221;Sejarah yang selalu dikenang bukanlah sejarah yang penuh dengan romantika manis. Namun, apa yang selalu membayangi orang adalah ingatan akan penderitaan, <em>memoria passionis</em>,&#8221; kata Walter Benyamin, filsuf dari Mazhab Frankfurt.</p>
<p>Sejarah jenis itu, tak hanya menjejaki otak dengan tanggal, hari, percik suasana dan hangat percakapan, melainkan telah berubah menjadi <em>verstehen</em>; pemahaman dalam diri, terinternalisasikan, tertubuhkan. Dalam sejarah semacam itulah, masa depan, hidup yang kini dijalani, mendapatkan penebusan.</p>
<p>&#8221;Aku tak bisa melupakan masa lalu. Ada fase dalam hidupku yang begitu bodoh, yang sampai kini pun masih membuatku bertanya, ‘kok bisa aku melakukan hal itu’,&#8221; kata Shu Qi, aktris China yang kini telah menapak di Hollywood. &#8221;Tapi ya, itu memang hidupku. Dulu.</p>
<p>&#8221;Aku tahu telah berbuat keliru. Saat itu, dalam ketiadaan pengharapan dan dukungan keluarga, aku merasa telah dewasa untuk melakukan apa saja,&#8221; tuturnya dalam sesal yang punah sebagai tangis.</p>
<p>Manohara, barangkali, berada di fase yang sama dengan Shu Qi. Ia tak bisa lupa, kepedihan itu, pasti, akan mengikuti dirinya sepanjang masa. Sejarah yang, seperti kata Benyamin, akan menjadi penebusan hidupnya di masa depan. Seperti Shu Qi yang bangkit dan menjadi bintang, Mano pun melakukan hal yang sama, bergerak, menentukan arah, membangun hidup baru, membentuk citra. Tapi tak mudah, gelinjang masa lalu itu, selalu membuatnya menoleh, menoleh, meski tidak lagi dengan sesal, melainkan siasat yang kenyal.</p>
<p>Apa yang kita ingat dari Manohara adalah persoalan tubuh. Dan dia amat tahu itu.</p>
<p>Ingatan kita akan tubuhnya yang telah cidera, dalam lebam, dan bekas sayatan, adalah &#8221;pasar&#8221; yang luas dan terabadikan. Kita seakan selalu dalam fase tanya, &#8221;<em>bagaimana tubuh Mano setelah luka itu? Apakah bisa sempurna, sesintal dan semulus dulu?</em>&#8221;</p>
<p>Maka, ketika ada gosip video porno Mano, semua seakan gempita, berharap dalam melihat dan menguji ingatan tubuh yang luka itu. Juga ketika foto-foto tubuh Mano yang berpakaian minim, tengah pesta dan bergoyang di dugem malam, kita mencari-cari, apakah bekas luka dan lebam itu masih ada. Kita penasaran karena berharap ingatan akan tubuh luka itu dapat dibuang, dipunahkan.</p>
<p>Mano mengerti benar hal itu, dan dia pun &#8221;memberi&#8221;. Dalam berbagai penampilan, dia tunjukkan tubuh yang telah pulih, tanpa bekas luka, dan ingatan yang tak lagi menyimpan trauma. Pakaian minim yang dia kenakan adalah sinyal diri yang telah kembali, sekaligus senjata yang menodong dengan tanya, &#8221;<em>Tahukah kalian apa yang membuatku dapat bebas dari trauma dan kembali bertubuh &#8217;sempurna&#8217;?</em>&#8221;</p>
<p>Dan karena ingatan kita atas tubuhnya adalah &#8221;pasar&#8221;, di sanalah produk ketubuhan dia tebar. Mano menjual produk kecantikan dengan namanya, Manohara, berlabel M, dengan lambang lotus, di bagian tutupnya.</p>
<p>&#8221;Lotus membuat jiwa dan kehidupan keseharian mendapatkan peningkatan spiritual. Bunga Lotus mengandung arti murni, bersih, dan agung,&#8221; katanya.</p>
<p>Lalu dengarlah penjelasannya, &#8221;Produk ini aman dan halal. Mano telah menjadi kelinci percobaan selama beberapa bulan. Mano puas, tak ada efek samping.&#8221;</p>
<p>Mano, dengan percaya diri, juga menyadari, akan ada yang menganggap dia hanya menjual nama, tapi, &#8221;Apa pun opini yang muncul, saya tetap akan berpikir positif dan <em>keep moving</em>,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Mano benar. Dia memang berpikir positif, dan dapat memanfaatkan sejarah tubuhnya sebagai penebusan, bahkan obat di masa depannya. Dengan bisnis kecantikan itu, Mano meletakkan dirinya secara cerdas untuk terus berada di dalam ingatan banyak orang. Tapi kini, bukan dengan jerit tangis, dan tubuh yang guram dalam lebam serta bekas sayatan. Mano telah melampaui ingatan kesakitan itu dan menuju sejarah baru, <em>tarikh pathos</em>, ketika luka dan derita diubah jadi arah, jadi tujuan. Dan bukan hal yang salah, jika kemudian, ingatan kita akan luka dan lebam tubuhnya dia ubah jadi lapak, tempat untuk berjualan&#8230;.</p>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkata.net/?feed=rss2&amp;p=686</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Andaikata Minggu tak Pernah Ada</title>
		<link>http://rumahkata.net/?p=689</link>
		<comments>http://rumahkata.net/?p=689#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Feb 2011 10:11:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aulia A Muhammad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[dapurbudaya]]></category>

		<category><![CDATA[membaca teve]]></category>

		<category><![CDATA[adjie masaid]]></category>

		<category><![CDATA[agama]]></category>

		<category><![CDATA[angelina sondakh]]></category>

		<category><![CDATA[artis]]></category>

		<category><![CDATA[bola]]></category>

		<category><![CDATA[dpr]]></category>

		<category><![CDATA[gereja]]></category>

		<category><![CDATA[janda]]></category>

		<category><![CDATA[jantung]]></category>

		<category><![CDATA[jenazah]]></category>

		<category><![CDATA[kematian]]></category>

		<category><![CDATA[kerusuhan]]></category>

		<category><![CDATA[konflik]]></category>

		<category><![CDATA[mati]]></category>

		<category><![CDATA[militer]]></category>

		<category><![CDATA[pedih]]></category>

		<category><![CDATA[reza artamevia]]></category>

		<category><![CDATA[sara]]></category>

		<category><![CDATA[tangis]]></category>

		<category><![CDATA[temanggung]]></category>

		<category><![CDATA[yatim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahputih.net/?p=689</guid>
		<description><![CDATA[Kematian biasanya menerbitkan iba, dan kenangan atas si mayit melahirkan cinta. Kita dapat dengan jelas menemukan contohnya, dalam keberpulangan Adjie Massaid, dan rasa kehilangan Angie.
Adjie yang meninggal Sabtu (5/2), menerbitkan iba yang luar biasa. Kita terhenyak, dan tiba-tiba terserang rasa &#8216;&#8217;seram&#8221;, bahwa kematian demikian adikuasa, tak bisa ditawar, dan bersifat memaksa. Adjie yang bugar, tiba-tiba [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahputih.net/wp-content/uploads/2011/04/adjie-angelina.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-690" title="adjie-angelina" src="http://rumahputih.net/wp-content/uploads/2011/04/adjie-angelina.jpg" alt="" width="450" height="301" /></a>Kematian biasanya menerbitkan iba, dan kenangan atas si mayit melahirkan cinta. Kita dapat dengan jelas menemukan contohnya, dalam keberpulangan Adjie Massaid, dan rasa kehilangan Angie.</p>
<p>Adjie yang meninggal Sabtu (5/2), menerbitkan iba yang luar biasa. Kita terhenyak, dan tiba-tiba terserang rasa &#8216;&#8217;seram&#8221;, bahwa kematian demikian adikuasa, tak bisa ditawar, dan bersifat memaksa. Adjie yang bugar, tiba-tiba runduk, dan sadar, tak pernah ada negosiasi di depan sang maut. Politikus itu tak bisa memberikan konsesi apa pun di depan elmaut, selain wasiat kepada yang hidup, Angie, istrinya. Dan kita pun terbata, ketika Angie menceritakan kepasrahan itu, &#8221;&#8221;Angie,<em> take care of everything, take care of the children</em>. Mungkin ini udah waktunya.&#8221;</p>
<p>Kematian Adjie membuat kita bukan saja merunduk pada sang maut, melainkan lebih berani melihat hidup. Angie, selepas tangisnya yang demikian menyulut iba, mengingatkan kita tentang hidup yang harus dia jalani, sendiri. Kita pun mengira-duga, kuatkah dia, melangkah tanpa genggaman cinta, merawat Keanu, dan menemani Zahwa dan Aaliya, sendiri. Kita lalu membayangkan hidupnya yang akan terasa sulit, dan tanpa sadar, membandingkan dengan hidup kita.</p>
<p>Maut, di titik itu, membuat kita berhenti, mengevaluasi diri, mencerna hidup.</p>
<p>Kematian Adjie membuat kita bertanya dengan nada iri, apakah kelak kita juga mendapatkan kehormatan, cinta, dan ungkapan kehilangan yang sama, selepas kematian.</p>
<p>Adjie mengingatkan kita bahwa hidup secara bersih dan tulus bukanlah sesuatu yang sia-sia, akan selalu kembali kepada kita, bahkan di saat maut mengambil kita dari dunia.</p>
<p>Adjie menginspirasi bahwa kehidupan itu penting, berharga, dan harus dijaga.</p>
<p>Di atas kematiannya, di basah pusaranya, kita menemukan cinta yang lahir, bermekaran, dan menyesakkan dada. Kita jadi percaya, bahwa energi terbesar manusia adalah mencinta, adalah mencinta.</p>
<p>Kematian biasanya menerbitkan iba, dan kenangan atas si mayit melahirkan cinta. Tapi hari-hari ini, kita juga melihat kematian yang melahirkan benci, amarah, dan dendam. Dan kenangan, juga sejarah sang korban, tak menampilkan rasa belas, justru umpat yang culas. Cinta, seperti juga negara, tak hadir, alpa, dalam kasus pembantaian jemaah Ahmadiyah.</p>
<p>Kematian, yang bahkan datang dalam bentuk yang sadis, entah bagaimana, tak menerbitkan rasa miris karena digonggong kebencian dan perasaan absolut dalam menggenggam kebenaran. Pembantaian jemaah Ahmadiyah, yang merupakan bencana kemanusiaan, bukan dihadirkan sebagai ingatan, ancaman, akan nilai-nilai dasar manusia, tapi direduksi sebagai &#8221;kewajaran&#8221; dari kesesatan. Di atas mayat sang korban, para cerdik-cendekia, yang mengaku pemuka agama, berdebat siapa benar siapa sesat, bukan menyatakan empati dan bela sungkawa. Cinta entah menguap ke mana. Padahal, di depan tragedi kemanusiaan bukankah kita seharusnya &#8221;melepaskan&#8221; agama.</p>
<p>Tapi lihatlah, negara yang diwakili Menteri Agama bahkan meminta Ahmadiyah dibubarkan, dan atau, membentuk agama baru. Sebuah sikap yang bukan menenangkan, mengayomi sang korban, melainkan seperti &#8221;pembenaran&#8221; kerusuhan. Padahal, &#8221;Menteri Agama kan bukan cuma menteri orang Islam, tapi semua umat beragama di Indonesia,&#8221; kata Karding, Ketua Komisi VIII DPR RI.</p>
<p>Guntur Romly, aktivis antar-iman, dalam debat &#8221;Apa Kabar Indonesia&#8221; TV One, juga mengatakan hal yang sama. &#8221;Bagaimana mungkin di hadapan korban kita masih menyalahkan mereka?&#8221;</p>
<p>Beriman sekaligus membantai sesama, saya tak tahu bagaimana formulasi itu bisa ada. Saya juga tak tahu darimana ide membentuk agama baru itu bisa lahir?</p>
<p>Hal di atas cuma membuktikan, dalam amarah, dan mungkin juga benci, kita bukan saja kehilangan kemanusiaan, melainkan juga pengetahuan dan kearifan. Secara cepat, &#8221;kita&#8221; membedakan diri dan mengambil garis demarkasi dengan &#8221;mereka&#8221;, seakan tanpa hubungan, tanpa ikatan, bahkan atas nama bangsa dan kemanusiaan. Luka, darah, dan kematian,  memang disesalkan, tapi berhenti sebagai ucapan.</p>
<p>Itulah sebabnya, di kematian jemaah Ahmadiyah, kita tak lagi menemukan cinta, dan kita gusar.  Kita melihat kemanusiaan kalah oleh kebencian, dan keadilan dilepaskan dari belas dan iba.</p>
<p>Sabtu (5/2), almarhum Adjie mengingatkan kita tentang cinta, dan hidup yang berharga. Angie memberi kita inspirasi tentang sejarah yang tak berhenti, bahkan ketika Adjie mati. Kita, meski mungkin tak bisa, ingin memiliki dan atau mengenang kisah cinta mereka. Karena kita tahu, dalam cinta, melalui belas dan iba, hidup terasa begitu bersih dan berharga, penuh warna.</p>
<p>Tapi Minggu (6/2), dan juga Senin (7/2) saat tiga gereja di bakar massa di Temanggung, otak kita seakan buntu. Di depan korban, jemaah Ahmadiyah itu, kita merasa malu, menatap cinta yang purna, dan kemanusiaan yang sirna. Kita melihat agama dilepaskan dari cinta, ketika yang &#8216;&#8217;sibuk menentukan batas&#8221;, menelikung &#8221;yang menjangkau tanpa batas&#8221;. Di depan sang korban, kita berharap tragedi kemanusiaan itu tak tercatat dalam sejarah, tak membekas dalam ingatan.  Di hari-hari ini, barangkali, kita berbisik, &#8221;Andaikata Minggu tak pernah ada, maka Sabtu akan terasa begitu sempurna&#8230;.&#8221;</p>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkata.net/?feed=rss2&amp;p=689</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Epy Tahu dan Menunggu</title>
		<link>http://rumahkata.net/?p=692</link>
		<comments>http://rumahkata.net/?p=692#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Jan 2011 10:23:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aulia A Muhammad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[dapurbudaya]]></category>

		<category><![CDATA[membaca teve]]></category>

		<category><![CDATA[alternatif]]></category>

		<category><![CDATA[dukun]]></category>

		<category><![CDATA[epy kusnandar]]></category>

		<category><![CDATA[kanker]]></category>

		<category><![CDATA[nietzsche]]></category>

		<category><![CDATA[pasrah]]></category>

		<category><![CDATA[pelawak]]></category>

		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<category><![CDATA[tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahputih.net/?p=692</guid>
		<description><![CDATA[Siapa kita sesungguhnya, dapat dilihat dari bagaimana kita menghadapi sakit. Epy Kusnandar mengerti benar hal itu.
Ketika kanker otak mendera, wajah sedih memang masih tampak di wajah yang dia hiasi senyum itu, tapi bukan raut yang putus asa. Dia masih gembira, banyak tertawa, dan mampu mengirim lelucon, yang bahkan seperti mengejek sakitnya. Sakit, bagi lelaki yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahputih.net/wp-content/uploads/2011/04/epy.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-693" title="epy" src="http://rumahputih.net/wp-content/uploads/2011/04/epy.jpg" alt="" width="329" height="488" /></a>Siapa kita sesungguhnya, dapat dilihat dari bagaimana kita menghadapi sakit. Epy Kusnandar mengerti benar hal itu.</p>
<p>Ketika kanker otak mendera, wajah sedih memang masih tampak di wajah yang dia hiasi senyum itu, tapi bukan raut yang putus asa. Dia masih gembira, banyak tertawa, dan mampu mengirim lelucon, yang bahkan seperti mengejek sakitnya. Sakit, bagi lelaki yang acap bermain sinetrom komedi itu, barangkali semacam terminal, untuk mencapai hidup yang lebih. Dengan bahasa sederhana, dia mengatakan itu, seperti dikutip &#8221;Insert&#8221; Selasa (25/1) lalu. &#8221;Jika saya masih bisa merayakan ulang tahun ke-47 Mei nanti, saya optimis untuk sembuh. Mei itu sudah batas waktu empat bulan vonis dokter,&#8221; katanya sembari tertawa. &#8221;Pemirsa, sampai jumpa tanggal 1 Mei ya&#8230;.&#8221;</p>
<p>Sakit, seperti hidup, adalah sesuatu yang terberi. Datang begitu saja. Kita, acap kali, tak bisa mengelak, bertanya, apalagi menggugat. Hanya menerima. Kadang tanpa musabab, tak tahu asal.</p>
<p>&#8221;Tidak tahu <em>gimana</em>, tiba-tiba dia sering pusing dan muntah-muntah. Kadang sampai pingsan. Setelah itu baru dibawa ke dokter,&#8221; jelas Karina Ranau, istrinya.</p>
<p>Dan karena itu, sebenarnya, sakit bukanlah sesuatu yang harus disesali, ditolak, apalagi disedihkan. Bahkan, dalam perspektif Nietzscean, sakit adalah kesempatan untuk konsolasi, peluang untuk menemukan hal baru dalam kehidupan. Sakit tak memerlukan kambing hitam, atau penyalahan atas sesuatu yang menimpa kita. Kebutuhan akan kejelasan dan pencarian kambing hitam atas sakit, bagi Nietzsche, adalah cara berpikir yang sakit. Cara berpikir semacam itu, membuat si sakit menemukan kompensasi yang tak benar. Makanan, udara, apa pun, bisa disalahkan, meski hal yang sama tak berpengaruh apa-apa pada orang lain. Cara berpikir yang sakit ini, selalu mencari kambing hitam, pada titik ekstem, juga akan &#8221;menyalahkan&#8221; Tuhan.</p>
<p>&#8221;Barangkali ini cara Tuhan menegur saya,&#8221; kata Dinda Kanya Dewi, ketika wajahnya terluka akibat kecelakaan mobil.</p>
<p>&#8221;Ini cobaan Tuhan,&#8221; ucap Bunga Citra Lestari, ketika dirawat karena lambungnya bermasalah.</p>
<p>&#8221;Musibah ini barangkali cara Tuhan memanggil saya untuk kembali dekat pada-Nya,&#8221; kata Sammy, mantan vokalis Kerispatih, saat tersangkut narkoba.<br />
Tapi Epy, sejauh saya ikuti dalam berbagai berita, tak sekalipun dia mengatakan sakit itu sebagai teguran atau cobaan. Dia meletakkan sakit sebagai fase &#8221;tetirah&#8221;, berhenti sebentar, terminal, untuk menemukan arah, tujuan, jalan, yang lebih baik. &#8221;Allah pasti akan beri jalan kalau saya terus berusaha,&#8221; yakinnya.</p>
<p>Bahkan, sakit itu dia anggap tantangan. &#8221;Jadi saya akan terus berjuang melawan sakit ini.&#8221;</p>
<p>Sakit harus diterima dengan kegembiraan dan rasa mabuk untuk sembuh. Tirani sakit dengan demikian hanyalah jalan yang disodorkan kehidupan sebagai tempaan. Maka, sakit pun harus dihadapi secara personal, untuk &#8221;menemukan dan menumbuhkan&#8221; gizi spiritual. Kita tidak membiarkan dihancurkan dan dihanyutkan oleh rasa sakit, tapi mengolah diri melampaui rasa sakit itu, dan menerima kesembuhan sebagai hal yang biasa.</p>
<p>Di titik itulah, Epy memberi tekanan. &#8221;Lewat pengobatan alternatif, syukur-syukur bisa sembuh, dan tambah ganteng,&#8221; katanya, sembari tertawa.</p>
<p>Dia menerima sakit itu sebagai sesuatu yang &#8221;rahasia&#8221;, tak terelakkan, dan dengan demikian, sembuh pun bukan sesuatu yang luar biasa. Rasa syukur dia tujukan bukan pada harapan akan lahirnya kesembuhan, tapi lebih, meski mungkin canda, kemungkinan untuk jadi ganteng. Inilah cara penerimaan yang rileks, bersahabat, sakit adalah bagian dari tubuh, dan dengan demikian, bukan &#8221;indikasi&#8221; kehadiaran Tuhan dengan wajah yang marah, menegur, atau memberi cobaan.</p>
<p>Dalam tahap itulah, sakit tetap membuat Epy berpikir sehat. Tak ada penyalahan. Menerima kondisi, bagi Epy, adalah obat pertama. Karena itu juga, jika pun tak sembuh, dia tak cemas. &#8221;Umur di tangan yang kuasa. Akhirnya saya bangkit dan tetap berkarya saja, daripada ikutin omongan dokter. Dokter bukan Tuhan, ya sambil nunggu sembuh, saya menulis,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Epy berobat, dan dia menunggu sembuh. Ini juga sikap yang sama dengan penerimaannya pada sakit, tidak menyerah, tapi bukan merasa pasti. Epy menunggu, menerima situasi apa pun yang terjadi padanya. Sakit dan sembuh, sehat atau dipanggil, adalah bagian yang terberi, tak harus dielakkan.</p>
<p>Berada dalam derita sakit, bagi Epy, barangkali adalah seperti pertapa ketika kali pertama membuka mata, dan melihat realitas dengan sudut pandang baru, begitu memesona. Pertapa yang bangun dari ikhtiar panjang, dari perjalanan batin yang luas, untuk bergerak dalam kenyataan.</p>
<p>&#8221;Dokter itu bukan Tuhan&#8230;&#8221; katanya. Epy menyadari, hidup, dan juga usia, bukanlah persoalan matematika, yang bisa dipastikan segera detik dan jamnya. Selalu ada misteri, yang tak terbaca manusia, juga teknologi. Epy percaya pada misteri itu, pada harapan, pada doa, dan juga usaha. Selebihnya, dia cuma menunggu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahkata.net/?feed=rss2&amp;p=692</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

