Epy Tahu dan Menunggu

January 29, 2011

Siapa kita sesungguhnya, dapat dilihat dari bagaimana kita menghadapi sakit. Epy Kusnandar mengerti benar hal itu.

Ketika kanker otak mendera, wajah sedih memang masih tampak di wajah yang dia hiasi senyum itu, tapi bukan raut yang putus asa. Dia masih gembira, banyak tertawa, dan mampu mengirim lelucon, yang bahkan seperti mengejek sakitnya. Sakit, bagi lelaki yang acap bermain sinetrom komedi itu, barangkali semacam terminal, untuk mencapai hidup yang lebih. Dengan bahasa sederhana, dia mengatakan itu, seperti dikutip ”Insert” Selasa (25/1) lalu. ”Jika saya masih bisa merayakan ulang tahun ke-47 Mei nanti, saya optimis untuk sembuh. Mei itu sudah batas waktu empat bulan vonis dokter,” katanya sembari tertawa. ”Pemirsa, sampai jumpa tanggal 1 Mei ya….”

Sakit, seperti hidup, adalah sesuatu yang terberi. Datang begitu saja. Kita, acap kali, tak bisa mengelak, bertanya, apalagi menggugat. Hanya menerima. Kadang tanpa musabab, tak tahu asal.

”Tidak tahu gimana, tiba-tiba dia sering pusing dan muntah-muntah. Kadang sampai pingsan. Setelah itu baru dibawa ke dokter,” jelas Karina Ranau, istrinya.

Dan karena itu, sebenarnya, sakit bukanlah sesuatu yang harus disesali, ditolak, apalagi disedihkan. Bahkan, dalam perspektif Nietzscean, sakit adalah kesempatan untuk konsolasi, peluang untuk menemukan hal baru dalam kehidupan. Sakit tak memerlukan kambing hitam, atau penyalahan atas sesuatu yang menimpa kita. Kebutuhan akan kejelasan dan pencarian kambing hitam atas sakit, bagi Nietzsche, adalah cara berpikir yang sakit. Cara berpikir semacam itu, membuat si sakit menemukan kompensasi yang tak benar. Makanan, udara, apa pun, bisa disalahkan, meski hal yang sama tak berpengaruh apa-apa pada orang lain. Cara berpikir yang sakit ini, selalu mencari kambing hitam, pada titik ekstem, juga akan ”menyalahkan” Tuhan.

”Barangkali ini cara Tuhan menegur saya,” kata Dinda Kanya Dewi, ketika wajahnya terluka akibat kecelakaan mobil.

”Ini cobaan Tuhan,” ucap Bunga Citra Lestari, ketika dirawat karena lambungnya bermasalah.

”Musibah ini barangkali cara Tuhan memanggil saya untuk kembali dekat pada-Nya,” kata Sammy, mantan vokalis Kerispatih, saat tersangkut narkoba.
Tapi Epy, sejauh saya ikuti dalam berbagai berita, tak sekalipun dia mengatakan sakit itu sebagai teguran atau cobaan. Dia meletakkan sakit sebagai fase ”tetirah”, berhenti sebentar, terminal, untuk menemukan arah, tujuan, jalan, yang lebih baik. ”Allah pasti akan beri jalan kalau saya terus berusaha,” yakinnya.

Bahkan, sakit itu dia anggap tantangan. ”Jadi saya akan terus berjuang melawan sakit ini.”

Sakit harus diterima dengan kegembiraan dan rasa mabuk untuk sembuh. Tirani sakit dengan demikian hanyalah jalan yang disodorkan kehidupan sebagai tempaan. Maka, sakit pun harus dihadapi secara personal, untuk ”menemukan dan menumbuhkan” gizi spiritual. Kita tidak membiarkan dihancurkan dan dihanyutkan oleh rasa sakit, tapi mengolah diri melampaui rasa sakit itu, dan menerima kesembuhan sebagai hal yang biasa.

Di titik itulah, Epy memberi tekanan. ”Lewat pengobatan alternatif, syukur-syukur bisa sembuh, dan tambah ganteng,” katanya, sembari tertawa.

Dia menerima sakit itu sebagai sesuatu yang ”rahasia”, tak terelakkan, dan dengan demikian, sembuh pun bukan sesuatu yang luar biasa. Rasa syukur dia tujukan bukan pada harapan akan lahirnya kesembuhan, tapi lebih, meski mungkin canda, kemungkinan untuk jadi ganteng. Inilah cara penerimaan yang rileks, bersahabat, sakit adalah bagian dari tubuh, dan dengan demikian, bukan ”indikasi” kehadiaran Tuhan dengan wajah yang marah, menegur, atau memberi cobaan.

Dalam tahap itulah, sakit tetap membuat Epy berpikir sehat. Tak ada penyalahan. Menerima kondisi, bagi Epy, adalah obat pertama. Karena itu juga, jika pun tak sembuh, dia tak cemas. ”Umur di tangan yang kuasa. Akhirnya saya bangkit dan tetap berkarya saja, daripada ikutin omongan dokter. Dokter bukan Tuhan, ya sambil nunggu sembuh, saya menulis,” tegasnya.

Epy berobat, dan dia menunggu sembuh. Ini juga sikap yang sama dengan penerimaannya pada sakit, tidak menyerah, tapi bukan merasa pasti. Epy menunggu, menerima situasi apa pun yang terjadi padanya. Sakit dan sembuh, sehat atau dipanggil, adalah bagian yang terberi, tak harus dielakkan.

Berada dalam derita sakit, bagi Epy, barangkali adalah seperti pertapa ketika kali pertama membuka mata, dan melihat realitas dengan sudut pandang baru, begitu memesona. Pertapa yang bangun dari ikhtiar panjang, dari perjalanan batin yang luas, untuk bergerak dalam kenyataan.

”Dokter itu bukan Tuhan…” katanya. Epy menyadari, hidup, dan juga usia, bukanlah persoalan matematika, yang bisa dipastikan segera detik dan jamnya. Selalu ada misteri, yang tak terbaca manusia, juga teknologi. Epy percaya pada misteri itu, pada harapan, pada doa, dan juga usaha. Selebihnya, dia cuma menunggu.

Surat untuk Aa Gym (2)

January 15, 2011

Aa Gym yang baik, bolehkan saya tahu, bagaimana kabar Teh Ninih hari ini?

Di saat-saat seperti ini, saya ingin sekali mendapat kabar Teh Ninih dari Aa. Bukan, bukan karena saya kehilangan kabar Teh Ninih, melainkan saya ingin sekali melihat nada suara Aa ketika menyebutkan sosok yang sudah saya anggap Mbak dan Ibu saya itu. Saya ingin tahu, apakah Aa masih menyebut nama itu dengan nada cinta dan keberterimakasihan, seperti saat dulu Teteh mendampingi Aa mengumumkan perpoligamian itu, ataukah sudah ambang, karena Aa akhirnya tahu, Teh Ninih mengerti bahwa Aa tak bisa seadil seperti yang Aa janjikan dulu.

Aa, di pengajian di Masjid Pondok Indah, Jakarta Selatan, Selasa (11/1) malam itu, untuk pertama kali saya tahu bahwa Aa menganggap perceraian ini hal yang biasa, tak berat, dan sepertinya, konsekuensi yang telah lama Aa sadari akan terjadi. Ya, malam itu Aa meminta jamaah bertanya, dan dibatasi satu pertanyaan. Tapi, penanya ketiga, memberi dua soal, dan Aa lupa mengingat pertanyaannya. Lalu, setengah bercanda, Aa berkata, ”Kelemahan saya, kalau dua, suka lupa yang pertama.”

Aa tersenyum ketika mengatakan itu, dan jamaah ramai tertawa.

Tahu tidak Aa, hati saya sakit mendengar candaan itu. Saya langsung ingat Teh Ninih, Mbak dan ibu saya itu.

Iyya, Aa dapat mengatakan pernyataan itu adalah konteks dari pertanyaan jamaah. Tidak bersangkut-paut dengan istri pertama dan istri kedua, yang memang tak pernah ingin Aa tanggapi. Tapi, secara logika, saya percaya, pernyataan Aa itu adalah ungkapan hati sebagai jawaban atas berbagai prasangka, mengapa Aa ”melepaskan” Teh Ninih. Karena jika hanya menyangkut pertanyaan jamaah, maka yang seharusnya Aa lupakan adalah pertanyaan kedua, bukan pertanyaan pertama. Jadi Aa, jika pernyataan itu murni adalah ungkapan situasional dalam pengajian di atas, maka Aa akan berkata, ”Kelemahan saya, kalau dua pertanyaan, suka lupa yang kedua.”

Dan Aa tidak menyatakan itu. Karena secara nyata, memang itulah yang terjadi, Aa lupa yang pertama.

Aa telah lupa kepada Teh Ninih, ibu yang dari rahimnya telah melahirkan tujuh anak buat Aa.

Masihkan Aa ingat saat dulu dengan didampingi Teh Ninih, mengumumkan alasan poligami? Aa, dengan senyum yang masih sama seperti saat ini, mengatakan bahwa keputusan itu lahir dari keprihatinan karena poligami dianggap sebagai perbuatan tidak benar, sering dicemooh, bahkan diperlakukan tidak sebagaimana mestinya. Istri kedua dianggap sebagai perebut suami orang.

Saat itu, Aa tampaknya ingin mendudukkan posisi poligami, ingin menunjukkan bahwa istri kedua tidak selamanya buruk.

Maaf Aa, dulu, saya tidak terharu dengan penjelasan itu. Dulu, penjelasan itu bagi saya, adalah ”tausiah” terburuk yang pernah Aa sampaikan. Saya sempat berpikir, bahwa Aa ”berlindung” di balik ”penghalalan” poligami untuk memfasilitasi naluriah alamiah Aa, yang mencintai keindahan. Dulu, saya menaruh prasangka pada Aa, dan yakin Aa pasti salah. Maka saya membuat surat untuk Aa, surat yang agak kecewa. Surat yang membuat banyak pengikut dan pengagum Aa ”marah” dan mengecam saya.

Aa tahu tidak. Berbulan setelah menulis surat itu, saya menyesal. Saya merasa salah menilai Aa. Saya mulai percaya, Aa kembali menunjukkan bahwa keteduhan Aa benar-benar dapat tergambarkan dalam perkawinan dua istri tersebut. Saya yang belum apa-apa berdiri sebagai penentang, merasa telah menzalimi Aa, dan mengambil posisi yang salah. Saya melihat ternyata Teh Ninih dan Rini –maaf Aa, saya tak pernah bisa memanggil Teh untuk istri kedua Aa itu sampai sekarang– bisa berdampingan, berbagi suami, dan senyuman: merenda bersama kebahagiaan.

Saya terharu karena Aa benar, tak selamanya istri kedua adalah perebut suami orang. Saya lihat Rini yang pandai membawa dan menahan diri, sebagai madu –tentu lebih manis dari teh– dia tak mengumbar kemanisan, dan acap mendahulukan Teh Ninih daripada dirinya.

Tapi Aa, ketika rasa bersalah saya belum habis, mengapa kini apa yang saya takutkan justru terjadi? Mengapa seluruh ‘’statemen” tentang poligami Aa runtuhkan sendiri? Mengapa lima tahun waktu untuk berpikir sebelum poligami itu, tak menjadi pondasi yang kuat untuk menjaga dua rumah tangga? Mengapa tujuh anak tak juga dapat menahan langkah Aa untuk bertahan dalam sakit dan senang? Mengapa Aa menyalahkan jamaah yang mengkultuskan Aa? Mengapa Aa berkata bahwa Aa adalah manusia biasa? Dan terakhir Aa, mengapa Teh Ninih yang Aa talak? Apakah karena madu memang lebih kuat untuk menjaga stamina? Dan teh hanya membuat gigi menguning tak bagus untuk sebuah senyuman? Mengapa, mengapa, mengapa?

Aa, selama lima tahun sebelum poligami itu, apakah Aa tidak menyadari diri sebagai manusia biasa, tempat alpa dan salah, tempat khilaf dan lemah? Apakah itu bukan ”kesombongan tersembunyi” karena yakin akan mampu adil, bahkan dalam kasih sayang? Dan lalu mencoba?

Di pengajian Masjid Pondok Indah itu Aa juga berkata kepada jamaah agar kuat menghadapi respon negatif dari lingkungan. ”Dihina, dicaci, tidak akan mengurangi kemuliaan seseorang. Ada waktunya sempit, ada waktunya lapang,” kata Aa. Bahkan, Aa berbagai resep jitu, ”Pakai ilmu orang puasa saja. Orang puasa kan biarpun lemas, bisa sabar saja. Sabar karena yakin akan ada adzan magrib. Ya, semua akan ada waktunya. Yang penting tawakal.”

Aa yang baik, saya percaya, seseorang yang benar-benar mulia, tidak akan diogahi, apalagi sampai ”ditinggalkan” pengikutnya. Saya percaya, kemuliaan itu adalah pengusahaan yang terus-menerus, pendakian iman, dalam pikir, dalam zikir, dan terutama, dalam diam. Bukan berseru-seru untuk dimaklumi, dan menangis untuk dimengerti. Saya sangat percaya Aa pasti tahu itu. Kemuliaan bukan sesuatu yang terberi, apalagi yang didapat dari euforia di televisi. Kemuliaan itu Aa-ku adalah perasaan lemah iman terus-menerus, sehingga tak riya, tak merasa kuasa menahan godaan, tak menantang…

Aa, saya setuju sekali dengan Aa untuk meniru orang berpuasa. Karena itulah, sampai kini saya berpuasa terus, melatih sabar, memilih ”lemas”, menahan diri untuk tak berpoligami. Saya percaya, kali ini Aa akan lebih kuat berpuasa lagi, dan mencukupkan diri hanya dengan satu Rini.

Aa yang baik, bolehkah saya tahu, bagaimana kabar Teh Ninih hari ini?

Bicaralah Aa, jangan berdiam diri. Beri kami pengertian, katakanlah alasannya, biar tak lahir praduga, tak lahir prasangka. Biar antara jamaah dan kiainya mendapat predikat yang sama mulia. Karena Aa adalah milik umat, milik jamaah, milik kami, maka berceritalah dan berbagilah kepada kami, bukan hanya untuk seorang Rini.

Aa yang baik, bolehkah saya tahu, bagaimana kabar Teh Ninih hari ini?

Anang, Mata, dan Telinga Kita

March 18, 2010

Anang barangkali telah bosan menjadi bagian dari berita atau gosip. Maka, di panggung ”Dahsyat” itu, dia menciptakan berita, meletikkan gosip: mencium kening Syahrini.

Sesuatu yang biasa sebenarnya.

Juga bukan hal yang tiba-tiba.

Dalam tayangan ulang itu, kita tahu, Anang dengan lembut menarikkan kepala Syahrini. Tak ada penolakan, Syarini mengikutkan tarikan itu, dan membiarkan keningnya dikecup. Tarikan itu, tentu Syarini tahu arahnya. Dan dia tak menolak. Dari gestur tubuh keduanya, kita dapat membaca, aksi panggung itu bukan sesuatu yang tanpa rencana.

Juga blalakan mata Syahrini, setelah ciuman itu.

Apalagi, untuk Anang, ini bukan kali pertama. Sepuluhan tahun lalu, dengan Krisdayanti, dia telah melakukannya dalam video klip “Berartinya Dirimu”, yang memancing sedikit kontroversi. Dan kemesraan semacam itu dia ulang terus dalam klip berikutnya.

Anang, tampaknya, percaya dengan ”teknik” sukses yang sama. Dia menciptakan kontroversi –lebih tepatnya sensasi– dalam suasana yang telah terbangun sebelumnya, konfrontasi rumah tangga. Ciuman itu, tentu saja benar sebagai tanda terimakasih Anang atas kesediaan Syahrini menjadi teman duetnya. Tapi, dalam ”pembacaan kedua”, terimakasih itu lebih untuk kesediaan Syahrini dalam membantu Anang ”melewati” Krisdayanti.

Di sini, Anang memainkan ”ingatan” mata, sebagai senjata pertama. Keterpilihan Syahrini otomatis akan membuat penonton, terutama infotainmen, secara langsung membandingkannya dengan Krisdayanti. Apalagi, lihatlah, cara bernyanyi Syarini, –amati bentangan tangannya, kibaran rambutnya, sampai pemosisian dirinya di hadapan Anang– plek sebangun dengan Krisdayanti. Syarini menang segar. Menang muda. Dan, dalam komentarnya kemudian, penonton juga tahu, Syarini menang manja.

Anang mendapat Syahrini yang ranum, pemula, dan muda. Krisdayanti menggaet Rahul Lemos yang uzur dan kaya. Kita tahu arahnya.

Tak heran, Krisdayanti akhirnya pun ikut bersuara. “Semoga sukses. Tapi kok memilih yang suaranya mirip saya, ya?” tanyanya, dengan blalakan mata yang khas itu.

Wajahnya juga mirip, kata infotainmen. “Lho, bukannya masih cantikan saya?” sergah KD.

Ingatan mata memang hanya bicara sebatas raga, membaca gestur, dan laku sensasi. Anang, dengan menggaet Syahrini, harus diakui, sukses mengelola hal ini.

Selanjutnya, Anang memainkan telinga publik.

Telinga publik, terutama dalam industri musik, ternyata menyimpan ingatan yang panjang. ”Ingatan” telinga itu jugalah yang, mengikuti Adorno dalam esainya ”On Popular Music” membuat industri musik membentuk standar. Lucunya, standarisasi itu bukan sesuatu yang terpola, tapi lebih mengacu pada telinga pasar. Sekali pola musik atau lirik meraih popularitas, skema itu akan diekploitasi sampai mencapai kelelahan komersial. Akibatnya, detil-detil dari satu lagi yang populer akan dapat dipertukarkan dengan detil lagu populer lainnya. Bom lagu-lagu berpola Melayu yang diusung ST 12, dapat menjadi contoh hal itu. Ratusan lagu yang sama, dengan lirik yang sebangun, kemudian menjadi standart baru industri musik saat ini. Ungu harus mendangdutkan diri, bahkan, Wali sampai harus diminta produsernya menjadi Melayu sebelum diterima telinga.

Anang mengerti benar wajah industri semacam itu.

Telinga publik dia isi dengan ingatan akan pola lagu sebagaimana dia duet dulu dengan Krisdayanti, dan lirik berisi cerita kesakitan senapas dengan “Separuh Jiwaku Pergi”. Dengarlah lirik duet yang diulang terus itu, ”Jangan memilih aku/ bila kau tak sanggup setia/ Kau telah mengerti aku/ diriku/ yang pernah terluka.”

Dengan memainkan ”ingatan” mata dan telinga publik, Anang mengangkat masa silam dan masa kininya secara bersamaan. Di panggung ”Dahsyat” itu, secara otomatis, penonton tak hanya menyaksikan keranuman Syahrini tapi juga kenaifan Krisdayanti. Di panggung itu, Anang menunjukkan bahwa dulu dia juga pernah berduet semanis dan semesra itu, dan kini dengan sosok yang berbeda, karena ”ada yang telah tak setia”. Anang dengan serius telah mengelola mata dan telinga publik untuk menaruh empati pada dirinya, dan menjadikan Krisdayanti sebagai terdakwa, tanpa harus dia bawa atau sebut namanya.

Syahrini, bagi Anang, adalah medium, media penyampai pesannya. Tapi, karena kata Marshall McLuhan, the medium is the message, media adalah pesan itu sendiri, maka Syahrini adalah pesan dengan wajah ganda: memikat pemirsa, sekaligus menembak Krisdayanti. Bukan hal yang luar biasa jika kemudian Anang mencium keningnya.

Titiek Puspa dan Kupu-kupu

January 20, 2010

Siapa kita sesungguhnya, dapat dilihat dari bagaimana kita menghadapi sakit. Titiek Puspa tahu itu.

Ketika kanker rahim mendera, wajah sedih tak tampak di rautnya. Dia masih gembira, banyak tertawa, dan mampu menciptakan 69 lagu. Sakit seperti energi. Sakit, bagi nenek yang awet muda itu, barangkali semacam terminal, untuk mencapai hidup yang lebih. Dengan diksi yang indah, dalam jumpa pers di Wisma Puspa, Perdatam, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (19/1/2010), dia mengatakan, “…dalam sakit ini pula saya merasa dibangunkan oleh Tuhan.”

Sakit, seperti hidup, adalah sesuatu yang terberi. Datang begitu saja. Kita, acap kali, tak bisa mengelak, bertanya, apalagi menggugat. Hanya menerima. Kadang tanpa musabab, tak tahu asal. “Oo… akhirnya saya kena juga tho? Saya tahu bapak saya kena, saudara saya juga kena dan sudah dipanggil,” ucap Titiek.

Dan karena itu, sebenarnya, sakit bukanlah sesuatu yang harus disesali, ditolak, apalagi disedihkan. Bahkan, dalam perspektif Nietzscean, sakit adalah kesempatan untuk konsolasi, peluang untuk menemukan hal baru dalam kehidupan. Sakit tak memerlukan kambing hitam, atau penyalahan atas sesuatu yang menimpa kita. Kebutuhan akan kejelasan dan pencarian kambing hitam atas sakit, bagi Nietzsche, adalah cara berpikir yang sakit. Cara berpikir semacam itu, membuat si sakit menemukan kompensasi yang tak benar. Makanan, udara, apa pun, bisa disalahkan, meski hal yang sama tak berpengaruh apa-apa pada orang lain. Cara berpikir yang sakit ini, selalu mencari kambing hitam, pada titik ekstem, juga akan “menyalahkan” Tuhan.

“Barangkali ini cara Tuhan menegur saya,” kata Dinda Kanya Dewi, ketika wajahnya terluka akibat kecelakaan mobil.

“Ini cobaan Tuhan,” ucap Bunga Citra Lestari, ketika dirawat karena lambungnya bermasalah.

Sakit harus diterima dengan kegembiraan dan rasa mabuk untuk sembuh. Tirani sakit dengan demikian hanyalah jalan yang disodorkan kehidupan sebagai tempaan. Maka, sakit pun harus dihadapi secara personal, untuk “menemukan dan menumbuhkan” gizi spiritual. Kita tidak membiarkan dihancurkan dan dihanyutkan oleh rasa sakit, tapi mengolah diri melampaui rasa sakit itu, dan menerima kesembuhan sebagai hal yang biasa.

Di titik inilah diksi Titiek Puspa terasa indah. Dia memakai kata “dibangunkan”, seakan sebelum sakit, ketika sehat, Titiek berada dalam tidur yang panjang. Bangun juga mengindikasikan diri yang bangkit, secara fisik atau batin. “Dibangunkan” juga mengindikasikan keakraban, keintiman hubungan Titiek dan Tuhan. Barangkali juga cinta.

“Dibangunkan” juga penerimaan bahwa Tuhan datang kepada kita bukan dengan wajah yang marah, bukan menegur, atau memberi cobaan.

Sakit diterima Titiek tanpa prasangka bahwa Tuhan tengah marah padanya. Lihat cara dia mengungkapkan ihkwal terkena kanker itu, “Oo.. akhirnya saya kena juga.” Begitu ringan, enteng. “Kena,” seakan sakit kanker itu seringan jerawat, mencret, atau batuk. “Kena”, katanya, seperti menisbankan bahwa sakit itu pasti datang dan tak tak terelakkan karena, “Bapak dan kakak saya juga kena.”

Dalam tahap itulah, sakit tetap membuat Titiek berpikir sehat. Tak ada penyalahan. Menerima kondisi, bagi Titiek, adalah obat pertama. Karena itu juga, jika pun tak sembuh, dia tak cemas. “Saya sudah siap dipanggil, kapan saja,” katanya.

Titiek berobat, dan dia tetap siap dipanggil. Ini juga sikap yang sama dengan penerimaannya pada sakit, tidak menyerah, tapi bukan merasa pasti. Titiek menerima situasi apa pun yang terjadi padanya. Sakit dan sembuh, sehat atau dipanggil, adalah bagian yang terberi, tak harus dielakkan.

Berada dalam derita sakit, bagi Titiek, adalah seperti pertapa ketika kali pertama membuka mata, dan melihat realitas dengan sudut pandang baru, begitu memesona. Pertapa yang bangun dari ikhtiar panjang, dari perjalanan batin yang luas, untuk bergerak dalam kenyataan.

“Saya merasa dibangunkan…” katanya. Dalam sakit, Titiek merasa dirinya adalah ulat yang tidur dalam kepompong, dan Tuhan membangunkannya sebagai kupu-kupu. Betapa indah dia memaknai kehidupan, dan juga kesepian-kesakitan. Betapa intim cara dia berbahasa dengan Tuhan.

Titiek, aku kagum padamu.

Dari Pemakaman Gus Dur

January 6, 2010

Di pemakaman Gus Dur, saya melihat wajah-wajah yang tak akrab di kamera. Ribuan, menyemut, seperti antrian menggotong gula. Wajah-wajah, yang meski asing, tapi memiliki aura yang sama, raut kehilangan. Paras-paras yang meski terlihat tegang menanti hadirnya jenazah kecintaan mereka, tapi tetap mendaraskan doa. Mereka terhimpun oleh semangat cinta yang sama, melihat, menyentuh, atau sekadar melontarkan takbir, sebelum Gus Dur, dikebumikan. Cinta itu membuat mereka terhimpun di sekitar pemakaman, di depan pesantren, di atas pohon, berjajaran duduk di genteng, bahkan menanti di selokan. Dan ketika jenazah Gus Dur tiba, seperti dalam satu tarikan napas, semua mengangkat takbir, bergerak mendekat.

Tapi, “Jenazah Gus Dur seperti dirampas tentara,” kata Pras, seorang pelayat. Dia berharap dapat dekat, minimal menyentuhkan tangannya ke keranda Gus Dur. Tapi protokoler militer, membuat Pras, juga ribuan pecinta lain, kehilangan hak untuk memberikan penghormatan terakhir.

“Gus Dur itu kiai saya, tetap kiai saya, bahkan ketika beliau menjadi presiden,” sesal Rasmanto, pelayat dari Madiun.

Ribuan wajah itu tetap bertahan, bahkan selewat tujuh hari setelah kematian Gus Dur. Seperti terjadwal, mereka bergiliran datang untuk sowan, membaca Yasin, berdoa, di depan pusara, dan pulang dengan segenggam tanah makam, atau sepucuk kembang.

Sampai kemudian muncul kritik, sikap itu dapat menjadikan peziarah terjerumus dalam laku syirik. Sebuah pandangan yang, secara amat menggelikan, mendudukkan keimanan orang lain, peziarah itu, dalam kadar yang rendah, dan mudah goyang. Lalu makam pun dibentengi dari “pejarah tanah dan kembang”, dengan pagar rafia, yang tanpa sadar, menghapus harapan banyak para pecinta.

Arofah, peziarah dari Surabaya, menangis tersedu-sedu, karena tak dapat menjamah makam Gus Dur. “Saya ingin mengambil sedikit tanah, atau bunga. Tapi tak bisa…,” isaknya.

Saya dapat merasakan kesedihan Arofah. Saya percaya, jika Gus Dur masih ada, dia akan membiarkan laku itu, agar setiap orang dapat terus memiliki harapan, terus hidup dalam keriangan-keriangan. Seperti pembiaran Gus Dur, ketika umat berharap dapat mencium tangannya. Karena bagi Gus Dur, efek penciuman tangan itu bukan buatnya, melainkan buat pecintanya, santrinya, yang berharap dapat berkah. Mencium tangan Gus Dur, menggenggam keranda, mensalatkan, menjumputi tanah makam, atau menyimpan kembang, dengan demikian hanya semacam upaya untuk berusaha mendapatkan cahaya di dalam kegelapan. Mengapa dilarang? Mengapa, “Gitu aja kok repot….”

“Saya selalu ingin dekat dengan Gus Dur. Karena tidak bisa waktu beliau hidup, minimal saya sudah bisa dekat di makamnya,” kata Abdul Hakim, peziarah asal Lamongan. Tiga kali dia berziarah, dan baru pada Rabu (6/1), Abdul dapat membaca Yasin persis di depan kuburan.

******

Di pemakaman Gus Dur, saya melihat wajah-wajah yang tak akrab di depan kamera. Ribuan. Mereka menanggalkan status, jabatan, membuang ikatan-ikatan busana kantoran, melibatkan sarung, duduk sebagai santri, membaurkan diri sebagai pecinta. Semua berharap mendapat kehormatan, menurunkan mayat ke lahat, menyentuh Gus Dur atau hanya keranda dan kafan. Wajah-wajah yang tidak saya kenal, yang saya yakin, juga tak bersentuhan dengan Gus Dur secara pribadi. Asing dalam persentuhan fisik, akrab dalam senggama batin.

Di pemakaman Gus Dur, saya juga melihat wajah-wajah yang juga akrab di depan kamera. Ratusan. Mereka tak menanggalkan status, apalagi jabatan, mengenakan busana kantoran, berjas, berdasi, sepatu mengilap, di udara yang terik berkeringat. Mereka santri. Mereka murid Gus Dur. Sebagian bertalian darah, keponakan. Mereka, dulu, selalu bersentuhan secara pribadi dengan Gus Dur. Akrab dalam kontak fisik, tapi kini, bahkan ketika sang Guru berpulang, mereka tetap menjaraki batin.

Ada Muhaimin Iskandar, Saifullah Yusuf, Alwi Shihab, Helmi Faisal Zaini, dan lainnya, yang berkat Gus Dur, jalan politik mereka tersibak lebar.

Mereka murid, “Saya anak ideologis Gus Dur,” kata Muhaimin, dan terlebih mereka santri, dari berbagai pesantren di Jawa Timur.

Mereka juga, dulu, adalah pecinta Gus Dur yang paling masyuk. “Bahkan kalau Gus Dur bilang langit berwarna hijau, saya akan bilang juga hijau,” tegas Muhaimin.

Merekalah saksi terdekat dan penerima berkah dari “kesaktian” Gus Dur.

Tapi di Pesantren Tebu Ireng itu, mereka “cuma” tamu, yang sebenarnya tak ditunggu.

Dan sebagai tamu, mereka terhalang –atau mungkin merasa nyaman– dengan protokoler jabatan.

Muhaimin, dan yang lain, seperti juga SBY, datang dan membuang waktu dengan menyalami pelayat di jalan. Mereka ditunggu jenazah, bukan menunggu. Mereka tak lagi duduk sebagai “warga” NU.

Di pemakaman Gus Dur, di dekat liang lahat itu, saya harapkan melihat Muhaimin dan Saifullah, atau Alwi, berbaju koko, bersarung dan peci, sebagai santri. Mereka menunggu Gus Dur, sang guru, dan berebut untuk ikut menurunkan jenazah ke bumi, sebagai penghormatan terakhir, sebagai tanda tiada keberjarakan. Mereka akan menguruki tanah makam, karena percaya, seperti  puisi Soebagyo Sastrowardoyo, tak ada batas antara kita. Aku masih terikat kepada dunia/ karena janji/ karena kenangan// Kematian hanya selaput gagasan yang gampang diseberangi/ Tak ada yang hilang dalam perpisahan, semua pulih/ juga angan-angan dan selera keisengan.

Tapi, tak ada Muhaimin sebagai murid di pemakaman itu, tak ada Saifullah sebagai santri, atau Alwi sebagai kiai. Mereka, seperti kata Pras tadi, hadir tak lebih sebagai tentara, berstatus pejabat negara, yang membuat Gus Dur “terhalangi” untuk mendapatkan penghormatan seintim mungkin dari para santri dan pecintanya.

Di pemakaman itu, saya melihat dua wajah pecinta, mereka yang melayat karena mencintai Gus Dur, dan mereka yang datang karena mencintai jabatannya.

PELACUR dan Luna Maya

December 30, 2009

Luna Maya marah, dan pelacur dia jadikan senjata. “Infotemnt derajatnya lebh HINA dr pd PELACUR, PEMBUNUH!!!! may ur soul burn in hell!!…” tulisnya di twitter. Dan kita terperangah. Bukan. Bukan karena dia menghina infotainmen, melainkan diksi yang dia gunakan untuk mewakili umpatannya itu. Dengan pilihan kata itu, Luna bukan saja memaki infotainmen, melainkan, dan terutama, menghina pelacur. Tak heran jika di Tegal, para pelacur pun gerah dengan umpatannya itu.

Luna Maya, barangkali, belum pernah menonton Pretty Women. Di film itu, Vivian Ward, pelacur yang cantik itu, memikat kita bukan saja karena pesona fisiknya, melainkan “sejarah” hadirnya. Dia hidup dalam sebuah situasi yang membuatnya tak bisa memilih profesi lain, dan dia tidak bahagia. Di luar jam “layanan” itu, dia adalah sosok yang merdeka, lucu, dengan keluguan yang memancing iba. Dan kita jatuh cinta, terutama ketika mereka yang memandang hina dirinya, ternyata, lebih melacur dalam arti yang sesungguhnya.

Ada dua pelacur di film itu. Sebagai profesi, panggilan keadaan, dan sebagai sikap diri –ketertarikan jiwa. Vivian berada di posisi pertama, dan kita jatuh cinta. Pertama, karena dia punya cita-cita, memberi kita harapan. Kedua, karena profesi itu tak menghancurkan jiwanya, memberi kita rasa nyaman. Kita pun, dengan ringan, bisa menerima kehadiran Vivian, bukan sebagai sesuatu yang asing, apalagi hina. Kita tak pernah mempermasalahkan derajatnya.

Tapi Luna Maya tidak. Dia bicara derajat, dan juga neraka. Seakan derajat, dan juga neraka, adalah soal matematika, hal yang pasti, satu tambah satu sama dengan dua.

Tapi Luna tidak salah.

Kalau pun salah, dia tidak salah sendirian.

Luna adalah wakil dari kebanyakan orang yang memang menempatkan pelacur dalam level kasta terendah dari sebuah profesi, dan layak dijadikan ludah atau umpatan. Karena Luna, seperti kebanyakan orang lainnya, menempatkan profesi dalam skema moralisasi.

Moralisasi adalah sebuah sikap yang memandang apa pun dari kacamata moral. Dengan moralisasi, sebuah situasi selalu diukur dalam skala binner: hitam-putih, salah-benar, hina-mulia. Moralisasi menafikan penilaian yang lebih kaya warna, lebih adil, dan jujur. Termasuk untuk pelacur.

Karena pelacur bukan persoalan moral. Profesi ini bukan sikap diri –ketertarikan jiwa, melainkan ikatan keadaan. Sebagai panggilan keterpaksaan, pelacuran adalah problem sosial-ekonomi, dan dari kacamata itulah seharusnya dia dikaji. Melihat pelacur(an) dari kacamata moral, mengindikasikan sebuah ruang yang steril, hampa, sehingga menceng ke kiri adalah dosa, dan bergerak ke kanan menjumpa surga. Moralisasi dengan demikian bukan saja mengerdilkan melainkan juga menimbang sesuatu secara salah. Moralisasi, mengikuti kata Pramudya Ananta Toer, menjadi tidak adil sejak dalam pikiran.

Apalagi, dari kacamata moral pun, aktris, seperti Luna Maya, bukanlah profesi yang mulia. Di depan kamera –yang sangat berwatak lelaki–, aktris adalah “pelacur” juga. Bahkan, Koyuki Kazahana, Putri Salju dalam Naruto The Movie: Ninja Clash in the Land of Snow pernah berkata, “Menjadi artis adalah pekerjaan rendah yang bisa dilakukan semua orang. Bayangkan, kau harus menjalani hidup yang dipilihkan oleh orang lain.”

“Menjalani hidup yang dipilihkan orang lain,” kata Koyuki dengan nada pedih, yang membuat Naruto terpana. Betapa terasa tersiksa, dan juga hina. Apalagi, jika kita tahu, menjadi aktris lebih sering adalah ketertarikan hati, pilihan sadar, bahkan obsesi!

Tapi tentu, kita tak ingin seperti Luna Maya, yang memandang sesuatu dari moralitas semata. Kita harus lebih dewasa, dan belajar untuk terbiasa menilai sesuatu dari maqom-nya, bahkan ketika amarah mengambil kendali diri kita. Memakilah, mengumpatlah, untuk melonggarkan beban batin kita, tapi ingat, jangan jadikan pihak ketika sebagai senjata. Karena moralis ala “Silet” dan “Insert” bukan bagian dari kita. Karena kita punya Vivian, yang menunjukkan sisi sosial dan moral, dan kita jadi paham cara menempatkannya.

Jadi Luna, ayo kita tonton lagi Pretty Women. Berdua, saja. Ya??

Prasangka Keartisan

December 15, 2009

“Jika mungkin, saya ingin mencari kekasih dari kalangan orang biasa. Artis atau anak band membuat saya takut,” kata Aura Kasih.

Orang biasa. Kata itu jadi populer kini, untuk mendikotonomikan antara mereka yang aktris dan bukan. Dan tiap kali seorang aktris berkekasih “orang biasa”, infotainmen pun ramai menggunjingkannya. Seakan, orang biasa itu jadi aneh, sesuatu yang unik, tak biasa, dan mungkin, akan gagap dalam interaksi dengan pasangannya. Bahkan, dalam beberapa infotainmen, frasa “orang biasa” itu diucapkan dengan sedikit nada cemooh. Dengan kata lain, jika di luar aktris adalah “orang biasa” maka mereka yang aktris pasti masuk dalam kategori “luar biasa”.

Tapi, “luar biasa” dalam hal apa?

Ya, kita ingat klan Azhari. Untuk prestasi pamer tubuh mereka memang luar biasa. Skandal seks apalagi, tiap tahun nyaris ada. Atau Roy Marten, yang dua kali tersangkut kasus sama, kasus narkoba? Atau mungkin kisah semacam Krisdayanti, yang sudah memermak tubuhnya di sana-sini untuk tampil dalam kecantikan yang abadi?

Luar biasa, dengan demikian, hanya mengandung pengertian tentang mereka yang mampu melakukan hal-hal yang tidak umum dilakukan khalayak. Bukan saja karena mereka punya keberanian, melainkan memiliki kuasa uang. Dan yang utama, predikat untuk “tampil berbeda”. Luar biasa menegaskan tentang sesuatu yang dapat mereka lakukan dan tetap dianggap pantas.

Juga tentu, menyangkut moralitas.

Masalahnya adalah, tidak semua mereka yang “luar biasa” itu dapat digolongkan dalam “kelas” yang sama. Keluarbiasaan mereka terkadang dicitrakan dengan moralitas yang “bebas-dosa.” Kita ingat bagaimana Pasha Ungu begitu disorot media setelah sukses album religinya. Bersama Enda, Pasha bercerita bagaimana sisi spiritual mereka, ilham lagu yang demikian kuat, datang seperti kilat, lebih sebagai titipan ilahiah. Dan praktis, busana mereka pun mengikuti. Pasha jadi berpeci, berbaju koko, dan tiba-tiba menjadi sahabat dekat ustad gaul Jefri al-Buchori. Pasha, tiba-tiba, di mata kita, menjadi ikon anak muda yang amat kenal agama dan takwa.

Lalu muncul juga Marshanda. Aktris ini memang punya banyak pemuja setelah sukses berperan dalam sinetron “Bidadari”. Wajahnya yang belum jauh dari remaja dan terlihat polos, selalu menimbulkan rasa sayang setiap melihatnya. Tingkahnya yang sopan, berbicara nyaris tanpa teriakan, dan tak pernah terkena gosip murahan, membuat Cacha terbentengi dari “prasangka keartisannya”.

Prasangka keartisan adalah sejenis praduga bahwa sebaik apa pun seorang aktris tampil di media, penonton selalu percaya bahwa mereka memiliki sisi nakal yang tak ditampakkan. Nah, Marshanda bebas dari itu. Pertumbuhannya dari penyanyi remaja sampai kini dewasa, terjaga dengan ketat. Ada selalu ibu di dalam setiap langkahnya. Marshanda pun menjadi contoh sempurna aktris remaja. Dia seakan menjadi protagonis Sheila Marcia.

Tapi tampaknya, stigma itu mewujud juga.

Pasha, tiba-tiba terbukti sangat tempramental, dan suka main tangan. Okie Agustina yang mendampinginya dari mulai “bebek” sampai dia menjelma “angsa” pun angkat tangan, menyerah, mengembalikan rumah tangganya ke pengadilan: bercerai. Bahkan, setelah perceraian pun, Pasha masih menghadiahkan kekerasan kepada istrinya. “Tempramental. Dia suka memukul saya di depan anak-anak, dan juga memukul anak-anak,” terang Okie.

Marshanda sebaliknya,  mulutnya yang biasa melantunkan nada lembut dan asma Ilahiah, tiba-tiba tersebar di <I>youtube<P> dengan sumpah-serapah. Tak ada lagi kendali. Pasha dan Cacha telah muncul sebagai tawanan amarah. Mereka tak ubahnya sosok “orang biasa” yang jika emosi dan dalam tekanan jiwa, melakukan tindakan yang terkadang tak pernah dipikirkan. Lalu, semua terpana. Tak mengira, bahwa pribadi yang demikian terjaga dan menjadi sandera citra, dapat juga terlempar dalam laku “orang biasa”.

Lalu, di mana beda tegas antara aktis –yang mengklain sebagai luar biasa– dan kita-kita yang diklain media sebagai kaum biasa? Satu saja. Jika berbuat salah, kita mengakuinya dan berusaha tak mengulanginya. Sementara mereka, para sandera citra itu, tak pernah merasa salah, tak pernah mencoba memperbaikinya. Tak heran, kita sering mendapatkan mereka terjerembab, berkali-kali, di dalam kesalahan yang sama. Betapa luar biasa!

Terjerat dalam Diva

October 31, 2009

Krisdayanti memang seorang diva. Diva bukan saja karena performa suara dan pencapaian karier bermusik, melainkan juga gaya dan kepintarannya membawa diri, dan membahasakan perilakunya. Lihatlah.

Lihatlah di televisi. Setelah lama berdiam diri, dan hanya tampil sesekali untuk bernyanyi di “Inbox” SCTV atau “Dahsyat” RCTI, KD, demikian dia biasa dipanggil, menggelar jumpa pers setelah resmi menjadi janda, dengan bahasa dan gaya yang sempurna. Krisdayanti tidak saja tampil dengan percaya diri dan dapat bercanda dengan kerling mata, atau gelak tawa, tapi juga mampu memilih diksi yang kuat dan kalimat bijak untuk menyampaikan pendapatnya.

Misalnya, untuk kegiatan dia selama “menyepi” dari media, ibu dari Aurel dan Azriel ini berkata, “Saya lebih banyak baca dan berpikir. Lebih intens kepada ibadah untuk mengobati batin saya.”

Dalam masa “berobat” itu, KD tak menerima telepon siapa pun, dan menonton berita apa pun. Dia menutup diri. Tapi, bagi KD, bukan itu yang terjadi. “Saya enggak menutup diri. Saya diam karena hal itu tepat, di saat orang menyalahkan saya. Ini masalah kamar dan enggak ada yang berhak ikut campur. Saat ini saya bisa menerima dan berbicara, hanya saya, Anang, dan Allah yang tahu,” ucapnya, yang mengaku tidak menggunakan ponsel dengan nomor yang biasa dia gunakan selama dua bulan.

Pelantun “Aku Wanita Biasa” itu pun mengaku tak lagi terluka. “Tapi Alhamdulillah, sekarang lahir batin saya sudah sembuh. Saya berusaha menutupi kesedihan saya untuk melawan kesedihan ibu saya. Ya double kerja keras,” ujarnya.

“Tidak ada yang berubah, saya ikhlas,” katanya mengenai dirinya setelah menjanda. Atau, “Saya ingin membahagiakan orangtua dan keluarga saya di masa depan.” Juga pengakuan, “Saya sekarang telah menjadi single mother dan harus bekerja untuk anak-anak saya. Saya ikhlas hak asuh anak-anak jatuh kepada ayah mereka. Saya yakin Anang akan bertanggung jawab atas anak-anak.”

Sempurnalah.

KD memang selalu sempurna di depan kamera. Bahkan, ketika mengumumkan keretakan rumah tangganya, di bulan puasalalu , dia memulai dengan kalimat yang bercahaya. “Saya yakin ini adalah hari yang berat, karena saya sedang menjalankan ibadah. Tadinya, saya tidak mau, tapi saya harus mengikhlaskan ibadah saya terganggu dengan pemberitaan yang ada.”

Soal pilihan cerai, dia bahasakan dengan, “Saya dan Anang memutuskan tidak melanjutkan kerjasama menyatukan hubungan tali pernikahan. Saya dan Anang memutuskan tali pernikahan dalam keadaan terbuka, tidak mencari kesalahan.”

Dahsyat!

Tapi, hidup seseorang bukan hanya tercatat dan dilihat dari yang tampak di mata kamera.

Sebelum perceraian itu, kita tahu, KD baru saja meluncurkan buku Catatan Hati krisdayanti, My Life My Secret. Dalam buku itu, KD mengaku tak sempurna. Sosok yang tampil di depan kamera itu, adalah diri imitasi, sebagai harga yang harus dia tebus untuk para penggemar yang membayar mahal agar dapat menikmati dirinya. Buku itu, bagi KD, adalah fase terpenting dalam hidupnya, ketika sudah dapat memaafkan diri sendiri.

“Saya hanya ingin bicara kejujuran dalam diri saya. Ini adalah kejujuran yang menuju pada puncak kedewasaan. Saya berada pada puncak ketidaknyamanan dan saat ini ingin berdamai dengan ketidaknyamanan itu,” ucapnya saat peluncuran buku itu.

Artinya, setelah buku itu terbit, KD tak ingin lagi berlaku seperti apa yang dia pertunjukkan dan akui selama ini. Akan hadir KD yang berbeda.

Dan, peluncuran buku itu belum lama. Penggalan pengakuannya masih terngiang di telinga pembaca, termasuk asmaranya yang berkobar bersama Anang, paska permak paha dan payudara. “Anang grogi,” akunya.

Lalu, semua sia-sia.

Pengakuan itu tak lebih fatamorgana.

Buku itu, pengakuan tak sempurna itu, adalah rekayasa paling sempurna untuk “menjual” dirinya. Pengakuan pertobatan itu adalah citra yang paling penting untuk dapat diterima massa. Perasaan bersalah itu adalah magnit yang dia tembakkan untuk mendapat simpati.

Bukan rasa bersalah yang lahir dari dalam diri. Bukan, meminjam diksinya, “kejujuran yang menuju puncak kedewasaan.”

Semua cuma rekayasa. Permainan panggung. Pemanfaatan media. Pertukaran citra.

KD tak pernah berubah. Karena di dalam dirinya, dia tak pernah merasa bersalah. Termasuk juga perselingkuhan itu, yang disaksikan Aurel, anaknya. Atau kesakitan yang diterima Anang dan anak-anak mereka karena pengakuannya bahwa dalam pernikahan itu dia tak pernah merasa bahagia. Karena, kita harus tahu, sudah sejak lama Krisdayanti tidak hidup untuk dirinya, untuk suaminya, anak-anaknya, atau keluarga besarnya.

Krisdayanti hidup untuk penggemarnya. Untuk seluruh citra yang dia bangun. Untuk semua kesempurnaan yang tercipta di dalam benaknya.

Maka tak salahlah kalau dia mendapuk diri menjadi diva, yang rela mengorbankan banyak hal agar selalu dapat terlihat sempurna.

Untunglah, kita selalu tahu, karena tak sempurnalah maka kita disebut sebagai manusia.

Katuranggan Miyabi

October 15, 2009

Maria Ozawa memang digdaya. Dia tiada, absen, tapi “hadir”, nyata. Kehadirannya bahkan lebih gempa daripada berita penanganan akibat prahara di Padang sana. Di halaman depan beberapa media, Ozawa terpampang sembari tertawa. Lanjutan berita bencana Sumatra, tersingkir. Dan begitulah, semua pun menjadi latah, memberi opini, merilis biografi atau filmografi, mendukung atau menolak Miyabi.

Sekian saat, kita lupa, bahwa ada persoalan yang lebih besar daripada Ozawa. Ada Ramlan, yang untuk hidup dan keluar dari puing gempa, dengan bismillah, memotong kakinya. Ada Sari dan Suci, yang selama 48 jam, berdoa dan mengerangkan nama anaknya, sampai pertolongan datang. Ada ribuan korban tanpa nama, puluhan bayi yang mengganti susu dengan mi, ratusan rumah hancur, tangis, jerit, wajah putus asa….

Gempa itu, pekik, jerit pilu, yang hadir sebagai kiamat kecil di Padang sana, nyaris alpa di percakapan facebook kita. Tengok Ozawa, “status” facebook dipenuhi namanya, hadir antara cibiran dan doa. Kelompok aktivis perempuan, tokoh politik, aktris dan pengamat film, akhirnya ikut dalam keramaian percakapan syahwati itu. Bahkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma’ruf Amin pun, merasa harus mengomentarinya. “Kami tetap menolak walau dia tidak membuka auratnya. Miyabi itu mukanya muka porno. Sudah sangat transparan,” katanya dengan santai, sebagaimana dikutip Kompas Cyber Media, Selasa (14/10).

“…mukanya muka porno.” Dan wartawan yang berada di sana pun menderaikan tawa.

Saya juga tertawa. Menertawai, tepatnya. Karena, akhirnya, tersingkaplah semua, kontroversi itu datang bukan dari sebuah perdebatan yang ada dasarnya. Muka yang porno itu, benarkah milik Miyabi? Tidakkah “tafsir” kepornoan itu lahir setelah melihat profesinya? Artinya, di wajah Miyabi diletakkan sebuah imaji. Wajah itu dibaca bukan sebagai selembar kertas, melainkan sebrangkas dokumen. Jika busana tak dapat menutup aurat dan syahwat, untuk apa perintah jilbab?

Di sinilah kita menemukan bahwa “muka porno” itu, tidak dipandang dalam laku katuranggan. Ilmu titen itu, kita tahu, lahir dari “kekosongan” masa silam objek. Dia adalah pencocokan dari satu kasus ke kasus lainnya. Dari satu eksemplar wajah ke satu eksemplar wajah lainnya. “Jika wajahnya seperti si anu, memiliki kesamaan, maka tingkahnya, lakunya, mungkin tak jauh berbeda.” Katuranggan dengan demikian adalah menyamakan sesuatu yang mirip dari sosok yang berbeda. Wajah si A yang mirip dengan si B.

Pendapat KH Ma’ruf, kita tahu, tak berada di wilayah itu. Miyabi dia “katuranggankan”, dia persamakan, di dalam dirinya sendiri.

Lihatlah Miyabi dalam busana kesehariannya, ketika dia memakai busana tertutup. Wajah itu, muka itu, tak berperbawa porno. Lihatlah Miyabi ketika tanpa busana, dalam adegan film mesumnya, wajah itu, bagi saya, tetap tidak bermuka porno. Miyabi, dalam keadaan apa pun, wajahnya lebih sering minta dikasihani, disayangi, di-iba-i, daripada dinafsui.

Karena memang, persoalan Miyabi bukan pada wajah.

Karena kepornoan tak akan pernah dapat dicerminkan hanya dari wajah seseorang. Kepornoan itu, Amin, adalah produksi pikiran.

Meski Serat Centhini, terutama dalam pupuh Balabak, juga dalam Kitab Primbon Lumanakim Adammakna memuat katuranggan wajah yang “porno”, tapi ciri itu nyaris tak dimiliki Miyabi. Miyabi tentu tidak berpandangan nguwung, bertubuh agak melengkung, roman muka galak, dan rambutnya panjang dengan sinom menggumpal. Sekali lagi, persoalan Miyabi bukan pada wajah, yang bahkan, menurut Otto Sukatno CR dalam Seks Para Pangeran: Tradisi dan Ritualisasi Hedonisme Jawa, “sesuatu yang rumit karena seks tidak bisa dinilai hanya dari segi penampilan lahiriahnya semata.”

Sekali lagi, kontroversi dan keramaian Miyabi di sini, bukan pada wajahnya, atau pada profesinya. Karena sesungguhnya, dalam tiap percakapan itu, Miyabi absen, tak hadir. Yang ada, dan nyata, sebenarnya adalah percakapan syahwat kita, kegembiraan kita memperbincangkan hasrat, keliaran fantasi. Miyabi atau Ozawa hanya media, objek, barangkali juga pintu, saluran dari nafsi kita.

Memperbincangkannya, kita mendapatkan surga, sembari melempar dosa dan neraka pada wajahnya.

Yang tak Diambil Maut

August 18, 2009

Benarkah kematian datang tanpa rencana, selalu tiba-tiba?

Kita bisa menjawab, tidak. Kematian selalu datang seperti tamu yang telah dijadwalkan datang. Dia mengetuk, dan kita mengizinkannya masuk. Mbah Surip misalnya, melafalkan izin itu, sebagaimana yang tayang di televisi. “Jika nanti mati, Mbah pengen dimakamkan di Bengkel Teater Rendra, di bawah pohon jengkol dan pohon kopi, hahahaha…” katanya.

Maut, memang datang tidak dengan wajah yang kejam. Dan terkadang, kita gagal mengenalinya. Mbah Surip pun kita anggap bercanda. Tapi ketika kematian itu terwujud, kita jadi paham, sang Maut memang punya banyak wajah. Dia memberi isyarat meski tak selalu dapat ditangkap.

Kematian, dengan demikian, bukanlah sesuatu yang jauh. Dia dekat, dan dapat diamati, dicatat, jika kita cermat. Kematian, meminjam Subagyo Sastrowardoyo, seakan kawan berkelakar yang mengajak tertawa -itu bahasa semesta yang dimengerti. Dan karena akrab, kematian tidak menjaraki yang hidup dan mati. Lihat, tak ada batas antara kita. Aku masih terikat kepada dunia/ karena janji/ karena kenangan// Kematian hanya selaput gagasan yang gampang diseberangi/ Tak ada yang hilang dalam perpisahan, semua pulih/ juga angan-angan dan selera keisengan.

Tak ada yang hilang, semua pulih. Betapa benarnya.

Kematian, pada dasarnya, memang tak mengambil apa-apa. Memang ada tubuh Mbah Surip yang terbujur kaku, ada tangis yang mengiris, terbang bersama udara yang pengap, ada tawa hahahaha yang tiba-tiba lindap. Tapi, maut tak mengambil spirit, jiwa. Hari-hari ini, kita menemukan kenyataan itu: dalam tiap lagu “in memoriam” Mbah Surip, kita masih merasakan ruhnya, mendapatkan karakternya.

Maut, bisa jadi, hadir bukan dengan maksud untuk meringkus “yang hidup”. Tak heran kalau Eckhart Tolle meyakini, “Kematian itu tidak ada. Yang terjadi hanyalah perubahan energi. Jadi, sebagai energi, yang mati itu tetap dapat terhubung dengan kita kembali,” kata penulis buku A New Earth, dalam acara “Oprah Winfrey Show”.

Tolle benar. Yang tak dikalahkan kematian, “yang hidup” itu, bahkan menempati jalur yang bebas hambatan. Dia tidak lagi Mbah Surip yang harus tergantung pada kopi, ojek, atau supir, tapi “Mbah Surip” yang abadi, yang berjalan-jalan dalam bentuk energi: kenangan. Kenangan itu, adalah keabadian yang dititipkan sang maut, sebagai tanda, kematian tak pernah utuh menjemput. Ada yang tetap ditinggalkannya untuk yang hidup, sebagai kawan duka, bahwa memang ada yang pergi, tapi tidak selamanya. Ada yang berpulang, tapi bukan tidak kembali. Kenangan akan terus memanasi ingatan, membuat yang tiada kembali menjadi ada.

Tak gendong ke mana-mana/ Tak gendong…. Dengarlah, bukankah dalam kepala kita, tetap hadir sosok berambut gimbal itu, dengan topi tiga warna, tubuh yang condong, dan tawa kerasnya, HAHAHAHA….

Tubuh itu terbujur kaku, kita tahu. Tapi, kita pun menyadari, bukan tubuh renta bau kopi itu yang kita cintai. Yang selama ini menyentuh kita adalah jiwa yang bersembunyi di dalamnya, yang “jelata”,  seperti sahabat setelah lama tak jumpa: rindu.

Maka, dalam tiap kematian kita tahu, tangis selalu sementara. Tapi kenangan, –sapa sahabat yang lama tak jumpa itu– abadi bersama kita. Hari-hari ini, seperti klipnya, kita pun menggendong Mbah Surip ke mana-mana. Dia selalu hidup bersama kita.

[Telah dimuat sebagai "Tajuk" dalam tabloid Cempaka, Sabtu 9 Agustus 2009]

« Previous PageNext Page »