Wahidin, Pionir BU

September 12, 2008

Di penghujung tahun 1907, seorang lelaki tua, berteman sebatang tongkat dan blangkon yang memudar warnanya, memberi ceramah di depan mahasiswa STOVIA. Pramudya Ananta Toer dalam Jejak Langkah, melalui tokoh Minke, melukiskan lelaki tua ini dengan menakjubkan. Mata lelaki tua itu, bercahaya, seakan menyimpan bara semangat yang luar biasa. Dia berpidato tentang gagasan baru, tentang masa depan Indonesia. Gagasan yang di era itu seperti bersit sinar di malam gulita.

Di antara mahasiswa Stovia, hadir Soetomo. Dia tergugah dengan pidato yang tenang tapi meledak-ledak itu. Dalam buku Kenang-kenangan, Herrineringen Soetomo menulis dengan penuh puji. “Berbicara dengan dia merupakan pengalaman yang sangat mengharukan. Dengan mudah orang tahu tentang luhurnya semangat pengabdian dokter ini”. Dan kelak, Soetomolah yang berusaha mewujudkan pidato lelaki tua itu.

Pengide yang tersingkir

Tapi, siapakah lelaki berblangkon yang sanggup memukai mahasiswa STOVIA itu? Dia tak lain adalah Dr Wahidin Sudirohusodo. Kedatangan dokter jawa ini tak lain karena dia sudah merasa putus asa menyampaikan ide-ide besarnya pada rakyat jelata.

Lima tahun sebelum pidato yang menggemparkan itu, Wahidin sudah mulai menyebarkan idenya melalui majalah Retnodoemilah, berbahasa Melayu dan Jawa. Di majalah yang terbit tiga kali seminggu itu, dia meliput tentang organisasi-organisasi pribumi tradisional. Dalam terbitan 4 Januari 1901 misalnya, dia menulis tentang Mardiwara (Berupaya), organisasi diskusi di antara pejabat kerajaan. Tiga edisi kemudian, dia meliput kelahiran Suria Sumirat (Matahari Bersinar), sebuah organisasi pengrajin yang bertujuan meningkatkan mutu produk dan daya sebar barang sampai ke Eropa. Di edisi ke-15, Wahidin bahkan langsung memuat pidatonya di depan organisasi tradisional itu, tentang perlunya kebangkitan Jawa. Dia menggelar bukti, pendidikan modern dapat disatukan dengan budaya Jawa, untuk memperbaiki kualitas hidup. Dalam pidato yang berisi itu, Wahidin memaparkan kebangkitan bangsa lain di Asia, seperti Cina dan Jepang. Juga mencontohkan kaum pendatang di Jawa yang justru lebih maju dan giat berorganisasi.

Tapi, semua ”provokasi” Wahidin tak menemukan gema. Para pembaca dan pendengarnya hanya mengangguk, tanpa berbuat apa-apa. Dan Wahidin takut, cita-citanya lapuk di makan usia.

Di usia 53, di pertengahan tahun 1906, dia mengambil keputusan penting, meninggalkan Retnodoemilah dan berkelana. Tujuannya satu, memprovokasi para pemuka Jawa sekelas bupati (regent) untuk menggalang dana yang kelak disalurkan sebagai beasiswa (studiefond) untuk rakyat tak mampu, yang berminat sekolah ke Nederland.

Tapi, banyak bupati yang tak mendukung ide itu. Mereka takut, jika peradaban baru muncul, posisi kepriyayian mereka akan tergeser, dan keistimewaan keluarga akan lenyap. Namun, Bupati Serang Raden Adipati Aria Achmad Djajadiningrat mendukung tulus ide ini, dan memberikan berbagai bantuan bagi Wahidin untuk meluaskan ide-idenya, hingga sampai diundang ke Stovia.

Para mahasiswa itu, dimotori Soetomo, mewujudkan ide Wahidin. Budi Utomo pun lahir. Sayang, organisasi modern pertama ini justru menciderai ide mulia itu, dengan menekankan unsur kesukuan, kejawaan. Dengan alasan demi perkembangan organisasi, usul Tirto Adisurjo tentang paham kebangsaan dan usul Wahidin tentang beasiswa, ditolak. Sampai bubarnya, Budi Utomo tetap berorientasi kesukuan, dan tak mengadopsi ide-ide Wahidin. Dia pengide, dan dia disingkirkan.

Jiwa yang Gelisah

Wahidin lahir di desa Mlati, Yogyakarta, pada 17 Januari 1852, sebagai priyayi desa bergelar Mas Ngabehi. Sejak kecil, dia dikenal lincah dan pintar. Tak heran jika kemudian Wahidin kecil tercatat sebagai bumiputera pertama yang diterima di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar untuk anak-anak Eropa.

Tahun 1869 dia tamat, dan langsung melanjutkan ke Inlandsch Geneeskundige, sekolah dokter bumiputera. Di sini Wahidin pun terkenal giat dan pintar. kejutan kembali dia raih, menjadi asisten dosen, dan setelah tamat, 1872, dia mengajar di sekolah itu.

Selama mengajar inilah Wahidin merasa betapa jauhnya jarak antara pribumi dan warga Belanda. Dia kemudian keluar, dan membaktikan diri menjadi dokter kesehatan di Yogyakarta. Namun, selama menjadi dokter pun, dari keliling daerah saat mengunjungi pasien, dia merasa gelisah melihat bangsanya. Dia menyusun pikiran besar, dan di tahun 1899, dia keluar. Di usia 49 tahun, Wahidin percaya, hanya perslah yang akan mampu menyebarkan dan membantu mewujudkan idenya. Sayang, kenyataan berbicara lain.

Tak banyak catatan tentang kehidupan pribadi dokter santun ini. Dia menikahi wanita Betawi, Anna, dan berputra dua. Seornag putranya adalah ahli lukis terkenal di masa itu, Abdullah Subroto. Dan cucunya adalah maestro seni lukis realis Indonesia, Basuki Abdullah.

Sembilan tahun setelah Budi Utomo lahir, dokter yang amat mencintai bangsanya ini meninggal dunia, 26 Mei 1917, dan dimakamkan di desa Mlati, Yogyakarta.

STA, Perangkum Semua Kebudayaan

September 1, 2008

INDONESIA hari ini, juga Indonesia akan datang, tidak dibangun dalam satu hari, juga tidak oleh satu orang. Meski, untuk peletak dasar kebudayaan, ada satu orang yang namanya tak mungkin dihapuskan. Dialah Sutan Takdir Alisjahbana, yang namanya biasa disingkat STA.

Takdirlah yang dengan serius memikirkan kebudayaan Indonesia. Tak hanya melalui Polemik Kebudayaan –yang sampai kini masih acap dibicarakan- dan Majalah Pujangga Baru yang semua dia garap dengan sangat serius, tapi juga upayanya menjadikan bahasa Indonesia menjadi sebuah bahasa modern.

Bagi Takdir, bahasa bukanlah semata alat untuk berpikir. Bahasa adalah pikiran itu sendiri.

Dan modernisasi adalah kunci dari pemikiran Takdir, yang sering diidentikkan orang dengan pembaratan. Padahal, Takdir memaksudkan itu sebagai adopsi rasionalitas. Dan itulah yang terus ia pertahankan mulai Polemik Kebudayaan, sampai di akhir masa hidupnya.

“Perdebatan ketika itu adalah mengenai perbedaan antara yang saya namakan kebudayaan progresif –penguasaan ilmu dan ekonomi yang melahirkan teknologi-dan kebudayaan ekspresif –kebudayaan tradisional yang dikuasai nilai agama dan seni. Yang pertama berdasarkan kerasionalan berpikir, yang kedua berdasarkan intuisi, dan imajinasi,” terangnya di tahun 1986.

“Perbedaan kedua hal itu amat besar. Seperti perbedaan antara kebudayaan Indonesia dan pra-Indonesia. Zaman Islam dan zaman Jahiliyah,” tambahnya di tulisan yang lain.

Sebelumnya di tahun 1985, saat dia berumur 77 tahun, dengan marah Takdir menyerang pihak yang masih merindukan kebudayaan lama atau daerah, sewaktu seminar di Bali. “Kebudayaan lama adalah kebudayaan pramodern yang sama sekali ta pernah menghasilkan teknologi.” Bagi Takdir, kebudayaan adalah totalitas agama, ilmu dan teknologi. “Kebudayaan pramodern, irrelevant dengan totalitas itu,” kecamnya.

Guru yang Ganas

“Sewaktu lahir, Takdir tak menangis, tapi langsung berdebat.” Begitulah kelakar teman-teman masa mudanya, menggambarkan betapa acapnya tokoh satu ini mendebatkan banyak soal.

Lahir di Natal Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, 11 Februari 1908, Takdir mengaku berdarah campuran.
“Ayah saya berdarah Jawa, namanya Raden Alisjahbana, gelar Sutan Arbi. Gelar Raden itu diakui Kesultanan Yogyakarta, dan ayahlah yang pernah diminta memata-matai kegiatan Sentot Alibasjah di Bengkulu. Dari jurusan darah ini, saya memang orang campuran,” akunya sambil bergelak pada Tempo.

Ayah Takdir seorang guru, dan Takdir mewarisi bakat itu. Setelah menamatkan sekolah di HIS Bengkulu (1921) dan melanjutkan ke Kweekschool, Bukittinggi, Lahat, Muaraenim (1925) dia mulai mengajar. Tapi bakat yang diturunkan ayahnya ternyata tak cuma menjadi guru, juga suka bermain bola, berdebat, dan ini yang paling parah, pemberang. Tak heran, dia acap mengamuk mengamati kebodohan murid-muridnya.

“Sering betul saya menampar murid-murid. Suatu hari, saya malah menampar seluruh kelas,” kenangnya.

Peristiwa itu berlanjut. Seorang murid melaporkan peristiwa itu, dan nama Takdir tercantum dalam sebuah liputan di koran Pertja Selatan, dengan berita panas, “Guru yang Ganas”.

Mungkin karena itu Takdir terbang ke Jakarta, melamar menjadi redaktur di majalah Panji Poestaka, tapi ia malah diterima di bagian penerbitan buku. Di Jakarta ini dia masih melanjutkan sekolahnya di Hogere Hoofdacte Curcus (1933), dan melahirkan roman pertamanya, Dian yang tak Kunjung Padam, dan dilanjutkan dengan Layar Terkembang.

Kariernya melesat karena redaktur Panji Poestaka Adinegoro pindah ke Medan. Takdir menggantikannya, dan melesatkan projek “Gerakan Sastra Baru” pada tahun 1933. Gerakan ini membuat dia akrab dengan sastrawan kondang masa itu, Armijn Pane dan Amir Hamzah.

Takdir kemudian berkenalan dengan A Dahleer, seorang Belanda pemilik percetakan Kolf. Lewat percetakan itulah Poejangga Baru pertama kali terbit, yang kemudian Takdir terbitkan sendiri.

“Meskipun pembaca Majalah itu tidak banyak, tapi pengaruhnya besar sekali. Banyak ahli yang menyumbangkan tulisan, di antaranya Prof Husein Djajadiningrat, Maria Ulfah Santoso, Amir Sjarifuddin, Mr Sumanang, dan Poerwadarminta. Ada sekitar 20 orang intelektual Indonesia yang menjadi inti gerakan itu,” kenangnya.

Tenggelam dalam Bahasa

Ketika Jepang masuk Indonesia, Takdir masih sempat menamatkan sekolahnya di Rechtshogeschool dan Leeterkundige Fakulteit Jakarta (1942). Dan ketika Jepang mendirikan Komisi Bahasa Indonesia, Takdir pegang peranan penting.

“Saya diangkat jadi Sekretaris Ahli. Sekretaris sesungguhnya adalah Mr Soewandi,” jelasnya. Namun, sejarah mencatat, Takdirlah yang kemudian menjadi napas Lembaga itu, terutama saat Lembaga itu berubah menjadi Kantor Bahasa, dia mengetuainya. Dan Takdir memulai kerja, menyeragamkan istilah-istilah yang dipakai di sekolah-sekolah.

“Kami berhasil menghimpun lebih dari 400 ribu istilah dalam bahasa Indonesia,” ucapnya bangga.

Di masa Jepang ini, dia pun melahirkan novel Anak Perawan di Sarang Penyamun.

Di era kemerdekaan, Takdir kemudian mendirikan Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK) dan Universitas Nasional, dan menjadi rektornya. Dia menjadi penganjur yang tak kenal lelah untuk usaha modernisasi, menganjurkan penerjemaan karya-karya asing secara sistematis dan berkualitas. Ia pun mendirikan lembaga penerjemahan di Universitas Nasional.

“Semua kebudayaan dunia adalah kebudayaan saya,” jelasnya, saat ditanya kenapa dia begitu getol menerjemahkan berbagai karya sastra dunia. Namun, ia mengaku kecewa dengan kualitas penguasaan bahasa Indonesia.

“Saya kecewa. Ini menunjukkan bahwa bahasa yang pernah menggetarkan dunia linguistik ini, dengan kesanggupan memersatukan 13 ribu pulau, masih saja jadi bahasa yang terbelakang, belum modern, belum menjadi pintu ilmu dan teknologi,” keluh suami tiga istri, dan bapak sembilan anak ini, selain lima novel dan beberapa karya ilmiah.

Obsesi Takdir adalah menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. Ia memberian gambaran bahwa Malaysia, Brunai, Singapura dan sebagian Philipina adalah pemakai bahasa Melayu. Karena itu, dengan kerja sama dan pengertian yang baik, Takdir percaya, keempat negara itu akan mampu mewujudkan bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar di Asia Tenggara.

Sayang, obsesi si perangkum semua kebudayaan itu tak pernah terwujud, sampai ia menutup mata 15 Juli 1995, di usia 87 tahun. Bahkan, sampai kini, enam tahun setelah kepergiannya itu, tak ada pewaris obsesinya yang masih mau mengumandangkan cita-cita itu.

Potret Lusuh Seorang Sastrawan

August 23, 2008

SENJA 1943, seorang lelaki bermata merah, ceking dan lusuh, berjalan di antara gerbong-gerbong tua di Stasiun Senen. Matanya menerawang, sebelum langkahnya terhenti di gubuk reot mesum. Dihampirinya perempuan hamil penunggu gubuk itu, di rebahkannya tubuh ringkih itu di pangkuan si perempuan, matanya tetap menerawang.

Perempuan itu, Marsiti, segera membukai baju si lelaki, memijat punggungnya, dan mereka bermesraan sesaat. Kemudian lelaki itu kembali tenggelam dalam bacaannya, buku puisi Marsman, yang dia curi entah dari mana.

Lelaki itu adalah Chairil Anwar, yang jika gundah pasti mendatangi Marsiti, entah itu untuk bermesraan, mencari makan, atau memamerkan beberapa puisi baru yang telah dia ciptakan atau terjemahkan.

Chairil memang sosok yang jalang. Pelacuran, minuman keras, pencurian buku kecil-kecilan, tapi juga kekacauan perang, selalu dia masuki. Semua itu, bagi dia, adalah kebalauan yang selalu memberi inspirasi. Tak heran jika di kepala dia hanya ada satu kata; sastra. Akibatnya, secara ekonomi Chairil tak pernah mandiri.

Ketakmandirian inilah yang justru membuat Chairil punya banyak teman. “Kadang dia datang menyerahkan sebuah puisi, dan langsung meminta honorariumnya. Dia selalu yakin puisinya pasti kami muat,” kenang Kodrat, redaktur Pustaka Jaya.

Di mata Ida Rosihan Anwar, sosok Chairil selalu menyebalkan. “Ia selalu kelaparan, minta uang, dan makan di sana-sini,” kenangnya. “Tapi anehnya, dia selalu diterima semua kawan, dan jika dia tak datang, banyak yang merasa kehilangan,” tambah Ida, dalam acara “50 Tahun Wafatnya Chairil Anwar” di Taman Ismail Marzuki, 1999 lalu.

“Jika tiga hari dia tidak datang, kami semua kehilangan. Tapi jika dia datang, jatah makan kami pun berkurang. Dia sosok yang menjemukan, sekaligus dirindukan. Bicara dengannya, saya selalu merasa kecil,” kenang Sobron Aidit, dalam situs pribadinya.

Keusilan Chairil memang banyak menebar kenangan. Chairil pernah meminta puisi Sobron untuk dimuat, dan saat dimuat, honornya tak pernah dia terima. “Waktu saya tanya, dengan senyum Chairil bilang, ‘Soto yang kau makan lahap kemarin itulah honormu’. Saya selalu ingat gaya tenangnya jika ketahuan menipu,” tambah Sobron.

Berpihak pada Ibu

Chairil lahir di Medan, 26 Juli 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Orang tuanya bercerai, dan ayahnya kawin lagi. Setelah perceraian itu, saat usai SMA, Chairil ikut ibunya ke Jakarta.

Masa kecil di Medan, Chairil sangat dekat dengan neneknya. Kedekatan ini begitu berkesan bagi Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:

Bukan kematian benar yang menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta

Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda keberpihakan akan nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acap kehilangan sosoknya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada sang ibu.

Sejak kecil, semangat Chairil terkenal liat. Jassin punya kenangan tentang ini. “Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dia dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu karena kami bertanding di depan para gadis.”

Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil menikah.

Pernikahan itu tak berumur panjang. Karena kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah mengajukan cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.

Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.

Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusastraan Indonesia. Dia bahkan menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersetengah-setengah di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, “saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.”

Hatta, Revolusioner di Jalur Lurus

August 15, 2008

SEPANJANG hidup Hatta, ada satu masa yang membuat matanya berlinang air mata. Bukan saat proklamasi, karena ini memang air mata duka. Suatu masa ketika Soeharto berkuasa, dan Hatta tak mendapat izin membentuk Partai Demokrasi Islam Indonesia, ramuan antara Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia, yang diberangus Soekarno.

Masa itu, awal tahun 1970-an, Soeharto adalah raja. Dan Hatta, yang seluruh hidupnya ia baktikan untuk kepentingan negara ini, tak dianggap sebelah mata oleh Soeharto. Bukan hanya haknya untuk mendirikan partai politik dihapus, tapi hak Hatta untuk ambil bagian dalam kehidupan politik pun ditangkal. Hatta tak tahu lagi harus berbuat apa.

Hatta memang adalah sosok yang sunyi. Ia selalu menempuh jalur lurus, dan tak heran, jalam pikirannya gampang ditebak. Tapi dia kukuh dalam pilihan. Hidupnya adalah bauran antara keberhasilan seorang anak manusia, dan kegagalan cita-cita besar: mendemokratisasikan bangsanya. Bukan karena dia tak punya kuasa, melainkan jalan yang telah ia rintis, tiba-tiba ditutup, dibelokkan, bahkan diputuskan. Namun Hatta, dalam diam, tak pernah merasa optimisme itu harus ia tinggalkan.

Tak heran jika Mavis Rose, sejarawan Australia, menulis sosok proklamator ini dengan penuh takjub. Dalam bukunya Indonesia Merdeka: Biografi Politik Mohammad Hatta, yang ia selesaikan jauh setelah Hatta meninggal, terasa sungguh, Rose merasa kehilangan.

“Hatta melukiskan ketegasan, keberanian, dan optimisme yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin Indonesia jika dia harus menghadapi kekuasaan kolonial, dan memerdekakan bangsanya.

“Dia telah memainkan peran yang penting dalam mendirikan Indonesia, sekaligus menjadi seorang negarawan kaliber tertinggi yang siap mengorbankan ambisi, kekayaan, dan kedudukan demi cita-citanya.”

Bukan Sosok Pemberontak

Hatta lahir 12 Agustus 1902, di Bukittinggi, Sumatra Barat. Alam minang, ayah dan kakeknya yang ulama tarekat terkenal, mendidik Hatta kecil dalam kehidupan yang egaliter-demokratis.

Hatta sesungguhnya seorang muslim yang elektis; sufi, wahabi, sekaligus modernis. Meski pendidikan Belanda yang ia terima kelak membuat ia terbius pada filsafat Barat, Hatta yakin, perjuangan untuk rakyat adalah tugas suci agama.

Ketertarikan Hatta pada ekonomi bukan sebuah kebetulan. Semua datang dari keluarga ibunya sebagai pedagang yang berhasil. Dari sinilah Hatta melihat faktor-faktor ekonomi amat berpengaruh bagi rakyat, terutama setelah ia aktif di Jong Sumatren Bond.

Selepas MULO, ia bersekolah ke Prins Hendrikschool, sekolah menengah dagang di Batavia. Di sini ia akrab dengan de Socialisten karya HP Quark, yang membuka matanya, sosialisme bukan temuan Marx tapi sudah ada sejak zaman Yunani.
Sosok Hatta memang bukan tampilan pemberontak. Tapi setelah dia bersekolah di Rotterdam Handelshogeshcool, jiwanya menjadi revolusioner sejati. Dia aktif di Perhimpunan Indonesia, dan saat dilantik menjadi ketua, dia menggugat lewat pidato “Struktur Dunia Ekonomi dan Konflik Kekuasaan” dengan analisa Marx dan Hegel.

Hatta mulai terkenal, dan dunia kolonial agak guncang. Kecamannya dalam jurnal Indonesia Merdeka di jantung kekuasaan Belanda, membuat Kolonial mulai memperhitungkan sosok ini. Terutama setelah raga yang menjauhi minuman keras, dansa dan pergaulan kalangan atas ini bersumpah, tak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Sumpah yang memang ia tepati!

24 September 1927, Hatta menulis pembelaan atas pembuangan dr Tjipto Mangunkusumo ke Bandaneira. Ia ditangkap. Tapi, dalam sidang di mahkamah Belanda, Hatta kian beringas. Gugatannya berjudul “Indonesia Vrij, Indonesia Merdeka”, sangat keras dan tajam: kini menjadi literatur politik klasik.

Hatta tak jera. Namanya melambung, dia kembali ke Jawa. Dia, bersama Sjahrir, mendirikan koran Daulat Rakjat dan menulis dengan pedas. Ini merisaukan Gubernur Jendral Belanda De Jonge, yang menilai dua orang itu lebih berbahaya dari Soekarno. Keduanya ditangkap Februari 1934, dan kemudian di buang ke Boven Digul, Irian. Di tempat paling mengerikan ini, Hatta membawa 16 peti bukunya, dan sampai bebas di tahun 1941, ia tetap menulis untuk koran Melayu dan Belanda.

Selalu Memaklumi Soekarno

Melalui tulisan-tulisannya itu Hatta bukan saja berhasil mengembangkan pemikian politik, ekonomi dan sosial yang amat orisinal melainkan ia juga secara jenial mengaitkan semua itu dalam konsep kedaulatan rakyat. Dia menemukan kontradiksi antara “kolektivisme-komunisme” dan nasionalisme-daulat rakyat”, yang membuat dirinya acap bersebrangan dengan Soekarno.

Hubungan Hatta dengan Soekarno memang drama paling menarik dalam kehidupan awal bangsa ini. Untuk banyak hal, dalam gaya dan konsepsi serta arah perjuangan, mereka memang berbeda. Dan Hatta selalu mengecam keras tingkah laku dan kebijakan politik Soekarno. Tapi secara pribadi, ia merasa saudara kandung Soekarno.

Dalam Demokrasi Kita, bukunya yang mengecam demokrasi terpimpin Soekarno, dia meramalkan kegagalan konsep itu, tapi tetap mencoba memahami Soekarno.

“Soekarno adalah kebalikan dari tokoh Memphisthopeles dalam Faust-nya Gothe. Tujuan Soekarno selalu baik, tapi langkah-langkah yang ia tempuh, acap menjauhkannya dari tujuan itu,” tulisnya.

Demokrasi Kita tentu saja bukan sekadar polemik pribadi Hatta dengan Soekarno. di buku itu dia meramalkan, demokrasi yang disusun atas akar kebudayaan kita akan jaya. Sayang, kejatuhan Soekarno, dan bangkitnya firaun Soeharto tak mewujudkan ramalannya. Maka, dengan masgul dia menulis, mengutip Julian Benda tentang pengkhianatan kaum intelektual, mengecam Soeharto dan menikam cendekiawan yang mengabdi pada kekuasaan itu.

Kepahitan Nabi Komunisme

August 8, 2008

SORE di tahun 1883 adalah senja kemurungan. Di sebuah perkuburan, Engels berkali-kali mengejapkan mata, merangkul dan menghibur Jenny von Westphalen, dan menyuruh para tukang menutup lubang pusara itu. Hanya delapan orang berdiri di sana, bergumam, mungkin berdoa, mengiringi kematian nabi komunisme, Karl Marx.

Ya, Marx memang mati dalam kesepian.

Sepanjang hidupnya Marx memang dikenal sebagai lelaki yang payah. Ia otoriter, dan dalam debat, selain tak mau kalah. Dia juga acap mencibir, lalu memburuk-burukkan pribadi rekannya. Tak heran, jika akhirnya Marx seakan tak punya teman, juga di saat ia sedang kesulitan. Teman yang paling bisa mengerti Marx, dengan segala keburukannnya itu hanya Engeles, penajam pemikirannya, sekaligus sekretaris tak resmi, dan penjamin finansial Marx. Jenny pun, istri Marx, meski terbilang bisa menerima kekasaran lelaki itu, setelah kematian putra mereka saat diterkam kemiskinan, setiap malam, acap histeris, seperti dikejar mimpi buruk.

Marx lahir 5 Mei 1818 di Trier, kota di perbatasan Barat Jerman, yang saat itu masuk wilayah Prussia. Ayahnya, Heinrich, seorang ahli hukum, yang meraih jabatan itu dengan berpindah agama dari Jahudi ke Protestan. Ibu Marx, Henreitta, semula menolak pindah, tapi 8 tahun kemudian, ia menyerah. Marx kecil tahu benar posisi sulit ibunya. Dan kelak, kemudahan si ayah untuk berpindah agama, membuat Marx kehilangan minat untuk beragama.
Sastra, Filsafat, Tersesat

Sejak kecil, perhatian Marx sudah terpusat pada sastra dan humaniora. Dia mendapat tentor yang baik, Ludwig von Westphalen, yang dengan riang menjejali Marx sastra dan filsafat. Hidup Marx pun berjalan dari Shakespeare, Carventes, dan Hegel.

Selepas sekolah menengah, Marx tak membantah di masukkan ke Fakultas Hukum Bonn. Namun, cuma setengah semester ia bertahan, dan melompat ke Universitas Berlin, fokus pada filsafat. Masih semester dua, Marx sudah masuk kelompok diskusi paling ditakuti di kampus itu, Klub Para Doktor, dan menjadi anggota yang paling radikal. Kelompok ini selalu memakai Filsafat Hegel untuk menyerang kekolotan Prussia. Tak heran, klub ini pun digelari “Kaum Hegelian Muda”. Namun karena mereka juga menentang agama Protestan, klub ini digolongkan menjadi Hegelian Kiri, lawan Hegelian Kanan, yang menafsirkan Hegel sebagai teolog Protestan.

1841, Marx menjadi doktor dengan disertasi “The Difference between The Natural Philosophy of Democritus and Epicurus”. Kertas kerja dan pengantar disertasi ini secara jelas menunjukkan Marx sangat Hegelian, dan antiagama. Hal terakhir ini juga yang membuat Marx dicap sesat, dan mulai dijauhi rekan-rekannya.

Meski terkesan, tapi nalar kritis Marx menemukan inkonsistensi filsafat Hegel. Satu pertanyaan selalu mengiang di benak Marx, mengapa masyarakat Prussia tidak seperti yang dicita-citakan Hegel. Marx kemudian tahu jawabnya: Hegel hanya seorang teoretikus. Bagi Marx, itu tak cukup. Ia beranggapan, filsafat harus menemukan tenaga ledaknya sebagai praxis, memerdekakan manusia, menjadi tenaga praktis-revolusioner.

Tulisan-tulisan Marx berikutnya sangat memesona kaum bohemian Jerman. Ketika pemilik koran Reinische Zeitung Moses Hess memintanya menjadi penulis tetap, Marx tak menolak. Tapi, kehadiran Marx cuma membawa bencana bagi Reinische. Tulisan-tulisannya yang secara tajam menghina Rusia, dan membela kaum buruh, mendapat sambutan luas, terutama ajarannya untuk membentuk serikat buruh. Teorinya tentang nilai lebih, membuat Kaisar Rusia Nicholas 1, tak kuasa menahan marah. Nicholas meminta Jerman membredel koran itu, dan tamatlah karier kerja Marx.

Dalam masa menganggur dan miskin itu Marx justru jatuh cinta, dan melamar Jenny, putri mentor masa kecilnya, Ludwig von Westphalen. Keluarga Westphalen menolak, tapi Jenny yang kagum dengan pikiran Marx justru menerima. Dalam kucilan keluarga, di sore April 1843 mereka menikah.
Bersandar pada Engels

Bulan madu bagi Marx justru diisi dengan menulis. Ia meringkas hampir seratus jilid buku-buku filsafat-politik, dari Montesquieu, Rousseau, dan The Essence of Christianity Feuerbach. Kelak, hampir seluruh pemikiran Marx bersandar dari filsafat Feuerbach ini.

1843, Marx pindah ke Perancis. Di sini, meski miskin, pikiran Marx berkembang bak spora. Ia tenggelam dalam filafat Proudhon, Louis Blanc, Fourier, Saint-Simon, dan Blanqui. Tapi, keberuntungan terbesar Marx adalah saat berkenalan dengan Engels. Bersama Engels, Marx menjadi seorang sosialis, yang berpendapat segala masalah sosial bertumpu dari kepemilikan pribadi.

Engels yang kaya, pemilik industri tekstil, menjadi sahabat sejati Marx. Ia merevisi banyak pendar-pendar pikiran Marx menjadi uraian yang tajam dan berstruktur. Engels hanya meminta Marx berpikir dan menulis, dan menjamin ekonomi keluarga Marx, meski tak mewah. Saat Marx diusir dari Perancis pun, Engelslah yang menawarkan London sebagai persinggahan terakhir Marx. Di sini, Marx mencoba bekerja di bagian karcis kereta bawah tanah. Tapi karena tulisan tangannya yang tak terbaca, Marx pun dipecat.

Marx kemudian fokus menulis dan berhenti jadi motivator kaum buruh. Obsesi Marx kemudian adalah menunjukkan teori-teori sosial yang dia tulis menjadi kenyataan. Marx menceburi filsafat ekonomi, dengan susah payah. Baru 1867 ia berhasil menerbitkan magnum opus-nya, das Kapital. Meski buku pertama ini tak jelas fokusnya, nama Marx kian menjulang. Dan Asosiasi Buruh Internasionale Pertama memintanya menjadi pimpinan.

Marx kemudian menjadi penasihat utama dalam aksi-aksi organisasi itu. Tapi, perbedaannya dengan sayap anarkistik Michael Bakunin membuat organisasi itu pecah, sembilan tahun kemudian.

Setelah itu, meski terkenal, kehidupan Marx sepenuhnya berada dalam kesepian. Dia menyelesaikan dua jilid das Kapital lanjutan, menerbitkan artikel untuk New York Daily Trubune, semua atas suntingan Engels. Dan di tahun 1883, nabi komunisme ini meninggal, dalam kemelaratan, dan dikubur tanpa perayaan. Tapi dalam kuburnya, Marx mungkin tersenyum, karena di antara 8 orang yang ikut memakamkannya, ada beberapa buruh dan tukang, kaum yang selama hidup menjadi titik pembelaannya.

Jalan Sunyi Van Gogh (2)

August 7, 2008

HARI bagi Van Gogh terasa cepat. Di galerinya itu, kesibukan kerja membuat ia selalu menemu cahaya awal, fajar pertama. Hasratnya yang tak pernah puas, menuntun jarinya tak hanya melukis, tapi juga menulis; kritik berupa pandangannya tentang seni lukis saat itu. Namun, surat yang terkadang ia tulis berpuluh lembar sehari itu, hanya ia kirimkan pada Theo, bahkan berisi kegundahannya yang paling dalam; perasaan muak, benci pada kelambanannya, putus asa, juga obsesi yang paling liar. Theo-lah yang dengan sabar membalas, dan menyegarkan semangat Van Gogh.

Surat-surat itu, yang disimpan oleh istri Theo, hampir berjumlah 1000 pucuk, kemudian dianggap kritik yang luar biasa, penuh dengan daya jelajah pada pencapaian seni artistik yang tinggi, di masa itu. Van Gogh telah menunjukkan ketajaman intuisi yang cemerlang, hasil dari ketakpernahpuasan pada torehan di kanvasnya.

Namun, di surat itu, Van Gogh juga merasa kecewa; “tak pernah ada yang tuntas lewat kata-kata,” tulisnya. Ia pun kembali fokus pada lukisan.

Tahun 1881, Van Gogh kembali ke rumah keluarganya di Etten. Di sini, meski masih rajin melukis, hatinya gundah karena terpesona pada sepupunya, Kee Vos, si janda muda. Tapi, kembali ia ditolak, dan Kee Vos menghindarinya, berpindah ke Amsterdam. Van Gogh yang kadung cinta mati, mengikuti ke Amsterdam, tapi Kee Vos tetap menampiknya.

Lelah mengejar Kee Vos, 1883 dia kembali ke Etten. Di saat inilah, dia sangat suka memakai warna-warna gelap, cokelat, dan hijau tua; warna-warna yang merepresentasikan kegundahan jiwanya. Lukisan terbaik di masa ini adalah “Willows”.

1886, dia pergi ke Paris melawat Theo, dan tertarik dengan perkembangan teknik lukis di sana. “Potato Eaters, Pemakan Kentang” adalah lukisan terbaik di masa itu. Banyak pengamat yang mencari rujukan Van Gogh atas lukisan itu, tapi tak menemukan referensi apa pun. Lukisan itu yang semula diyakini mereferensi ritual keagamaan pun akhirnya tak terbuktikan.

Jiwa yang rindu pasangan

Paris ternyata menjadi surga bagi jiwa Van Gogh. Di sini, asmara tak lagi memesonanya. Kehidupannya menjadi begitu padat, bergaul dan berdiskusi dengan seniman, menceburi segala kemunginan pencapaian, dan meracik warna-warna baru, dengan teknik yang juga baru. Dua tahun dia bergerak, dan lukisannya berubah terus, mencari bentuk. Warna-warna muram yang semula mendominasi, perlahan luntur, kian terang, dan unsur permainan cahaya melatari karyanya. Ketenangan, pemandangan di dalam kafe, angin yang mengelus ujung pepohonan, dan bebungaan rekah yang memancarkan banyak warna saat menjilati cahaya matahari, menjadi fokusnya. Lukisan di masa ini adalah pembalikan dari lukisan sebelumnya, cahaya muram dari pekerja tambang, dan kekelaman dari batinnya yang didera cinta.

Namun, kemahiran dalam warna ini tak memuaskan Gogh karena ia melihat ketaksempurnaan dalam teknik sapuannya. Ia pun mempertajam garis sapuan, membentuk lajur-lajur khas dengan sapuan tegas melibas, ditingkahi warna terang garang.

Ia sempat kembali ke kampungnya, ketika ayahnya meninggal. Namun, delapan bulan saja ia bertahan, dan ia kembali ke Paris. Tapi, selama di Antwerp itu, pencariannya pada warna menemukan pendedahan yang lebih dalam dan tajam, dan ini mendorongnya untuk mengeksplorasi ke tingkat yang lebih lanjut, warna sebagai titik api filosofi. Ia tercatat pemakai warna paling berani dan rajin, dan menggemborkan bahwa warna tak hanya seperti apa yang tampak, warna juga menyiratkan “sesuatu” yang tak tampak. Warna adalah jembatan untuk realitas yang tak tertaklukkan mata.

Dua tahun itu, karyanya seperti ternak yang beranak pinak. Dari bulan Februari 1886 sampai Desember 1887, ia telah menghasilkan 90 sket dan 100 lukisan, sebelum epilepsi merubuhkannya. Penghasilannya, justru kebalikan dari produktivitasnya. Itu karena ia selalu merujuk harga lukisannya dengan standar nilai lukisan Clude Monet. Tentu, di masa itu, sangat sedikit yang mau membeli lukisannya.

Selepas serangan epilepsi pertama itu, gairahnya justru meledak. Dalam masa Februari 1888 hingga Mei 1889, ia menghasilkan 200 lukisan dan puluhan sket. Beberapa karya di masa ini, lepas dari sindroma kegilaan karena kejang epilepsi, dinilai terbaik. Bahkan, hasil karyanya di Arles, menjadikannya sebagai raksasa seni lukis masa itu, mulai dihormati, dipuja dan dikagumi. Kenikmatan yang hanya ia nikmati setahun.

Serangan sawan yang kian menghebat dan produktivitasnya yang kian keras, membuat mutu karyanya dinilai terpengaruh oleh “kegilaannya”. Tapi, lepas dari peristiwa pemotongan sebelah telinganya di Arles, tak ada apa pun yang dapat menghentikan gairahnya ketika melukis. Setiap kali epilepsi itu berlalu, ia kembali dapat tersenyum, memegang kuas, dan mendedahkan cat dengan riang, bermodal semangat yang tak padam, sampai pengawal menghentikannya karena makan, atau hari yang telah meninggalkan malam. Ia waras, sangat waras, sebagaimana terlihat dari surat-suratnya pada Theo, juga penjelasannya atas maksud lukisannya. Lukisannya matang, sangat matang, gemilang, meski dia akui, kematangan teknik dan warna itu lahir dari kegagalan dirinya, kegalauan hatinya.

Mungkin, penderitaan batinlah yang menghidupkan lukisan Van Gogh. Dia acap merasa kesepian. Hanya epilepsi yang setia menemaninya. Banyak lukisan di masa akhir hayatnya, berisi gambar bilik tidurnya yang terang, tapi kosong; hasrat kerinduan akan seorang teman. Sungguh, lukisan itu ceria, tapi terdapat tanda dari perasaan kosong dan kesepian yang nelangsa. Bilik yang sempit terang, dengan perabotan yang selalu ia buat berpasangan; dua bantal, dua kursi, juga lukisan yang dia gantung berpasangan. Representasi dari kerinduan dan kepedihan batin.

Bahkan, lukisannya yang paling terkenal, “Sunflowers, Bunga Matahari”, yang menonjolkan warna kuning keemasan, adalah bagian dari obsesi Van Gogh. Dia meletakkan bunga itu di depan biliknya, membiarkan disiram matahari, dan mengamati pertumbuhan bunga itu dengan saksama, perubahan daun dan dan warna. Satu hal yang membuat dia terpesona adalah warna keemasan, kegemilangan bunga itu, di hidupnya yang tak lama. Van Gogh merasa, dia pun akan begitu, meraih gemilang, di usia yang tak perlu lama, seperti bunga matahari itu.

Dan kita tahu, Van Gogh tak salah, tak pernah salah….

Jalan Sunyi Van Gogh

August 6, 2008

Kesakitan adalah energi, kematian selalu membebaskan. Van Gogh tahu betul itu. 27 Juli 1890, setelah serangan epilepsi yang hebat, ia keluar dari rumahnya, dan berjalan beberapa ratus langkah. Langit di atas tubuhnya hitam, dan kakinya berhenti di kawasan ladang gandum. Ditariknya sepicuk pistol dari kantong, dia tempelkan ke perut kanannya, dan tersenyum. Selebihnya adalah dor!

Tubuh van Gogh limbung, meski tak jatuh. Dengan menyeret langkah, dia kembali ke biliknya, dan terjerembab di kasur. 36 jam kemudian dia mati, di usia yang begitu muda, 37 tahun.

Kematian selalu membebaskan, van Gogh yakini itu. Sebelum bunuh diri itu dia rencanakan, sebuah lukisan terakhir telah dia persiapkan, lebih sebagai tanda, lukisan “Ladang Gandum dan Gagak.” Dalam lukisan yang muram itu, van Gogh adalah gagak yang terhalang awan hitam, di tengah kekayaan gandum. Dia ingin lepas, dan maut, sungguh, salah satu jalan, yang indah. Tentu baginya.

Sebelumnya, maut juga telah lama membujuknya.

Ketika 8 Mei 1889 ia dimasukkan ke rumah sakit, dengan sebilah bilik untuk kerja, van Gogh tahu betul makna bebas. Dia acap tampak ke luar bilik, hanya untuk berjalan mengelilingi kamar asrama yang kosong, dengan pandangan yang hampa. Dan setelah sawan akut itu reda, ia dibolehkan pulang, berobat jalan. Kehidupan selanjutnya, lebih sebagai siksaan, ketika dia diharuskan membawa pengawal. Namun, di pagi akhir Mei itu, selepas melukis di sisi pelabuhan di Saint-Remy, sawan itu mengerjainya lagi, sangat parah, sampai airmatanya pun tumpah. Dan ketika cahaya terang sudah dapat memasuki matanya, kematian begitu dia rindukan. Cat lukisnya pun jadi sarana, dia telan. Untunglah, pengawal yang sigap berhasil mengalahkan bujukan maut itu.

Dokter tak menyebut dia gila, dan boleh pulang, meski selalu mendampinginya, tiap makan malam, sampai sebuah siang, ketika maut merayunya, di ladang gandum itu, setahun kemudian.

<B>Gagal sebagai Pendeta</B>

Vincent van Gogh dilahirkan 30 Maret 1853 di desa Groot Zunbert, di daerah Brabant Utara, Belanda. Ayahnya, Theodorus adalah paderi kampung, pendeta, pengikut Gereja Reformasi Belanda, Dutch Reformed Church. Ibunya, Anna Cornelia Carbentus, tak bekerja. Dia punya lima saudara, tiga perempuan Anna, Elizabeth dan Wilhelmien, serta Theo dan Cornelius.

Usia 12 tahun, dia masuk asrama di desa Zevenbergen, berjarak 12 mil dari desanya, sampai dia berusia 16 tahun. Menggunakan pengaruh Pakdenya, Cent, dia diterima bekerja di Goupil dan Cie di Hague. Goupil adalah pusat restorasi lukisan, khusus untuk perbaikan lukisan-lukisan terbaik. Empat tahun di sana, atas prestasinya yang baik, van Gogh dipindahkan ke kantor pusat Goupil di London, Mei 1873 dengan gaji 90 lira setahun. Di kota ini dia menyewa kamar di rumah Mrs. Loyer yang mempunyai anak perempuan cantik, Ursula/Eugenie, yang membuat dada van Gogh membuncah, jatuh cinta. Ini cinta pertama van Gogh, yang bertepuk sebelah tangan, juga menjadi awal kegagalannya berhubungan dengan wanita.

Kegagalan cinta ini amat memengaruhi Gogh. Atas pengaruh Cent, dia pun dapat dipindahkan ke cabang Goupil di Paris untuk perbaikan batinnya. Di sini dia tak tertolong, dan setelah tiga bulan percobaan, kinerjanya tak juga membaik, Goupil mengeluarkannya. Kariernya sebagai “ahli reperasi” lukisan pun tamat.

Tak memunyai rencana, Gogh pergi ke Inggris, dan bekerja paro waktu sebagai guru di sebuah asrama. Tak lama, dia pun pindah dan mengajar di sebuah SMA di Isleworth.

Kehidupan masa kecilnya sebagai anak pedeta membuat dia ingin mengabdikan diri untuk tugas pelayanan. 1878 dia berusaha melamar masuk sekolah teologi, tapi ditolak. Namun, dia tak putus asa, dan menjadi pendeta, berdakwah keliling, dengan kehidupan yang serba hemat, menabung, yang kemudian dia dermakan untuk kaum papa.

Namun, van Gogh adalah anomali. Dakwahnya selalu gagal. Ini karena Gogh terlalu ketat dan menerapkan ajaran Kristiani secara bulat-bulat. Puncaknya, ketika dia berdakwah di kalangan petani dan penambang batu bara di Borinage, Belgia Selatan, dia diusir karena ajaran yang terkesan menakutkan.

Usianya baru 25, dan dia mulai putus asa.

Dua tahun berikutnya adalah masa yang sulit. Ketika menyadari sisi sosialnya amat buruk dan seni komunikasi serta pikirannya tak dapat diterima masyarakat, van Gogh mulai mengikhtiarkan cara lain. Dia masih merasa simpati pada kesengsaraan kaum tadi dan penambang, meski tak tahu harus bagaimana cara menunjukkan simpati itu. Tapi, di puncak sedih itu, keisengan van Gogh untuk menumpahkan risau melalui kanvas membuka satu kesadaran baru: para petani dan penambang menyukai curahan kuasnya, sesuatu yang semua tak dia bayangkan.

DI usia 27 tahun, dia memulai niat baru.

Dengan bantuan seorang penambang yang bersedia menyewakan rumahnya dengan harga murah, serta bantuan dana dari ayahnya, van Gogh membuka “studio” pertama di Borinage. Dia melukis siang-malam, hanya untuk mencari kesamaan kiblat gayanya dengan pelukis lain. Perubahan ini sangat didukung keluarganya. Kakaknya, Theo, mengantar puluhan lukisan duplikat dari Paris untuk dia pelajari. Dia juga mendapat teks-teks lukisan dari pengurus Goupil di Hague, terutama tentang garis perspektif dan teks anatomi. Tak cukup hanya itu, Theo bahkan mengundangnya melanglang ke Paris untuk meluaskan referensinya di pusat seni dunia itu. Van Gogh menolaknya. Sebaliknya, di musim panas 1880, dia malah menempuh jalan sunyi, pergi ke Brussel, Bergia, dan tinggal di hotel termurah. Hampir setahun dia di sini, hanya untuk mematangkan teknik sapuan dan mempelajari pengaruh warna secara lebih filosofis pada lukisannya, bergelut siang malam, dan menulis ratusan surat kepada Theo untuk melaporkan perkembangan yang telah dia capai.

Di Brusel inilah tahap pertama kematangan van Gogh, yang kelak dia lanjutkan dengan belajar pada teknik Monet.

Pencerita yang Luar Biasa

September 12, 2005

PELABUHAN Jeddah, 1923.

Kapal haji milik Chasan Imazi “Bombay” melempar sauh. Dan penumpang kapal, para jamaah haji yang akan pulang ke Indonesia, bergegas naik. Satu jam kemudian, penumpang yang naik mulai menipis. Tapi di dermaga, satu keluarga asal Rembang, Jawa Tengah, masih tak bergegas naik.

Sirena kapal berbunyi, kapal akan bergerak. Tapi, keluarga yang berjumlah enam orang itu tak juga beranjak. Semua tampak sibuk merubung sang ayah, yang sekarat meregang nyawa.

Tapi, kapal tak bisa menunggu, tangga mulai akan dilepas. Mereka panik, dan menyerah. Dengan airmata bercucur, tangis yang pecah, mereka bergerak mengejar kapal, meninggalkan sang ayah yang sudah menjadi jenazah, di tangan seorang syekh.
Keperihan itu paling mencekam bagi Mashadi dan Hj Chadidjah. Tiga adik Mashadi masih terlalu kecil untuk mengerti duka itu. Mashadi, yang sesudah dewasa nanti menjadi KH Bisri Musthofa, baru berusia 8 tahun, adiknya, Salamah 5,5 tahun, Misbah 3,5 tahun dan Ma’sum baru 1 tahun. Mereka sedang menunaikan ibadah haji.

Mereka memang dari keluarga yang berada. Tapi, usai kematian ayahnya, H Zaenal Musthofa, babak kehidupan Mashadi dimulai. Ia diasuh N Zuhdi, kakak tirinya, anak ayahnya dari istri pertama, Dakilah.

Mashadi bukanlah anak pesantren. Dia paling ogah mengaji. Seusai tamat sekolah Ongko Loro misalnya, ia dikirim ke pesantren Kajen asuhan Kiai Chasbullah, tapi tak betah. Ketika pindah ke pesantren Kiai Cholil Kasingan, di Rembang, dia tak juga senang.

Dalam biografinya, Mashadi mengaku belajar di pesantren amat sulit, terutama nahwu dan sharaf. Lebih lagi, Kiai Cholil di mata Mashadi waktu itu, sangat angker dan menakutkan. Mendingan tak usah mengaji daripada dipukuli saat mengaji, begitu batinnya.

Tapi, akhirnya Mashadi kembali ke Kasingan, meski menghindari Kiai Cholil. Dia memilih mengaji pada santri senior, Sudja’i, ipar Cholil. Dan secara nekat, Mashadi mengaji kitab Alfiyah Ibnu Malik, kitab Nahwu 1000 nazham.
Mashadi berhasil. Dia bahkan tampil sebagai santri yang paling pintar pelajaran nahwu, dan mendapat posisi lurah pondok, pengulang pelajaran kiai.

1932, Mashadi meminta restu kepada Kiai Cholil akan pindah ke Pesantren Termas, asuhan Kiai Dimyati. Cholil tak mengabulkan, bahkan meminta Mashadi menjadi menantunya.

Juni 1935, masih berusia 20 tahun, Bisri menikahi Ma’rufah Binti Cholil, yang baru berusia 10 tahun.

Menjadi menantu Kiai Cholil lebih banyak tak enaknya bagi Birsi. Ini karena para santrinya menuntut ia mengajarkan kitab, yang bentuknya saja ia tak pernah lihat. Sebagai akal, Bisri lalu mengaji di Kranggeneng bersama Kiai Kamil, dan mengulang pelajarannya di depan santrinya. Tapi acap, kalau pengajian Kranggeneng libur, ia tak mengajar, karena tak punya bahan.

Untuk menghindari beban ini, berbekal uang berjualan kitab Bijuraimi Iqna’, ia “melarikan” diri ke Mekah, 1936, menunaikan ibadah haji. Di sana, Bisri menjadi khadam di rumah Syekh Chamid Said.

Saat pulang, mengingat ilmunya yang pas-pasan, ia tak kembali, bahkan bersama Suyuti Cholil dan Zuhdi dari Tuban, berguru kepada Kiai Bakir, Syekh Umah Hamdan al-Maghribi, Syekh al-Maliki, Sayid Amin, Syekh Hasan Masysyath, Sayid Alawie dan Kiai Abdul Muhaimin. Tahun berikutnya, Bisri pulang.

Menjual Gigi Emas

8 Desember 1941, Jepang mengumumkan perang melawan Sekutu, dan santri pesantren diminta siap menjadi milisi. Situasi kian mencekam, Bisri dan keluarganya mengungsi dari Rembang. 1943, Jepang mengadakan latihan alim ulama di Jakarta selama satu bulan. Angkatan pertama dari daerah Pati diwakili KH A Jalil Kudus, dan angkatan kedua diwakili Bisri Musthofa. Selain orang Jepang, KH Wahab Chasbullah, H Agus Salim dan KH Mas Mansur juga menjadi pengajar.
Setelah itu Jepang membentuk Masyumi, dan menunjuk KH Hasyim Asy’ari dari Jombang sebagai Ketua dan Ki Bagus Hadikusumo sebagai wakil. Birsi menjadi ketua daerah kabupaten.

Tapi keadaan saat itu amat mengerikan. Harga melonjak, makanan tak terbeli. Keluarga Bisri pun terpaksa makan jagung. Selain itu, kornea Bisri ternyata rusak, dan perlu dicangkok. Tapi, mereka malah ke Jombang, menemui tabib. Enam bulan mereka menunggu kornea, dan tinggal menumpang di rumah Mak Puk. Mereka papa, dan untuk menyambung hidup, Bisri menjual semua pakaiannya, kecuali satu sarung, kaos dan baju dril. Terakhir, ia mencabut dan menjual gigi emasnya, dengan harga Rp 400,-

Bisri selanjutnya membuat kerajinan tas, dari modal Rp 1000 yang diberikan Mak Puk. Tapi, PKI memberontak, dan bersama laskar Hizbullah, Bisri kembali ke Rembang. Ia kemudian berjualan garam, dan gagal. Pindah ke Sulang, Cabean, ke Trembes Gunen, lalu ke Sedan, dan menetap di Sarang, dengan amat menderita, hanya makan jagung pemberian orang. Uang Rp 200, dari Mbah Imam pemimpin Pesantren Sarang, ia belikan nasi, dan Rp 40 siasanya, ia belikan jagung, merica, yang ia goreng gosong, lalu dicampur gula dan minyak, dan ia jual dengan nama Ma’jun, jamu obat kuat lelaki. 1949, Bisri terpilih sebagai Penghulu Darurat, dengan kekuasaan meliputi seluruh kabupaten. Kehidupannya mulai membaik.

KH Bisri Musthofa adalah orator, mubaligh yang mendekati sempurna, pengarang yang amat produktif. Ia bisa bicara apa saja, dengan kemampuan panggung yang tak terbantahkan.

Di podium, dia mampu menyedot emosi massa, menghanyutkan dalam arus cerita yang luar biasa. Suaranya seakan irama gaib, yang membuat wanita, terutama jika ia bercerita tentang Ratu Bilqis yang dipecundangi Sulaiman, menarik kainnya, meniru sang ratu yang takut basah, di istana kaca Sulaiman. Ia tak sekadar orator, imajinasi dan kekayaan referensinya, membuat pendengar diajak masuk menjadi tokoh cerita.

Riwayat kiai ini amat menarik, karena ia seakan menyimpang dari jalan hidup kiai pesantren lainnya. Dia misalnya, mengatakan ikhlas adalah kondisi ketika orang merasa lega atas hasil ikhtiarnya. Ia adalah kiai yang tak risi berbicara motif ekonomi.

“Menulis dengan niat mencari nafkah untuk kehidupan keluarga adalah hal yang wajar,” kata almarhum, suatu saat kepada KH Ali Ma’shum Krapyak, yang menegurnya karena sibuk berceramah, tak sempat mengajar santrinya.

“Meskipun saya tak mengajar, sesungguhnya para santri tetap mengaji pada saya, termasuk santri sampeyan,” katanya, yang memang buku-buku karyanya, dipakai di Krapyak. Kiai yang lahir di Pati 18 september 1886 ini juga aktif di Partai NU, lalu ke PPP tahun 1973. Dia adalah juru kampanye yang andal. Kariernya di di NU dan partai melesat, sejak ia menanggalkan posisinya sebagai Kepala Kantor Agama Rembang.

Tapi, seminggu setelah ia memberangkatkan putranya, Musthofa Bisri, ke Arab Saudi, di masa kampanye, 16 Pebruari 1977, sakit menerjangnya. Dan karena terlalu parah, dokter angkat tangan, Yang Kuasa memanggilnya. Partai PPP pun berduka, kampanye di Jateng seperti tanpa suasana. Ia pergi meninggalkan 8 anaknya, KH Cholil Birsi, KH Musthofa Bisri, KH Adieb Bisri, Audah, Najihah, Labib, Nihayah, dan Atikah.

“Yang patah memang bisa tumbuh, yang hilang dapat berganti. Tapi seorang Bisri Musthofa? Ah, tidak mudah mendapatkan penggantinya,” kata KH Saifuddun Zuhri, menggambarkan rasa kehilangannya.

Pangeran Pewarta Kecemasan

August 25, 2005

JIKA ada satu sosok yang mampu mengubah ketakutan, nyeri dan sadis, juga pedih, menjadi candu ketagihan, memesona dan menghipnotis, jelas Stephen King orangnya. Puluhan novel “yang mencekam sampai ke mimpi Anda” lahir dari tangannya, dan antrean pembaca tetap saja ada, rela mengeluarkan uang membeli ketakutan tersebut. Kenyataan inilah yang membuat banyak pengamat cerita menjuluki Stephen sebagai raja kegelapan, pengeran kengerian di dekade ini.

Mei tiga tahun lalu, ketika ia meluncurkan Dreamcatcher, banyak yang tak yakin pesona misterinya masih menakjubkan. Tapi, begitu toko-toko buku meminta terus cetak ulang, tak ada lagi kesangsian bagi ahli bahasa ini, novel itu bahkan mencatatkan diri terlaris di New York Times.

Sebelum Dreamcatcher dibincangkan, Stephen sudah menggebrak, meluncurkan novel maya, electronic book, The Plant, di internet, sebagai cerita bersambung, di situs pribadinya. Ia meminta para pembaca yang men-download cerita itu hanya membayar US$ 1 saja. Hasilnya, sampai 6 bulan pertama, ia meraih US$ 463.832, sebuah hasil yang amat fantastis!

Namun, karena menilai karya itu lebih banyak dicuri daripada dibayar, King hanya menampilkannya selama 6 bulan itu, dan menarik dari situsnya. “Masih selalu ada orang yang keberatan membayar satu dolar untuk sebuah petualangan kecil yang amat memesona. Ini mengecewakan,” katanya.

Sebelum The Plant, sebenarnya ia telah mencoba menjelajahi internet dengan karya magisnya, Riding the Bullets, dan sukses. Ini sekaligus juga menandai kiprah seorang penulis yang memakai media maya itu sebagai ajang distribusi dan “cetak”. Sejak awal ia memang telah yakin, internet adalah masa depan yang dapat memecahkan masalah perbukuan, distribusi dan harga. Melalui dunia maya itu King bertekad memperluas bentangan pengaruh kemisteriusan dan ngeri, yang menjadi spesialisasinya.

Satu Rumah Satu Novel

King lahir di Portland, Maine, Amerika Serikat, 1947. Sejak kecil, ia telah tak lagi mengenal bapaknya, dan bersama kakaknya, David, ia diasuh oleh ibunya, sebagai orang tua tunggal. Sampai usia 1 tahun, ia mengikuti ibunya yang bertugas sebagai perawat di Fort Wayne, Indiana, serta di Stratford, Connecticut, AS. Selanjutnya, sampai dewasa, ia menetap di Maine, karena ibunya kembali ke rumah nenek dan kakeknya yang telah renta dan butuh perawatan.

Setelah kakek-neneknya meninggal, ibunya tetap memilih Maine sebagai tempat tinggal. King malah berangkat ke Durham, dan kemudian ke Lisbon Falls High School sampai tahun 1966, mempelajari tata bahasa.

“Di masa itu kepalaku mulai dipenuhi ledakan-ledakan kecil, sebuah arus cerita,” kenangnya.

Memasuki tahun kedua di Universitas Maine, Orono, namanya mulai terkenal, karena aktif menulis di koran kampus, The Maine Campus.

Di kampus ia juga aktif berpolitik dan menjadi anggota senat. Dia juga bersuara keras saat Amerika berperang di Vietnam, menentangnya. “Itu perang yang tidak konstitusional,” kecamnya.

Setelah lulus sebagai sarjana muda Bahasa Inggris tahun 1970, ia langsung mengajar di sekolah menengah atas, sebagai honorer. Setahun kemudian ia menikah, padahal pekerjaan sebagai guru tetap tak juga ia dapatkan. Untuk membiayai kehidupan keluarganya, tak ada jalan lain, ia menjadi binatu.

Masa itu dikenang King dengan penuh senyum karena ketika menjadi binatu itulah, saat kesulitan menghadang, ide-ide bepercikan, memijar di kepalanya. Ia pun menulis cerita pendek, semata-mata hanya untuk menambah penghasilan. Dengan malu, juga harap cemas, ia tawarkan cerita-cerita pendek itu ke belbagai majalah, dan kemudian diterbitkan dalam antologi Night Shift. Ini tangga awal perjalanan kariernya, yang King juga tak pernah duga.

Setahun kemudian, ia menjadi guru tetap di sekolah menengah di Hampden Academy, Maine. Sepulang mengajar, King selalu kembali ke kamar kerjanya, menulis sepanjang malam, membuat cerita pendek dan novel. Namun, baru pada tahun 1973, penerbit Doubleday & Co bersepakat menerbitkan novel perdananya, Carrie.

Membaca gaya bercerita yang dia kembangkan, penyunting buku King menganjurkan agar ia secepatnya keluar dari profesinya sebagai pengajar, berkonsentrasi penuh sebagai novelis. Dan King, tanpa ragu, patuh.

Sejak itulah, ia fokus. Tahun berikutnya lahir Second Coming dan Jerussalem’s Lot, yang kemudian ia ubah menjadi Salem’s Lot. Kedua novel ini ia kerjakan di garasi rumahnya!

Carrie dipublikasikan pada musim gugur 1974, dan ia segera berpindah dari Maine menuju Boulder, Colorado. Mereka tinggal di sini setidaknya satu tahun, dan begitu karyanya The Shinning terbit, ia pun pindah lagi, kembali ke Maine, membeli tanah dan rumah di Lakes Region, bagian barat Maine. Di sini kembali ia melahirkan The Stand dengan latar cerita di Boulder, dan novel mencekam lainnya, Dead Zone. Ia pun pindah rumah lagi.

Tahun berikutnya, 1980, ia melahirkan Firestarter, dan seterusnya untuk setiap tahun, Cujo, The Dark Tower, Cristine, Pet Sematari, The Talisman, IT, The Eyes of the Dragon and Misery (1987). Dan, untuk satu cerita, setidaknya ia akan pindah rumah satu kali. Karena itu, banyak yang mengatakan setiap tempat yang ia singgahi atau ia beli, akan selalu menjadi bagian dari ceritanya. Kegemarannya berpindah bahkan menjadi cerita tersendiri di mata penggemarnya, untuk menebak apa cerita yang akan ia buat dengan latar belakang daerah yang baru ia tinggali.

Kepiawaiannya itu bukan hanya menambah tebal pundi-pundinya, tapi juga melambungkan namanya. Naskahnya pun diminta produser Hollywood untuk difilmkan, dan hebatnya, juga meraih sukses!

Sejumlah novelnya yang diangkat ke layar perak adalah Carrie, The Dead Zone, dan The Shinning. Ia juga menulis skenario dua film, Knightriders dan Creepshow. Novelnya The Body diadaptasikan ke film sebagai Stand By Me. Ia malah menjadi seorang menteri untuk filmnya Pet Sematary, dan berkeliling universitas memberi kuliah proses kreatif dan jalan lahirnya ide.

Sampai kini, terhitung ada 60 novel dan cerita pendek yang telah lahir dari tangannya, dan semua mendapatkan tanggapan yang tak pernah mengecewakan, bahkan kian melambungkan namanya. Tak heran, setidaknya 10 buku pun telah dibuat orang lain untuk memaparkan pribadi, perjalanan karier dan proses kreatif, serta ide-ide dari pangeran kegelapan ini.

Kepalan yang Bekerja Sendiri

August 10, 2005

SEBELUM bel berbunyi, Ray sempat melontarkan jabnya. Dia lalu tersenyum, mengepalkan tangan. Pelipisnya biru membengkak, matanya menyipit lebam, tapi ia seperti tak merasakan. Ia bahkan tak kembali ke sudut ring, mendatangi dan memeluk lawannya. “Maaf, Hagler, aku kini membuat sejarah.”

Lawannya, “si kulit badak” Marvin Hagler, hanya menunduk. Dia tak sempat memberikan jawaban karena lelaki yang menyalaminya tadi, Sugar Ray Leonard, yang telah sibuk menghadapi teriakan banyak orang, official-nya yang mengerubuti, menyambut kemenangannya.

Itu memang hari yang bersejarah. 6 April 1987, di dalam ring di Caesars Palace Hotel, Las Vegas, Ray menunjukkan dirinya masih yang terbesar. Padahal, ia telah meninggalkan ring 5 tahun lamanya. Tak banyak petunju yang mampu melakukan hal semacam itu. Hanya tercatat dua nama, Sugar Ray Robinson di tahun 1950-an, dan si mulut besar Muhammad Ali, yang meng-KO-kan Joe Frazier.

Lama absen dari ring, bukan hanya soal waktu dan latihan, juga mental. Dan masalah ini, banyak petinju yang gagal. Kegamangan menginjakkan kaki di tengah puluhan pasang mata adalah satu hal. Menjawab pertanyaan pers yang meragukan, bahkan menyulut emosi, adalah hal lain. Kini Tyson membuktikan betapa beratnya hal itu. Tapi tidak bagi Ray. Ia melenggang, seolah begitu mudah, mirip keajaiban.

Padahal, siapa yang tak tahu Hagler; tubuhnya pejal berotot, tangan kanan-kirinya memukul keras. Mentalnya singa, ia telah 66 kali naik ring, 62 menang, 52 dengan KO, dan hanya 2 kali kalah, itu pundi awal karier.

Ray adalah kebalikannya; ceking, dan ia harus menaikkan berat badan untuk menantang Hagler, dan tua. Tapi ia punya otak, dan kelincahan kaki. Ia pun telah melatih diri selama setahun untuk partai itu. “Pertandingan di ring bukan cuma mengadu fisik. Ini perang psikologis,” ia berkata, “Saya pun belum digerogoti karat.”

Mengikutkan takdir

Seumpama tak dihisap ring, Ray hanya akan jadi pendeta. Di masa kecil, ia adalah penyanyi di “rumah Tuhan”. Nama lengkapnya pun, Ray Charles Leonard, meniru penyanyi pop terkenal, Ray Charles di tahun 1950-an, yang populer dengan “I Can’t Stop Loving You”.

Ibunya, Getha, memang menginginkannya menjadi penyanyi, saat melahirkannya di kota kecil Wilmington, 17 Mei 1956. Ayahnya, Cicero, hanya tersenyum melihat keinginan istrinya.

Cicero yang buruh dan Getha yang pembantu di rumah sakit, tak memberi kemewahan pada Ray. Ia melewatkan masa kanak-kanak yang biasa di Washington DC. remaja, ia ikut hijrah ke Palmer Park di Maryland. Ia anak yang saleh.

“Saya tak pernah punya masalah dengan dia. Dia baik dan agak pemalu,” ibunya mengenang. Ray tak suka berkelahi.

Namun, ketika teman-temannya mengatakan dia banci, perasaanya terusik. Oleh Roger, kakaknya, ia diajari bertinju, kala usianya 14. Dan takdir menuntunnya, postur tubuhnya berkembang dengan bakat itu, diasuh oleh Janks Morton, mantan petinju amatir secara sukarela, di taman rekreasi kota.

Ia lalu terinspirasi pada Sugar Robinson, juara dunia 5 kali. Untuk mendapatkan tuah, Ray menambahkan kata Sugar di depan namanya.

Di dunia amatir, ia tak punya lawan. Puncaknya, ia dikirim ke Olimpiade Montreal ‘76. Ia mendapat emas di kelas welter ringan. Tapi, gayanya yang menyengat bak lebah, langsung menjadi pujaan Amerika.

Tapi, ia malah berniat menggantung sarung tinju. “Keputusan ini mutlak. Impian saya telah tercapai, perjalanan tinju telah usai,” katanya. Ia bersiap sekolah di University of Maryland.

Tapi, takdir tak boleh ditolak. Ibunya masuk rumah sakit, ayahnya diserang spinal pneumonia. Ia tak punya pilihan selain bertinju untuk membiayai mereka. 1977, tangannya ia kepalkan. Luis Vega menjadi lawan pertama, 5 Februari 1977, dan ia pecundangi dalam 6 ronde. Tahun itu, ia bertarung 6 kali, menang semua.

Bayarannya melesat, gaya bertinjunya memang memikat. Di tahun itu ia telah dibayar 40 ribu dolar. Bayangkan, Hagler saja hanya mendapat 1500 dolar di tahun yang sama. Hebatnya, saat kalah dari Roberto duran Juni 1980, ia bahkan memecahkan rekor bayaran, 9,7 juta dolar. 5 bulan kemudian, Duran ia jungkalkan di ronde ke-7!

Bayarannya hebat, kariernya pun melesat. Dua tahun saja, ia sudah juara dunia kelas welter WBC. Ia menang KO atas jagoan saat itu, Wilfred Benitez. Pertarungan 15 ronde mereka bahkan menjadi partai klasik dalam dunia tinju.
Ray kian merajalela. Ia naik kelas ke menengah ringan, tetap juara. Dan semua itu takkan terjadi tanpa campur tangan Ali.

April 1976, Ali mengenalkannya pada Angelo Dundee, pelatih Ali juga, yang ingin melatih gaya bertinjunya. Dan memang, gayanya kian tak dapat dikalahkan.

September 1981, ia jungkalkan si tukang jagal Thomas Hearns, ia mendapat 10 juta dolar. Tapi, ia harus menangis, kemenangan itu meminta retina mata kirinya yang sobek. Ia terancam buta.

9 Mei 1982, operasi retinanya sukses. Dan sebagai tanda syukur, ia mengundurkan diri dari ring. Tapi, kegilaan dunia tinju, gemerlap celebration dan kibar dolar, acap menggodanya. Hanya 5 tahun Ray kuat beristirahat, 1987, ia kembali. Istrinya, Juanita, menangis darah melarang. Tapi Ray meyakinkan, tinju adalah dunianya.

Kevin Howard ia tantang, dan dia jungkalkan, KO. Kegilaannya bertambah, dan ia sesumbar akan mengalahkan Hagler.
Juanita menangis memohon Ray membatalkan partai itu. Hagler saat itu tak terkalahkan, tukang bantai nomor wahid di kelas menengah. Ray pun, harus menambah bobot badannya 6 kg untuk masuk ke kelas itu. Tapi Ray yakin, ia akan dapat mengalahkan si badak itu. Di mana pun, kapan pun, ia selalu meyakinkan Juanita.

“Aku tak akan bisa bertinju tanpa restunya. Aku akan terus membujuknya. Tapi jika dia tetap bilang tidak, aku akan patuh.”

Juanita tahu dunia Ray, cita-cita terbesar suaminya. Ia pun mengizinkan. Tapi, WBA dan IBF justru menolak partai itu. Kedua badan tinju ini takut retina Ray akan jadi korban. Ray bergeming. Ia yakin menang.

WBA dan IBF gantian menekan Hagler. Hagler bahkan diwajibkan bertarung wajib dengan juara Inggris, Herol Graham. Hagler menolak, dan membiarkan dua gelarnya dicabut. Ia lebih memilih Ray karena ingin menjatuhkan si Mr Middle Class itu –sindiran Hagler karena bayaran Ray yang selalu lebih mahal.

Dalam jumpa pers sebelum bertanding, Ray bahkan tak gusar ketika diejek Hagler. Ia bahkan tersenyum saat wartawan Washington Pos mencemoohnya: “Berbagai taktik dan strategi bisa saja Anda kuasai. Tapi bagaimana mengatasi karat di tubuh Anda?” Pasar taruhan menyepelekannya, memasang 4:1 untuk kemenangan Hagler. Tapi, dengan senyum Juanita, Ray membalikkan semuanya.

“Ketika berada di ring, semuanya beres. Kepalan ini tiba-tiba saja bekerja sendiri tanpa disuruh,” katanya usai pertandingan, saat istrinya mengelap darah di sudut bibirnya. Ya, Ray adalah amsal tentang keberhasilan sebuah niat, semangat, dan doa sang istri.

« Previous PageNext Page »